Breaking News:

Tajuk

Satgas Oksigen

Satgas Oksigen berisi beberapa instansi terkait yakni Satgas Covid-19 Kalsel yang juga sebagai induk satgas

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dalam dua hari ini, selain dibuat waswas dengan pelaksanaan PPKM level 4,yang akan mulai berlaku hari ini di Banjarbaru dan Banjarmasin, masyarakat juga kaget dengan kondisi ketersediaan oksigen di sejumlah rumah sakit.

Selain adanya temuan sempat kosongnya pasokan oksigen bagi pasien covid-19 yang melonjak jumlahnya, kabar yang beredar di sosial media juga tak kalah mengkhawatirkan. Banyak sekali informasi mengenai kekosongan tabung maupun oksigennya.

Pemprov Kalimantan Selatan pun langsung melakukan antisipasi, yaitu dengan dibentuknya Satuan tugas (Satgas) Oksigen.

Satgas Oksigen sebagaimana dijelaskan Kadis Perindustrian Kalsel, Mahyuni berisi beberapa instansi terkait yakni Satgas Covid-19 Kalsel yang juga sebagai induk satgas. Juga ada Dinkes, Dishub, BPBD, Dinas Perindustrian, Polda Kalsel, Korem 101 Ant, Pelindo dan KSOP, rumah sakit, serta produsen dan distributor oksigen di Kalsel.

Sebagai salah satu solusi dari kurangnya pasokan oksigen, satgas yang baru dibentuk ini mengeluarkan kebijakan dengan menyetop pengiriman oksigen untuk industri. Jadi oksigen nantinya sepenuhnya diarahkan ke rumah sakit untuk tujuan kemanusiaan.

Diketahui di Kalsel ada tiga produsen gas oksigen yakni Samator Gas, CV Indra Purna, dan CV Utama Lestari. Sisanya adalah distributor oksigen yang melakukan kontrak dengan rumah sakit yang oksigennya diambil dari produsen.

Secara kebijakan, langkah pembentukan satgas oksigen ini patut diapresiasi. Dan dari langkah yang sudah berjalan, ada beberapa catatan yang harus dilakukan terkait ketersediaan oksigen bagi pasien covid-19 ini.

Pertama satgas juga ikut mengawasi, jangan sampai ada yang memanfaatkan kelangkaan oksigen untuk motif ekonomi. Kasus di sejumlah daerah di Jawa pada masa PPKM Darurat lalu, bisa menjadi bahan evaluasi bagi daerah kita.

Kedua, lakukan distribusi secara transparan dan adil. Jadi masing-masing rumah sakit, atau daerah tidak merasa di-anak tirikan, atau dinomorduakan dalam masalah pembagian oksigen yang jumlahnya terbatas itu. Susun parameter yang bisa diketahui semua pihak, sekaligus memperhatikan skala prioritas.

Ketiga, satgas ataupun siapa saja stakeholder bidang kesehatan yang terlibat, aktif melakukan komunikasi dan sosialisasi di media sosial agar tidak muncul kepanikan. Kabar mengenai kekurangan oksigen, dalam dua hari ini lebih cepat tersebar di media sosial dibanding klarifikasi dari pihak terkait.

Dan keempat bagi masyarakat untuk terus dan jangan bosan-bosan menjalankan protokol kesehatan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved