Filosofi Permainan Trdisional Kalsel
Filosofi Permainan Trdisional Kalsel, Balap Karung, Mengingatkan Masa Penjajahan Jepang
filosofi yang terkandung dalam lomba balap karung sangat dalam, khususnya untuk mengingat kembali masa-masa kelam saat penjajahan Jepang.
Penulis: Syaiful Anwar | Editor: Eka Dinayanti
Editor: Eka Dinayati
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dibandingkan permainan tradisional lainnya, lomba balap karung lebih populer.
Ini disebabkan setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, seluruh pelosok di Indonesia menggelar lomba balapan karung.
Menurut Ketua Olahraga Bina Masyarakat Alalak Utara (Orbinatra) Alalak Utara Banjarmasin, Wahidah Onny, filosofi yang terkandung dalam lomba balap karung sangat dalam, khususnya untuk mengingat kembali masa-masa kelam saat penjajahan Jepang.
Baca juga: Filosofi Permainan Tradisional Kalsel, Congklak atau Badaku Mengajarkan Manajemen Kehidupan
Baca juga: Filosofi Permainan Tradisional Kalsel, Egrang Ajarkan Menjaga Keseimbangan Dunia Akhirat
Baca juga: Filosofi Permainan Tradisional Kalsel, Gasing Ajarkan Hidup Selalu Berputar
"Rakyat Indonesia pada masa itu harus menjalani kerja paksa atau Romusha dan terpaksa harus menggunakan karung goni sebagai pakaiannya, karena pemerintah Jepang dengan sengaja menghambat proses distribusi bahan pakaian," ucapnya.
Karung yang biasa digunakan untuk membungkus beras dan gula tersebut, ujarnya, sangat tidak nyaman dipakai karena penuh kutu, hingga menimbulkan berbagai macam penyakit kulit seperti koreng dan gatal-gatal.
Oleh karena itu, lomba balap karung yang dilakukan dengan menginjak dan melompat-lompat di atas karung menjadi simbol rasa kekesalan masyarakat Indonesia akan masa kelam dahulu dan tidak mau mengalami hal serupa seperti itu lagi.
Selain itu, lanjut Onny, masih ada makna lain yang terkandung dalam lomba balap karung, yakni pantang menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Lomba balap karung, peserta harus memasukkan sebagian tubuh ke dalam karung, kemudian berusaha meloncat-loncat untuk bisa sampai di garis finish.
Betapa sulitnya untuk berlari maju ketika kedua kaki terkungkung di dalam karung.
Hal ini juga diibaratkan seperti kebebasan rakyat yang terpasung oleh penjajah untuk menggapai kemerdekaan.
(banjarmasin post.co.id/syaiful anwar)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/lomba-balap-karung2.jpg)