Breaking News:

Berita Ekonomi

Bahan Bangunan di Kalsel Naik Hingga 30 Persen, Pengembang Usulkan Harga Rumah 2022 Naik

Beberapa bahan bangunan yang menjadi komponen utama dalam proyek pembangunan perumahan mengalami kenaikan harga. Hal ini membuat para pengusaha pengem

Penulis: Salmah | Editor: Edi Nugroho
banjarmasin post.co.id/salmah saurin
Perumahan baru dibangun di kawasan Kota Banjarbaru 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARMASIN- Beberapa bahan bangunan yang menjadi komponen utama dalam proyek pembangunan perumahan mengalami kenaikan harga. Hal ini membuat para pengusaha pengembang perumahan harus berpikir lebih cermat agar masih ada keuntungan, sementara harga jual tak ada kenaikan.

Tak seiringnya harga jual rumah dengan harga bahan bangunan dibenarkan pengusaha pengembang H Wahyu Effendi, Direktur PT Bamega Persada Pratama. Bahkan menurutnya harganya melambung.

"Kenaikan terjadi pada harga Taso, naik Rp10-15 ribu, kemudian besi juga naik 10-15 persen dari sebelumnya Rp60-70 ribu per batang sekarang menjadi Rp70-80 ribu per batang," ujarnya.

Kenaikan harga ini sudah disampaikan pihak REI pusat ke pemerintah, namun pihak kementerian menolak usulan kenaikan harga jual rumah, sehingga khususnya rumah bersubsidi tetap sesuai harga tahun lalu.

Baca juga: Pengembang di Kalsel Genjot Pemasaran KPR di Masa Pandemi, Rumah Subsidi Dibuat ala Eropa

Baca juga: VIDEO : 1.000 Rumah Subsidi untuk ASN Balangan Bakal Dibangun, Berada di Lokasi Strategis

Baca juga: 1.000 Rumah Subsidi untuk ASN Balangan Bakal Dibangun, Inisiasi dari Anggota DPR RI Rifqinizamy

Baca juga: Kredit Rumah Subsidi Difokuskan untuk Nasabah ASN, TNI Polri dan BUMN BUMD, Ini Syarat KPR BTN

"Menyiasati kondisi harga bahan bangunan, makanya kami harus mencari tanah untuk perumahan yang harganya masih bisa terjangkau. Otomatis lokasinya pun agak jauh dalam. Soalnya harga tanah di lokasi stragegis sudah pasti mahal," tukas Wahyu yang juga Wakil Ketua DPD REI Kalsel.

Kenaikan harga bahan bangunan juga terjadi pada kayu ulin yang menjadi komponen dasar pada bangunan perumahan di lahan rawa.

Sebagaimana dinyatakan H Hasanuddin, Direktur PT ABSY, harga kayu ulin mengalami kenaikan 25-30 persen, belum lagi stoknya juga termasuk langka.

"Konstruksi bawah untuk bangunan rumah di lahan rawa perlu kayu ulin, begitu juga tiang-tiangnya. Saat ini cost (biaya) membesar, sedangkan harga jual rumah masih tetap. Padahal juga rumah dengan konstruksi memakai ulin biaya pembangunan lebih mahal dari bangunan rumah pondasi beton," ungkap Hasanudin yang juga Sekretaris DPD REI Kalsel.

Sebenarnya biaya dikeluarkan pengembang bukan hanya untuk pembangunan proyek rumah tapi juga ada biaya lain yang perlu dikeluarkan selama pandemi ini.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved