Berita HST

Tak Berlistrik, Warga Datarajab HST Merasa Baru Merdeka 75 Persen

Warga DesaDatarajab Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengatakan merasa masih belum merdeka.

Penulis: Hanani | Editor: Edi Nugroho
BANJARMASINPOST.CO.ID/HANANI
Jalan menuju Desa Datar Ajab, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan, Senin (19/7/2021). Selain jalurnya ekstrem, penuh tanjakan, sebagian jalan masih berupa tahan merah yang akan berubah jadi kubangan lumpur setelah hujan. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Warga Desa Datarajab Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengatakan merasa masih belum merdeka.

Alasannya, sampai sekarang, belum bisa menikmati jaringan listrik dari PLN. Meski, jaringan kabelnya sudah sampai ke Desa Arangani.

Merekapun mengeluhkan sulitnya  akses jalan menuju desa yang sangat jarang tersentuh perbaikan. Kondisi ini menyulitkan menuju ibu kota kecamatan untuk memasarkan hasil kebun.

Ketua Rt 02 Rantau Parupuk, Datarajab, Imbin, mengatakan kepada reporter Banjarmasinpost.co.id yang berkunjung ke desa terpencil itu saat Senin (19/7/2021), untuk penerangan listrik selama ini masih menggunakan tenaga surya bantuan pemerintah. Itupun sangat terbatas karena harus berbagi dengan seluruh warga.

Baca juga: VIDEO Warga Desa Masta Kabupaten Tapin Akhirnya Bisa Menikmati Listrik

Baca juga: Subsidi Listrik Diperpanjang Hingga Desember 2021, Pemerintah Siapkan Dana Tambahan Rp 1,91 triliun

Baca juga: CARA Dapat Stimulus PT PLN Juli 2021 Tak Perlu Lewat PLN Mobile, Diskon Listrik Diperpanjang

“Satu rumah hanya empat lampu yang maksimal bisa menyala sejak pukul 18.00 wita sampai pukul 03.00 wita. Itu kalau cuaca panas. Kalau musim hujan, paling hanya bisa empat jam,” ucap Imbin.

Tak hanya di Rantau Parupuk, di Datarajab sebagai desa induk pun masih gelap gulita. Bantuan listrik tenaga surya banyak yang rusak dan hilang akibat tersapu banjir bandang pada Januari 2021.

Menurut Imbin, warga Datarajab termasuk anak desanya, yaitu Rantau Parupuk dan Bayuana serta Pantai Mangkiling, sudah sering menyampaikan usulan agar pihak PLN menambah jaringan listrik sampai ke desa tersebut.

“Memang sering diberi harapan, tapi realisasinya belum ada. Makanya kami baru merasakan merdeka 75 persen,” katanya.

Sementara itu, kondisi jalan dari Arangani ke Datar Ajab, sepanjang 8 kilometer baru sebagian yang sudah dipasangi paving blok.

Separuh jalan atau sepanjang empat kilometer lagi, kondisinya masih berupa tanah merah. Saat hujan, menjadi kubangan lumpur. Jalan itupun hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan mobil offroad double gardan ban rimba.

“Mobil jenis pikap memang ada yang bisa naik, asalkan kondisi mesin fit dan sopirnya menguasai medan. Itupun sering didorong karena terjebak lubang dalam,” ungkap Imbin.

Imbil berharap, perbaikan jalan di Desa Datar Ajab menjadi perhatian pemerintah kabupaten. Karena untuk di desa tersebut, jarang sekali tersentuh pembangunan infastruktur jalan maupun jembatan. Sedangkan menggunakan dana desa, tidak memungkinkan sama sekali karena tak akan mencukupi.

Pantauan Banjarmasinpost.co.id, setidaknya ada dua jembatan di desa itu yang mengalami rusak, termasuk jembatan gantung yang menghubungkan Rantau Parupuk ke Bayuana, hingga Mangkiling. Jalan menuju ke anak desa itupun hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, kecuali mobil offroad, bisa menyeberang dengan melewati sungai. Itupun jika kondisinya surut.

“Kalau air sungai dalam, hanya bia pakai sepeda motor, atau jalan kaki,” kata H Iming, offroader dari barabai yang sering mengujungi desa tersebut.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved