Breaking News:

Opini Publik

Menjadi Pribadi Mabrur Tanpa Berhaji

Memberi makan menjadi poin pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan pahala mabrur

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Usluddin, Dosen LB STIT Darul Ulum Kotabaru Tinggal di Belanda

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pasca-Kemenag RI mengumumkan peniadaan haji tahun 2021 mendahului pengumuman resmi otoritas penyelenggara haji di Saudi Arabia yang berakibat pada timbulnya dinamika isu dalam masyarakat. Ada banyak diskursus yang terjadi seiring dengan arus media sosial memungkinkan semua orang dapat membuat analisis-analisis sendiri. Dinamika isu berujung pada dua sisi pendapat yang saling menguatkan, mereka yang setuju (dengan penundaan haji) dan mereka yang berspekulasi bahwa batalnya haji karena adanya penyelewengan dana haji (distrust). Tak tanggung-tanggung, wacana distrust ini sempat menjadi trending topic di platform Twitter dengan hastag #auditdanahaji.

Dalam masyarakat, haji bukanlah sebatas ritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam rukun Islam yang wajib diyakini sekaligus dijalankan khususnya bagi mereka yang mampu. Namun ada aspek lain yang lebih dominan, yaitu emosiol dan sosiologis. Misalnya dalam masyarakat Bugis dan Mandar, mereka yang bergelar haji memiliki peran vital dan seremonial dibanding mereka yang belum berhaji meski memiliki jumlah harta yang sama. Hal ini terlihat dalam prosesi pernikahan, para haji/hajjah berada di garis terdepan dalam mengantar pengantin pria. Pun demikian ketika ada acara seremonial, haji dan hajjah juga mendapat kursi previlage sebagai tamu terhormat. Bahkan, panggilan haji/hajjah terkandung nilai kesakralan khusus. Ini pula yang jadi alasan ada orang yang tersinggung jika tidak melekatkan haji dalam namanya.

Akibatnya masyarakat terjebat dalam arus simbolisme haji sebab mementingkan aspek simbolitas dibandingkan aspek substansial itu sendiri. Sejarah mencatat simbolisme haji pernah berdampak buruk terhadap masyarakat, ketika Christan Hurgronje (seorang Orientalis Belanda) yang berhasil bergaul dalam masyarakat Aceh pasca lawatannya dari Makkah dan bergelar haji pada masa pendudukan Belanda di awal-awal pra kemerdekaan. Hurgronje meyakini bahwa haji merupakan wadah untuk merebut simpati masyarakat, dengannya dia dapat melakukan berbagai hal untuk memuluskan aksinya untuk membuat huru hara dan melancarkan invasi VOC kala itu.

Haji Mabrur

Bagi umat Islam, melaksanakan haji sebagai sebuah ritus agama, bertujuan untuk mendapat gelar mabrur. Secara istilah, mabrur berarti mereka yang melakukan serangkaian ibadah haji berdasarkan perintah Al-Qur’an maupun apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Penyematan gelar mabrur sebenarnya hak prerogatif Allah SWT, bagi semua jemaah haji yang telah menunaikan ibadah haji sesuai dengan tuntutan syariat.

Ketika pemerintah secara resmi menunda pelaksanaan haji tahun ini, bukan berarti ganjaran pahala mabrur harus kita abaikan. Dalam riwayat Imam Ahmad dikisahkan ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAWtentang pahala haji mabrur. Beliau menjawab bahwa mabrur adalah memberi makan dan memberi kedamaian. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa haji mabrur, yaitu memberi makan dan santun dalam berkata.

Dalam riwayat lain, sebagaimana riwayat Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda bahwa haji mabrur adalah barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan menghindarkan diri rafats dan fusuk maka ia akan dikembalikan pada keadaan sama seperti baru lahir dari rahim ibunya.

Pribadi Mabrur

Sebagaimana yang dijelaskan pada hadist diatas, ternyata untuk mendapatkan pahala setingkat mabrur bisa didapatkan meskipun tanpa berhaji. Apalah artinya jika seseorang telah berhaji tapi melanggar aturan-aturan agama yang lain.

Memberi makan menjadi poin pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan pahala mabrur. Memberi makan sangat berkolerasi dengan situasi pandemik seperti yang terjadi saat ini, apalagi jika merujuk pada berbagai data yang menyebut bahwa ada peningkatan warga miskin atau mereka yang kehilangan pekerjaan karena situasi pandemik. Center Of Reform On Economi menyebut bahwa ada peningkatan 1,13 juta orang miskin (0,41 persen) dan pengangguran terbuka sekitar 3 juta orang (2,2 persen)(bisnis.com 03/05/2021).

Ketika kemiskinan dan pengangguran bertambah cukup signifikan, itu berarti peluangan untuk menjadi agen kebaikan semakin luas. Kabar baiknya, ditengah pandemik inisiatif masyarakat untuk menjadi solusi atas pemenuhan pangan bagi kelompok masyarakay miskin cukup baik. Inisiatif dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk misalnya menyediakan lemari etalase yang memungkinkan masyarakat untuk mengisi (mereka yang ingin berbagi) dan mengambil (mereka yang membutuhkan) makanan sesuai dengan kadar yang diperlukan. Ada pula cara lain, yaitu menyimpan sayur dan lauk-pauk di pagar rumah agar bisa diakses dengan mudah oleh mereka yang membutuhkan.

Hal lain adalah mewujudkan kedamaian bagi orang lain. Aspek ini tidak kalah penting dilakukan dalam masyarakat. Suasana damai dan tenteram menjadi barang mahal khususnya saudara-saudara kita yang tengah terlibat konflik horisontal, seperti di Palestina, Cina Selatan (suku Uighur), Syiria dan berbagai negara lainnya. Tak harus menunggu jadi tentara maupun presiden untuk menjadi agen perdamaian, tapi individu pun sanggup mengemban tugas mulia ini. Hal yang bisa dilakukan misalnya memberikan pemahaman yang baik kepada orang lain tentang berita-berita hoaks-hoaks, objektif dalam berdiskusi dengan orang-orang yang sengaja melakukan provokasi terkait dengan kebijakan pemerintah, dan banyak hal positif lainnya bisa kita lakukan.

Juga, menjaga lisan merupakan faktor ketiga yang disebutkan dalam hadist diatas. Seperti yang kita tahu bahwa lisan memiliki dua sisi (mudharat vs manfaat). Jika tidak bisa menjaganya, akan berefek pada mudharat atau kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Tapi jika terampil dan sanggup menghadirkan ketenangan, bisa menjadi asbab seseorang menjadi pribadi yang disegani dalam masyarakat.

Jika semua aspek di atas dapat kita jalankan baik, maka derajat mabrur dapat kita raih meski ibadah haji tertunda tahun ini. Penundaan haji dapat dimaknai bahwa Tuhan menyuruh kita agar memantaskan diri sebelum datang bertamu di dua kota suci-Nya: Makkah dan Madinah.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved