Breaking News:

Opini Publik

PTM dalam Ketidakpastian

Kini bola salju PTM dalam ketidakpastian pun bergelinding kuat di tengah publik. Proses berpendidikan kembali berada dalam jurang gelap

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Moh. Yamin, Pemerhati Pendidikan, Penulis Buku-buku Pendidikan

BANJARMASINPOST.CO.ID - RENCANA pemerintah yang konon akan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) di bulan Juli 2021 ini tampaknya masih menunggu genderang kepastian, apakah kebijakan ini akan dilanjutkan ataukah kemudian ditunda hingga menunggu momen yang tepat. Data menunjukkan bahwa tingkat kasus pasien Covid-19 terus meningkat dari waktu ke waktu dan tidak menunjukkan angka penurunan.

Walaupun banyak guru sudah dilakukan vaksinasi, ketika kondisi di lingkungan sekitar belum menjalani kelangsungan kehidupan yang aman dari penyebaran virus, ini kemudian memungkinkan membatalkan PTM yang siap dilaunching. Kini bola salju PTM dalam ketidakpastian pun bergelinding kuat di tengah publik. Proses berpendidikan kembali berada dalam jurang gelap, harus diarahkan dan mengarah kemana.

Pembelajaran tatap muka yang sudah di depan mata, membuka harapan besar semua anak Indonesia untuk kembali menghirup udara belajar di sekolah dimungkinkan tidak akan terjadi. Pembelajaran tatap muka tampaknya akan tetap menjadi ruang tertutup bagi semua anak didik sebab keadaan di sekitar tidak dan belum mendukung sepenuhnya untuk terlaksananya proses pembelajaran dan pendidikan yang sehat, menyehatkan, membawa ketenangan semua pihak.

Pembelajaran tatap muka di tengah pandemi Covid-19 masih menyisakan banyak kekhawatiran dan kegalauan di semua pihak. Pembelajaran tatap muka sesungguhnya dapat menjawab persoalan setahun terakhir ketika semua anak didik berada dalam lingkungan belajar virtual yang sangat merepotkan. Pembelajaran offline menjadi kunci agar tidak terjadi lost generation.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka di masa pandemi yang konon berbasis kepada protokol kesehatan sangat membantu semua anak didik untuk bisa mengakses pelayanan pendidikan yang lebih mudah dipahami ketimbang sekolah virtual yang membosankan. Namun kondisi di lapangan perlu kembali dipikirkan dan dipertimbangkan kembali oleh negara, apakah PTM akan berlangsung atau tidak.

Arah Pendidikan
Ketika pelaksanaan PTM belum dipastikan, maka arah pendidikan kita ke depan akan dimungkinkan mengalami arah yang sama dengan satu tahun terakhir melalui sekolah virtual. Sekolah virtual mungkin menjadi pilihan pertama bagi sekolah-sekolah yang jauh lebih siap dengan mempelajari pengalaman sebelumnya, namun ini tidak berlaku bagi sekolah-sekolah yang tidak siap sama sekali karena segala perangkat sudah tidak siap dari awal hingga saat ini.

Tatakala keadaan dunia pendidikan yang compang camping: ada yang siap dan tidak, ada yang memaksakan diri tatap muka padahal di masa pandemi yang luar biasa beresiko tinggi, dan lain seterusnya, arah pendidikan dan perjalanan pendidikan ke depan pun semakin tidak berorientasi, tidak mempunyai pijakan yang jelas.

Sekolah yang maju dengan SDM yang maju beserta input siswa yang baik akan tetap bisa mengikuti proses pembelajaran walaupun kondisinya berada dalam ranah virtual. Ini menjadi berbeda dengan sekolah-sekolah dengan SDM yang dimungkinkan belum maju serta input siswa yang juga memerlukan pendampingan secara masif, ini akan mengalami pelambatan luar biasa dalam layanan pendidikan.

Ibarat sebuah simalakama, proses pembelajaran dan pendidikan kita seperti berada dalam ruang gelap yang meraba-raba sendiri, harus berbuat apa dan melakukan apa untuk dapat menjadi SDM-SDM unggul di masa depan. Semua hal yang dilakukan kemudian seperti bingung sendiri dengan keadaan yang terjadi saat ini. Walaupun pelbagai kebijakan pendidikan di masa pandemi diluncurkan oleh Kemdikbud, tataran praksis tidak memberikan dampak perubahan dan pembenahan signifikan bagi perjalanan pendidikan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved