Breaking News:

Fikrah

Kemampuan Baru dalam Berdakwah

DIMAKSUDKAN dengan kemampuan baru dalam berdakwah adalah sarana dan fasilitas yang tidak ada pada zaman Rasulullah Saw

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIMAKSUDKAN dengan kemampuan baru dalam berdakwah adalah sarana dan fasilitas yang tidak ada pada zaman Rasulullah Saw. Wahidduddin Khan dalam tulisannya berjudul imkaniat lidda’wah bahwa dewasa ini medan dakwah semakin luas, fasilitas dan sarana semakin banyak jika saja kita umat Islam atau lebih tepatnya para pendakwah dapat menggunakannya. Hal tersebut antara lain berupa peralatan yang canggih yaitu handphone. Nah ini dapat digunakan sebanyak-banyaknya oleh juru dakwah jika saja mereka mahir menggunakannya berupa WA, SMS, dan lainnya, karenanya seorang juru dakwah harus mampu menggunakan dan menguasainya.

Dewasa ini pemikiran logis menyeruak dunia. Manusia tidak akan menerima suatu pendapat yang tidak logis pada sebuah insiklopedi yang terbit bejudul insiklopedi of exnorense, yang berisikan sejumlah hal yang tidak diketahui manusia modern sekali pun seperti halnya akal, pikiran, dan lainnya berupa ilmu pengetahuan sendiri, yang tidak dapat mendetiksi hakikat yang sebenarnya. Hal seperti ini adalah sebagai bukti kekerdilan ilmu pengetahuan manusia, sedangkan Allah Swt sang pencipta yang mengetahui segalanya.

Diceritakan dalam Alquran bahwa Dia ingin membuktikan hal ini. Dia pun berfirman akan menciptakan khalifah di muka bumi sebagai pengganti Nya untuk mengatur permukaan bumi. Dia pun berfirman pada para malaikat, “inni jaa’ilun fil ardi khalifah, artinya aku akan menjadikan khalifah penggantiku untuk mengatur bumi ini.” Malaikat menjawab: “ataja’alu tiha man yufsidu fiha wayasfiquddima wanahnu nusabbihu bihamdika wanukaddisu laka. Aritnya apakah Engkau ya Allah akan menciptakan di bumi makhluk yang merusak dan menumpahkan darah”. Allah Swt menjawab, “inni a’ lamu maa laata’ lamun. Artinya aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak ketahui.”

Allah SWT pun menciptakan Adam As dan disuruh tinggal dalam surga. Sewaktu Adam tertidur, tulang rusuk Adam sebelah kiri diambil dan diciptakan oleh Allah Swt makhluk baru yaitu Siti Hawa. Hawa artinya makhluk baru yang diambil atau dijadikan dari mahluk hidup. Hawa duduk di samping Adam. Setelah Adam terbangun iya ingin menjamah Siti Hawa. Malaikat pun ribut, “mah ya adam, hatta tu addiya laha mahra. Artinya setop ya adam kamu tidak boleh menjamah siti hawa kecuali setelah membayar mahar.” Adam bertanya, “Apa maharnya?” Malaikat menjawab, “Maharnya adalah engkau bershalawat kepada Nabi akhir zaman Rasul pilihan Muhammad Saw. Adam setuju maka malaikat pun melamar Siti Hawa untuk di persunting Adam. Allah Swt mengawinkan Siti Hawa untuk Adam AS dan keduanya disuruh tinggal dalam surga.

Seluruh malaikat disuruh sujud menghormati Adam. Bukan sujud untuk ibadah. Sujudlah para malaikat menghormati Adam, kecuali iblis. Allah Swt bertanya pada iblis, “wahai iblis mengapa kamu tidak sujud menghormati Adam yang aku ciptakan dengan tangan ku (kekuasan ku).” Iblis menjawab, “ana qairun min hu qalak tani min narin waqalak tahu min tin. Artinya aku lebih mulia, engkau ciptakan aku dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah.” Allah SWT berfirman lagi, “kalau begitu engkau aku laknat dan keluar lah engkau dari surga.”

Iblis keluar dari surga, sedang Adam disuruh tinggal di surga dan diperingatkan agar jangan tertipu dengan setan. Makanlah olehmu segala apa yang aku anugerahkan di surga ini dan janganlah engkau tertipu olah setan untuk memakan buah kuldi yaitu buah yang akan membuatmu menjadi malaikat dan tinggal di dalam surga. Iblis pun mendatangi Adam dan berkata tahukah wahai Adam mengapa engkau tidak dibolehkan memakan buah kuldi (kekekalan itu), karena engkau memakan buah itu akan menjadi malaikat dan akan kekal di dalam surga.

Iblis bersumpah memberikan nasihatnya itu. Adam dan istrinya tergiyur untuk memakan buah itu karena ingin kekal di surga dan ingin menjadi malaikat. Setelah Adam dan Hawa memakan buah itu seluruh nikmat surga melurut dari badannya, sehingga Adam dan Hawa memetik daun- daunan yang tumbuh di surga untuk menutup aurat. Keduanya pun di suruh turun ke bumi.

Ada yang berpendapat turunnya Adam dan Hawa ke bumi adalah karena memakan buah kuldi dan dosanya ini terus menurun kepada anak cucunya. Inilah yang disebut dengan dosa turunan atau warisan. Padahal sebenarnya Adam dan Hawa diturunkan ke bumi untuk menjadi khalifah, untuk mengatur permukaan bumi (mengganti Allah Swt). Adam dan Hawa mendapat ampuan dari tuhan yaitu dalam firman Allah Swt, “patalakka adama wahawa kalimatin wataibatin, dan Allah Swt ampunkan dosanya.” Jadi, turunnya Adam dan Hawa ke bumi bukan karena dosa warisan yang turun-temurun untuk anak cucunya, tidak demikian. Yang sebenarnya adalah Adam dan Hawa turun ke bumi adalah memang sebagai tugas keduanya menjadi khalifah tuhan di Bumi.

Allah selanjutnya berfirmaan, “tihatahyau na wafiha tamutun na waminha. Artinya di bumi lah wahai Adam kamu hidup dan meninggal dan nanti kamu akan dibangkitkan dan akan diadili dihadapan Allah Swt. Engkau akan mempertanggungjawabkan segala macam nikmat yang engkau bangga-banggakan di dunia.
Demikianlah, tidak beranjak kaki seorang hamba di padang mahsyar kecuali setelah dapat mempertanggung jawabkan kemana umur digunakan, kemana masa muda dihabiskan, dari mana nikmat didapatkan dan dihabiskan. Demikianlah semoga kita mawas diri jangan sampai digoda oleh setan yang membuat kita malas beribadah pada Allah Swt. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved