Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Harga Kopi Green Bean Stabil, Per Kilogram Rp 50 ribu

Bisnis kopi kini sedang bagus bagusnya. Harganya pun stabil di posisi Rp 50 ribu per kilogram. 

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
istimewa
Kopi tengah digandrungi semua kalangan. Tak heran, harganya stabil. 

BANJARMASINBPOST.CO.ID, BANJARBARU -  Bisnis kopi kini sedang bagus bagusnya. Harganya pun stabil di posisi Rp 50 ribu per kilogram. 

Menurut Founder Biji Kopi Borneo, Dwi Putra Kurniawan, harga itu adalah harga kopi dalam bentuk atau jenis Green bean atau masih beras kopi. 

"Jika sudah diolah maka pastinya akan lebih mahal dari itu," kata pria yang juga ketua Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Kalsel itu, Selasa (13/7/2021). 

Dijelaskan dia, bahwa saat ini, dirinya dan tim menggerakkan sektor ekonomi di bidang bisnis kopi dan sektor pertanian kopi. 

Baca juga: Jalan-jalan Ke Delapan Kopi, Intip Resep Fresh Kopi dan Foto Keren Bareng Gundam

Baca juga: Kuliner Kalsel, Nongkrong di Sepuluh.11 kafe Bisa Sambil Nikmati Kopi dan Camilan

Baca juga: Kuliner Kalsel, Mau Minum Kopi Turki Murah Buruan ke Warkop Karoma Banjarbaru

"Kopi yang kami kembangkan di Kalsel ada 4 jenis yaitu, pertama. Kopi Liberika (kab tanah laut, kab Banjar, Banjarbaru, HST dan rencana juga akan dikembangkan di Kab Batola)," kata dia

Selanjutnya ada kopi jenis Excelsa dan saat ini dikembangkan di Kota Banjarbaru, Kab Banjar dan Kab Tanah Laut. 

Selain itu, ada jenis Robusta yang dikembangkan di kabupaten Banjar, Kabupaten  Tabalong, Kabupaten Kotabaru, Kabupaten HST, Kab Balangan dan Banjarbaru, " urainya. 

Kemudian, ada jenis kopi Arabika yang tim saat ini kembangkan di Kabupaten  HST. 

Dari semua jenis itu digarap dengan tim petani lokal dengan pola kerjasama. 

"Kedepan kami akan mencoba mencatatkan rekor MURI terhadap pengembangan kopi 4 jenis sekaligus di sebuah Kota Banjarbaru (Kebun Kopi Edukasi) dan Kabupaten HST," kata dia

Dari enam kabupaten kota itu, di Kalsel yang sudah menghasilkan ada seluas 70 hektar dan masih baru tanam seluas sekitar 187 hektar.

Kepala Bapedda Kalsel, Fajar Desira mendukung petani kopi di Kalsel ini dikembangkan. Sebab menurut Fajar kopi ini punya potensi dikembangkan di Kalsel. Apalagi di sektor kopi liberika yang bisa tumbuh di rawa.

Baca juga: Kuliner Kalsel, Warkop Penyedia Kopi Turki Pertama di Kalimantan Selatan

"Mahal sempat diekspor di luar negeri, Arab meminta ribuan ton disuplai. Tapi Kalsel masih belum siap karena yang dihasilkan masih sangat minim dan jauh tak sampai ribuan ton," kata Fajar Desira.

Dia juga mendukung adanya rencana kopi dikembangkan dengan kebun jeruk di Batola."Intinya Pemprov sangat dukung. Karena kopi ini di setiap daerah punya ke khasan masing masing dan Kalsel saya kira ulasan Kalsel lahanya masih sangat mencukupi untuk itu," kata Fajar Desira. (Banjarmasinpost /Nurholis Huda)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved