Breaking News:

Berita Batola

Petani di Tinggiran Darat Batola Mulai Panen, Keluhkan Turunnya Harga Padi

Puluhan petani di Desa Tinggiran Darat, Kecamatan Mekarsari, Kabupaten Barito Kuala mulai memanen padi di lahan persawahan mereka.

Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Edi Nugroho
Banjarmasinpost.comid/MuhammadTabri
Petani di Desa Tinggiran Darat, Kecamatan Mekarsari memanen padi lokal yang ditanam tahun ini. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Puluhan petani di Desa Tinggiran Darat, Kecamatan Mekarsari, Kabupaten Barito Kuala mulai memanen padi di lahan persawahan mereka.

Beberapa di antaranya menggunakan cara tradisional dengan arit dan sebagian lainnya menggunakan jasa mesin combine.

Diungkapkan Muhammad, petani setempat, hasil panen tahun ini terbilang lebih bagus dari pada tahun lalu. Karena pengairan cukup, tidak terlalu banyak dilanda hujan. Sehingga minimnya kerusakan pada benih padi yang dipanen.

"Alhamdulilah, tahun ini lebih baik. Padi tidak terndam air dan basah, sehingga tidak rusak," bebernya.

Baca juga: Polemik Masih Bergulir, Petani Sawit Plasma di Batola Harapkan Tiga Tuntutan Mereka Dipenuhi

Baca juga: Percepat Buka lahan, Petani Semangka Antar Raya Batola Dibantu Hand Traktor

Baca juga: Alat yang Digunakan Petani di Batola untuk Panen Rotan ini Jangan Dianggap Remeh

Baca juga: Bagi Petani Rotan di Batola, Hal Tersulit Saat Proses Panen Harus Menghadapi ini

Petani padi lokal ini juga bersyukur, tahun ini ada beberapa penyewaan jasa panen dengan mesin combine. Hal ini mempermudah masa panen dengan lebih efesien.

"Kalau pakai arit memakan waktu dua pekan untuk panen, tapi dengan mesin cukup satu dua jam saja," ucap Muhammad.

Ia pun menambahkan, keuntungan lainnya panen menggunakan combine yakni biaya terpotong 50 persen lebih murah prosesnya lebih ringkas dan lebih cepat.

Meski hasil panen terbilang melimpah, petani di Kecamatan Mekarsari ini mengeluhkan harga padi yang menurun dari harga biasanya.

Jika biasanya per blek dihargai 70 hingga 80 ribu rupiah, kali ini hanya berkisar 60 hingga 65 ribu rupiah per blek.

Untuk itu, selain biaya membayar jasa panen, petani berusaha menahan sementara padi yang mereka tuai hingga harga kembali normal di pasaran. (Banjarmasinpost.comid/MuhammadTabri)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved