Breaking News:

Berita HST

Tak Berlistrik, Warga Datarajab HST Merasa Baru Merdeka 75 Persen

Warga DesaDatarajab Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengatakan merasa masih belum merdeka.

Penulis: Hanani | Editor: Edi Nugroho
Instagram @selecaofemininadefutebol
Timnas Wanita Brazil vs China pada ajang Olimpiade Tokyo 2020 (2021) yang berakhir dengan skor 5-0 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Warga Desa Datarajab Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengatakan merasa masih belum merdeka.

Alasannya, sampai sekarang, belum bisa menikmati jaringan listrik dari PLN, meski jaringan kabelnya sudah sampai ke Desa Arangani.

Merekapun mengeluhkan sulitnya akses jalan menuju desa, yang sangat jarang tersentuh perbaikan sehingga membuat warga kesulitan ke kota kecamatan untuk memasarkan hasil kebun.

Ketua Rt 02 Rantau Parupuk, Datarajab, Imbin saat banjarmasinpost.co.id, berkunjung ke desa terpencil itu Senin 19 Juli 2021 lalu mengatakan, untuk penerangan listrik, selama ini masih menggunakan tenaga surya bantuan pemerintah. Namun, untuk penerangan sangat terbatas karena harus berbagi dengan seluruh warga.

Baca juga: VIDEO Warga Desa Masta Kabupaten Tapin Akhirnya Bisa Menikmati Listrik

Baca juga: Subsidi Listrik Diperpanjang Hingga Desember 2021, Pemerintah Siapkan Dana Tambahan Rp 1,91 triliun

Baca juga: CARA Dapat Stimulus PT PLN Juli 2021 Tak Perlu Lewat PLN Mobile, Diskon Listrik Diperpanjang

“Satu rumah hanya empat lampu yang maksimal bisa menyala sejak pukul 18.00 wita sampai pukul 03.00 wita. Itu kalau cuaca panas. Kalau musim hujan, paling hanya bisa empat jam,”kata Imbin.

Tak Hanya di Rantau Parupuk, di Datarajab sebagai desa induk pun masih gelap gulita. Bantuan listrik tenaga surya banyak yang rusak dan hilang tersapu banjir bandang, Januari 2021 lalu.

Menurut Imbin, warga Datarajab termasuk anak desanya yaitu Rantau Parupuk dan Bayuana serta Pantai Mangkiling sudah sering menyampaikan usulan, agar PLN menambah jaringan listriknya sampai ke desa tersebut.

“Memag sering diberi harapan, tapi realisasinya belum ada. Makanya kami baru merasakan merdeka 75 persen,”katanya.

Sementara itu, kondisi jalan dari Arangani ke Datar Ajab, sepanjang 8 kilometer baru sebagian yang sudah dipasangi paving blok.

Separuh jalan, atau sepanjang empat kilometer kondisinya masih berupa tanah merah, yang saat diguyur hujan menjadi kubangan lumpur. Jalan itupun hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan mobil offroad doube gardan ban rimba.

“Mobil jenis pikap memang ada yang bisa naik asalkan kondisi mesin fit dan sopirnya menguaai medan. Itupun sering didorong karena terjebak lubang dalam,”ungkap Imbin.

Imbil berharap, perbaikan jalan di Desa Datar Ajab menjadi perhatian pemerintah kabupaten, karena untuk di desa tersebut jarang sekali tersentuh pembangunan infastruktur jalan maupun jembatan. Sedangkan menggunakan dana desa tak mungkin, karena anggaran desa tak akan mencukupi.

Pantauan banjarmasinpost.co.id, setidaknya ada dua jembatan di des aitu yang mengalami rusak, termasuk jembatan gantung yang menghubungkan Rantau Parupuk ke Bayuana, hingga Mangkiling. Jalan menuju ke anak desa itupun hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, kecuali mobil offroad, bisa menyeberang dengan melewati sungai. Itupun jika kondisinya surut.

“Kalau air sungai dalam, hanya bia pakai sepeda motor, atau jalan kaki,”kata H Iming, offroader dari barabai yang sering mengujungi desa tersebut. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved