Breaking News:

Berita HST

VIDEO Tradisi Bawanang Warga Pegunungan Meratus Kabupaten HST

Tradisi Bawanang, yaitu Aruh Besar atau Aruh Mehanyari, digelar warga Pegunungan Meratus di Datar Ajab Kabupaten HST sebagai tanda syukur panen bagus.

Penulis: Aya Sugianto | Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Diiringi ukulan gendang, bunyi gelang logam, tokoh Balian berdoa dengan ritualnya bahasa Hindu Kaharingan.

Beberapa sesajen sebagai persembahan diletakkan di atas lalaya yaitu tempat sesaji.

Diketahui, tradisi Bawanang, yaitu Aruh Besar atau Aruh Mehanyari, digelar warga di Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (17/7/2021) malam hingga Minggu (18/7/2021) dini hari.

Hal itu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta karena warga diberikan keselamatan dan juga hasil panen yang bagus.

Baca juga: Kodim 1002/HST Kalsel Ikuti Perayaan HUT ke-63 Kodam VI/Mulawarman Secara Virtual

Baca juga: Gantung Diri di Kalsel, Petani Terikat Tali Ditemukan Tetangga di Barabai Kabupaten HST

Ritual tersebut berlangsung di Balai Adat Bayawana, Dusun Bayawana, Desa Datar Ajab, Kecamatan Hantakan, Kabupaten HST, Kalsel.

Dihadiri banyak undangan dari warga dayak sekitar, yaitu dayak Loksado Kabupaten HSS, dayak Halong Kabupaten Balangan, dayak dari Kabupaten Tabalong.

Sebelum pelaksanaan, para tamu dan warga berbaur makan malam bersama menjalin keakraban dalam silaturahmi.

Selanjutnya, tokoh Balian memimpin acara puncak ritualnya. Sambil memanjatkan doa-doa, dia menari dengan membawa anyaman daun dan bunga, diikuti tokoh Balian lainnya sambil mengelilingi lalaya, dengan hentakan kaki dari tarian , berlangsung hingga dini hari.

Baca juga: VIDEO Rahasia Pupur Bangkal Kabupaten HST Hingga Tetap Eksis di Tengah Kosmetik Modern

Baca juga: ASN di HST Datang dari Luar Daerah Zona Merah dan Hitam Wajib Swab Antigen

"Ini aruh mehanyari, setelah memperoleh panen bagus. Dengan ungkapan rasa syukur, kami dan warga mengadakan aruh besar," ungkap Adan, Balian yang memimpin ritual adat tersebut.

Sedangkan juru kunci Hutan Meratus, Musa, menambahkan, aruh merupakan ungkapan rasa syukur diberi hasil panen yang bagus.

Sebelumnya, telah diadakan aruh dengan sajian-sajian yang diserahkan ke bumi. "Dengan memberi santunan agar bumi dihormati. Padi tidak hampa, tidak diganggu hama, warga berezeki semua, warga selamat semua tanpa ada yang sakit, kami mengadakan aruh besar, yaitu Aruh Mehanyari," imbuh Musa.

(Banjarmasinpost.co.id/Aya Sugianto)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved