Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Tes RT-PCR Masuk Kalteng Dinilai Pengusaha Jasa Pengiriman di Banjarmasin Sangat Memberatkan

Menurut pelaku usaha angkutan barang dan penumpang di Banjarmasin, swab antigen sudah merepotkan, apalagi RT-PCC mahal sehingga menambah pengeluaran.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
ISTIMEWA
Direktur Utama PT Borneo Arta Mandiri (BAM Cargo) Banjarmasin, Nanang Suriyana, mengatakan, kebijakan harus ada hasil RT-PCR di Kalimantan Tengah mengganggu kelancaran usahanya, Selasa (29/6/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memperketat pintu masuk ke wilayahnya.

Pelaku perjalanan darat yang diwajibkan menunjukkan RT-PCR atau surat keterangan negatif Covid-19, mendapat tanggapan dari pelaku bisnis jasa pengiriman barang dan juga Jasa travel di Provinsi Kalimantan Selatan.

Direktur Utama PT Borneo Arta Mandiri (BAM Cargo) Banjarmasin, Nanang Suriyana, mengatakan, kebijakan itu mengganggu kelancaran usahanya.

"Sangat memberatkan tentunya. Tes swab antigen saja sudah membuat repot, apa lagi tes RT-PCR, biayanya sangat mahal," katanya kepada Banjarmasinpost.co.id, Selasa (29/6/2021).

Ditambahkan Nanang, menjadi masalah adalah biaya pembuatan surat tersebut. Biaya operasional akan nambah banyak, waktu pengiriman jadi lambat karena harus menunggu hasil tes terlebih dulu.

Baca juga: Cegah Lonjakan Covid-19, Gubernur Wajibkan Orang Masuk Kalteng Sertakan Suket Negatif PCR

Adanya kebijakan di atas, lanjut Nanang, pihaknya akan mengajukan dispensasi untuk khusus angkutan barang,. Hendaknya, cukup menggunakan tes antigen.

"Kami yakin para driver cukup sehat karena pekerja lapangan imunnya kuat," ujarnya meyakinkan

Harapan Nanang yang juga menjabat Sekretaris Pengurus Wilayah Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Kalsel, sebaiknya pemerintah jangan membuat peraturan yang akan membuat masyarakat semakin sulit.

"Jangan paranoid dengan Covid-19. Harusnya membuat masyarakat tenang, nyaman, kondusif, sehingga dengan sendirinya penyebaran Covid-19 akan berkurang. Karena kalau berita tentang Covid selalu dibesar-besarkan akan mempengaruhi sugesti masyarakat dan dapat melemahkan imun. Secara tidak langsung, penyebaran virus justru lebih cepat," tandasnya.

Sementara itu, menurut Reza, pemilik usaha travel di Banjarmasin, kebijakan harus ada keterangan hasil negatif tes RT-PCR untuk sopir sangat memberatkan.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 untuk Anak, Dinkes Kalsel Tunggu Petunjuk Pusat

Baca juga: Cegah Ledakan Kasus Covid-19, Pemprov Kalsel Akan Kembali Perketat Pintu Masuk

Karena biaya untuk tes tidak sedikit. Malah akan dana yang dikeluarkan, bakal tidak seimbang dengan penghasilan dari jasa angkutan penumpang.

"Coba hitung, tes bisa menghabiskan biaya Rp 900 ribu, sedangkan tarif ke Palangkaraya kisaran Rp 150 ribu. Kalau penumpang cuma 7 orang, ya pasti rugi. Belum lagi diihitung biaya BBM," rincinya.

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved