Breaking News:

Jendela

Covid-19 dan Taubat Nasuha

Akankah nasib Banjarmasin dan Banjarbaru separah kota-kota besar di Jawa? Kita tentu berharap hal itu tidak terjadi

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “KITA dari PPKM level 2 langsung ke level 4,” kata Ibnu Sina, Walikota Banjarmasin, saat saya bertemu dengannya kemarin Ahad, 25 Juli 2021. Dua kota di Kalsel, Banjarmasin dan Banjarbaru termasuk dalam 43 kabupaten/kota di Indonesia yang terkena nasib yang sama. Covid-19 makin mengganas. Akankah nasib Banjarmasin dan Banjarbaru separah kota-kota besar di Jawa? Kita tentu berharap hal itu tidak terjadi. Namun, harapan saja takkan berguna tanpa tindakan nyata.

Saat Doa Bersama dan diskusi via zoom dengan puluhan dokter pada Ahad, 18 Juli 2021 lalu, saya mendengar langsung kekhawatiran mereka jika krisis mencekam di Jawa terjadi di sini. Alangkah pedihnya jika semua rumah sakit penuh sehingga pasien terpaksa ditolak. Alangkah mengenaskan ketika persediaan tabung oksigen tidak cukup untuk membantu pasien-pasien yang sulit bernapas. Alangkah pilu mengetahui para dokter dan perawat satu persatu tumbang hingga wafat. Alangkah menakutkan ketika para petugas tak sanggup lagi menguburkan jenazah yang terlalu banyak.

Menurut berita, pemerintah daerah sudah mengantisipasi semua kekhawatiran itu. Persediaan ruangan, tempat tidur, obat-obatan hingga oksigen sudah disiapkan. Namun, masalah pandemi ini bukanlah semata urusan pemerintah, melainkan juga masyarakat. Kita tidak bisa hanya berharap kepada Tim Satgas Covid-19. Semua pihak perlu bersinergi. Percuma pemerintah merencanakan dan melaksanakan penanganan Covid-19 jika masyarakat tidak taat. Percuma anjuran menjaga protokol kesehatan disiarkan di mana-mana, jika tokoh-tokoh agama malah berfatwa sebaliknya.

Seorang dokter bertanya, “Apakah semua ini akibat dosa-dosa kita? Tidakkah kita harus bertobat?” Saya kira, Covid-19 merajalela memang akibat dosa-dosa kita. Jika kita enggan memakai masker, menghindari kerumunan, menjaga jarak, maka kita melakukan dosa, yaitu dosa melawan hukum alam. Begitu pula, ketika kita menolak vaksinasi, kita juga menolak upaya manusia memanfaatkan ilmu mengenai hukum alam untuk melawan virus ini. Hukum alam adalah ciptaan Tuhan. Melawan hukum alam berarti melawan kehendak-Nya. Siapa yang berani melakukannya tentu akan menanggung akibatnya.

Dosa kedua adalah melanggar hukum moral. Manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan memilih (ikhtiyâr) antara yang baik dan yang buruk, benar dan salah. Dalam menangani Covid-19 ini, pilihan-pilihan moral itu seringkali muncul. Ketika hasil tes seseorang terbukti positif tetapi dia tidak mau diisolasi atau mengisolasi diri, maka dia melakukan pelanggaran moral yang dapat berakibat penularan virus itu kepada orang lain. Tergoda dengan dana Covid-19 yang berlimpah, seorang pejabat bersekongkol dengan penyedia barang dan jasa untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dosa pelanggaran hukum dan moral ini membuat penanganan Covid-19 amburadul.

Dosa ketiga adalah dosa spiritual. Dua di antaranya yang paling berat adalah keserakahan dan kesombongan. Orang-orang yang tega mengais untung di atas penderitaan orang lain adalah mereka yang rakus. Sudah tahu oksigen sangat diperlukan, dia mempermainkan harganya. Sudah tahu rakyat butuh sembako karena tak ada penghasilan, dia malah mencari-cari komisi. Covid-19 juga adalah peringatan bagi manusia yang sombong, yang sudah merasa sangat pintar dengan sains dan teknologi. Ternyata, hanya dengan makhluk amat kecil tak terlihat, manusia nyaris tak berkutik.

Seharusnya, Covid-19 menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya dan keterbatasannya. Paling kurang, itulah tiga jenis dosa yang menyebabkan virus ini belum terkendali. Akibat dosa-dosa itu tidak hanya ditanggung kelak di akhirat setelah kita wafat, tetapi juga di dunia ini. Hidup dan mati, yang memisahkan kehidupan dunia dan akhirat, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang terputus melainkan suatu kesinambungan. Kebaikan dan kejahatan yang kau lakukan di dunia, dampaknya akan terasa di dunia ini hingga nanti di akhirat. Karena akhirat itu gaib, tak bisa disaksikan oleh mata kepala, maka akibat-akibat yang di dunia inilah yang dapat kita saksikan. Karena itu, meskipun orang ragu dengan bahaya dosa di akhirat, seharusnya dia sadar akan bukti bahayanya di dunia ini.

Alhasil, jika kita ingin Covid-19 terkendali, marilah kita semua bertobat dari dosa melawan hukum alam, dosa melawan hukum moral serta dosa spiritual seperti serakah dan sombong. Tobat berarti kembali ke jalan yang benar, menyesali dosa yang telah dilakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Inilah yang disebut ‘taubat nasuha’. Apakah kita mau bersungguh-sungguh melakukannya? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved