Breaking News:

Opini Publik

Biblioterapi “Obat” Narkoba (Refleksi Hari Anti Narkoba Internasional)

Melalui HANI ini seluruh warga di dunia diharapkan untuk ikut serta dalam segala upaya untuk mengatasi peredaran narkoba di tengah-tengah masyarakat

Editor: Eka Dinayanti

Oleh : Ahmad Syawqi, Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEPERTI kita ketahui bersama bahwa tanggal 26 Juni merupakan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI). Melalui HANI ini seluruh warga di dunia diharapkan untuk ikut serta dalam segala upaya untuk mengatasi peredaran narkoba di tengah-tengah masyarakat yang dinilai telah membahayakan generasi saat ini dan generasi penerus.

Di tahun 2021 ini, peringatan HANI mengambil tema Share Facts on Drugs. Save Lives yang menekankan pentingnya kesadaran akan fakta mengenai narkoba dan bahayanya serta upaya pencegahan, pengobatan dan perawatan berbasis bukti.

Di Indonesia melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) yang merupakan lembaga pemerintah non-kementerian Indonesia bertugas melakukan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, prekursor dan bahan aditif lainnya kecuali tembakau dan alkohol. Lembaga ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia disamping juga peran serta masyarakat secara aktif untuk bersama-sama dan bekerja sama membantu BNN dalam rangka melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) sangat diperlukan.

Bangun Budaya Literasi Positif
Dalam perkembangan sekarang, istilah literasi tidak hanya sekadar persoalan baca, tulis dan faham tentang tekstual di hardcopy buku-buku tetapi melalui gawai (gadget) instrument digital pun sebenarnya bentuk literasi lain yang dapat dimanfaatkan dalam membentuk karakter generasi “z” membendung ancaman narkoba.

Sesuai dengan perkembangan zamannya, generasi “z” lebih akrab dengan dunia internet yang menjanjikan serba cepat, serba digital dan serba murah untuk mendapatkan informasi apa saja dibanding generasi sebelumnya yang harus mencari buku literatur di perpustakaan, kemudian dengan lamban memahami isinya.

Diakui bahwa saat ini indeks pembangunan literasi Indonesia masih terus ditingkatkan. Bersyukur kita berapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 22 sd 23 Maret 2021 Perpustakaan Nasional RI melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) Nasional Bidang Perpustakaan Tahun 2021. Satu hal yang sangat menarik dalam hasil Rakor tersebut adalah ditetapkannya Provinsi Kalimantan Selatan sebagai provinsi yang memiliki indeks pembangunan literasi tertinggi di Indonesia dengan angka 48,7. Ada pun untuk urutan kedua diduduki oleh Provinsi Bangka Belitung angka 28,83. Lalu diperingkat ketiga ada Provinsi Gorontalo dengan angka 28,18, disusul Provinsi Kalimantan Timur dengan angka 20,78 dan DKI Jakarta dengan angka 18,91.

Di sisi lain, penggunaan literasi digital di Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan luar biasa bersamaan dengan makin meluasnya minat penduduk berselancar di dunia maya bahkan menjadi negara ke-enam dari 10 negara paling banyak menggunakan internet di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil dan Jepang menggunakan jasa internet. Dari 258,3 Juta jiwa penduduk Indonesia, 102,8 Juta penduduk atau 40 persen diantaranya dilaporkan sebagai pengguna internet aktif.

Pengguna internet identik dengan mereka yang terbiasa membaca dan memahami segala konten secara cepat, kapan dan dimana saja karena bentuk sajian digital pada umumnya sengaja dibuat sesederhana mungkin baik berbentuk grafis maupun data. Ini jauh berbeda dengan literasi terhadap buku-buku yang umumnya memakan waktu untuk memperoleh point kesimpulan.

Jika diasumsikan siswa peserta didik yang kini hampir berjumlah 50 juta orang dan jumlah mahasiswa diatas 5 juta orang memiliki gadget, maka kedua kelompok inilah mayoritas pengguna internet di Indonesia sekaligus menjadi obyek utama pembentukan karakter bangsa.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved