Breaking News:

Tajuk

Menyongsong Karhutla

Ancaman Karhutla rutin terjadi di Kalsel dan sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sumatera.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat pemerintah disibukkan penanganan wabah Covid-19, ancaman lain bagi masyarakat Kalimantan Selatan mulai tampak. Jika lengah, maka ancaman ini juga berdampak masif, tidak hanya bagi kesehatan tapi juga kerusakan lingkungan dan ekonomi.

Ancaman dimaksud adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ya, ancaman ini memang rutin terjadi di Kalsel dan sejumlah provinsi di Kalimantan dan Sumatera.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat setempat, namun juga hingga ke mancanegara jika tidak tertangani dengan baik. Beberapa kali asap ‘kiriman’ akibat karhutla yang dihembus sampai ke negeri tetangga dan menimbulkan konflik regional. Meskipun skala konfliknya kecil namun cukup mengganggu hubungan bilateral dengan negeri jiran.

Sejumlah kabupaten di Kalimantan Selatan sudah melaporkan bermunculannya hotspot atau titik panas yang ditengarai sebagai titi api akibat Karhutla. Seperti terjadi di Desa Karangan Putih, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong, Kalsel, Senin (26/7). Demikian pula di Kabupaten Tapin, dilaporkan kebakaran hutan dan lahan mulai bermunculan di Kabupaten Tapin, Selasa, (27/7) sebanyak 12 titik.

Meskipun karhutla yang terjadi masih dalam skala kecil, namun biasanya, semakin mendekati musim kemarau, titik api bakal semakin banyak. Prediksi pada Agustus hingga September 2021 kebakaran hutan bakal kian masif terjadi. Semoga saja Karhutla dan kabut asap di Kalsel tahun ini tidak separah seperti tahun 2015.

Kombinasi peristiwa Covid-19 dan Karhutla bakal memecah konsentrasi, terutama dalam penanganannya. Satu bencana nasional saja seperti Covid-19 membuat pemerintah Indonesia hars berjibaku keras untuk menanganinya, apalagi jika sampai ditambah bencana nasional lainnya.

Antisipasi terhadap penanganan Karhutla harus dilakukan jauh hari dengan melibatkan semua stakeholder. Seperti pemerintah daerah, pemerintah pusat, manggala agni, aparat kepolisian, TNI, Badan Penanggulangan Becana Nasional maupun Daerah. Termasuk juga masyarakat.

Memang tidak bisa dibuat main-main karena dampaknya yang luas, baik secara ekologi maupun ekonomi.
Padahal, masalah karhutla ini selalu berulang tiap tahun. Titik api muncul baik alami maupun karena ada unsur kesengajaan campur tangan manusia.

Seharusnya, belajar dari tahun ke tahun, Karhutla bukan lagi menjadi bahaya laten, namun sudah bisa diantisipasi lebih dulu. Terutama Karhutla akibat tangan manusia.

Oleh karena itu, perlu ketegasan pemerintah untuk menegakkan disiplin baik kepada personal yang dekat dengan aktivitas pembakaran lahan maupun oknum perusahaan yang sebagian mungkin masih ada membuka lahan dengan cara dibakar. Tentu tidak mengabaikan pendekatan humanis, terutama bagi masyarakat adat yang turun temurun melakukannya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved