Breaking News:

Berita Banjarbaru

Hidup dari Tanaman Purun, Perajin HSU Ini Seharian Mengayuh Dayung Ditengah Rawa Cari Purun

Daerah rawa yang sangat luas dan banyak ditumbuhi tanaman purun menjadikan warga Kecamatan Haur Gading Kabupaten HSU berprofesi pengrajin purun 

Penulis: Reni Kurnia Wati | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurniawati
Pencari purun di desa Pulantani selesai membawa purun menggunakan perahu diturunkan di dermaga, Rabu (14/7/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI – Daerah rawa yang sangat luas dan banyak ditumbuhi tanaman purun menjadikan warga Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan (Kalsel) banyak yang yang berprofesi sebagai pengrajin purun. Karena ketersediaan bahan utama untuk pembuatan kerajinan yaitu purun sangat melimpah. 

Hal ini juga berlangsung di Desa Pulantani Kecamatan Haur Gading dengan banyaknya pengrajin. Tanaman purun berada cukup jauh dari pemukiman yang berada di daerah rawa.

Untuk mengambil purun perlu usaha ekstra dengan menggunakan perahu. 

Seperti yang dilakukan oleh Mahdaniah warga Desa Pulantani ini hampir setiap hari mencari atau mencabut purun di deaerah rawa.

Baca juga: Buka Jalur Baru untuk Wisata Susur Rawa di Pulantani Kabupaten HSU

Baca juga: Amankan Rawa Gambut HSU, Aparat Desa di Pulantani Rencanakan Bangun Pondok Pantau

Berbekal perahu dayung dengan alat seadanya dirinya mulai menuju daerah rawa sejak pukul 07.00 pagi. 

Mahdaniah menggunakan pakaian tertutup celana panjang dan juga baju berlengan panjang.

Ditambah dengan kain panjang yang digunakan sebagai penutup kepala dan juga topi lebar yang melindunginya dari terik sinar matahari. 

Mahdaniah ibu dari lima orang anak ini sudah puluhan tahun menjadi pencari purun.

“Cara mencabut purun dengan menarik menggunakan tangan kemudian dibersihkan bagian akarnya, pakai sarung tangan supaya tidak sakit karena yang dicabut juga banyak,” ujarnya. 

Dalam satu hari dirinya bisa mencari purun hingga 25 dapung atau 25 ikat, Mahdaniah pulang pada siang hari dan akan kembali lagi ke dermaga pada sore hari untuk membawa purun kerumah bisa menggunakan gerobak atau menggunakan sepeda. 

Baca juga: Warga Pulantani Kabupaten HSU Bakal Tanam Purun di Lahan Seluas 1 Hektare

Satu ikat dijual dengan harga Rp 5000, selain dijual dalam bentuk purun dirinya juga membuat kerajinan seperti tikar dan tas purun.

Hal yang sama diungkapkan oleh Wardiah yang juga mencari purun. Dirinya juga bertahun tahun menjadi pencari purun karena mengaku taka da pekerjaan lain yang bisa dilakukan. 

“Sudah lama mencari purun, sekarang lebih mudah karena ada jalur yang mudah dilewati,” ujarnya. (Banjarmasinpost.co.id/Rei Kurniawati)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved