Breaking News:

Tajuk

Belum Bisa Baca

Mayoritas siswa yang kesulitan membaca ataupun menulis ialah kelas I SD di tahun ajaran 2020-2021.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - KALIMANTAN Selatan resmi menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level IV mulai Senin (26/7/2021) lalu. Sesuai aturan, pusat perbelanjaan seperti mal akan ditutup, kecuali restoran yang bisa melayani pesan antar.
Selain pusat perbelanjaan, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas juga terdampak.

Kota Banjarmasin sendiri sebelumnya telah menerapkan PTM terbatas sejak dua pekan terakhir. Namun dengan diberlakukannya PPKM Level IV, PTM terbatas otomatis dihentikan dan para siswa kembali belajar secara daring. Alasan menunda PTM ini cukup kuat, karena diharapkan menekan laju penularan Covid-19.

Terhitung dua tahun sejak pandemi Covid-19, pelajar SD, SMPN dan SLTA hingga perguruan tinggi menjalani pembelajaran sistem daring. Yang menjadi persoalan, saat ini muncul berbagai keluhan dengan sistem belajar daring baik dari siswa, guru, orangtua dan kepala sekolahnya sendiri.

Keluhan beruntun pelajar SD kelas I (satu) mengalami kesulitan membaca. Padahal, siswa kelas I baru saja lulus dari taman kanak-kanak.

Dari salah satu penuturan salah satu kepala sekolah SD di Banjarmasin, mayoritas siswa yang kesulitan membaca ataupun menulis ialah kelas I SD di tahun ajaran 2020-2021. Pasalnya sejak awal tahun ajaran, mereka tidak mendapatkan pembelajaran langsung. Sedangkan pelajaran daring kurang efektif untuk meningkatkan daya baca dan tulis para siswa. Meskipun ini keluhan belum mengemuka secara terbuka dan resmi tentunya perlu ditanggapi serius oleh dinas pendidikan.

Total sekolah dasar di Kalsel jumlahnya cukup banyak sehingga perlu perhatian dan pendalaman khusus keluhan pelajar SD kelas I tidak bisa membaca karena dampak sekolah daring ini. Perlu diketahui, kebanyakan mereka siswa yang baru masuk sekolah SD di masa pandemi sebagian besar belum bisa membaca. Sementara untuk melatih membaca siswa SD kelas I perlu pendampingin khusus tatap muka dan tidak bisa dilakukan dengan sistem sekolah daring.

Beruntung bagi siswa kelas I SD angkatan dua tahun silam masih mengalami sekolah tatap muka. Dalam kondisi seperti ini, peran orangtua selama pembelajaran daring dalam membimbing anaknya dinilai masih kurang. Apalagi untuk pelajar yang baru lulus TK dan masuk kelas I, tentu orangtua tak memiliki pengalaman, ilmu dan metode untuk mengajari teknik membaca secara efektif.

Akibatnya, pelajar SD kelas I yang sampai saat ini belum bisa membaca sulit memahami pembelajaran di sekolah. Disadari betul, peran orangtua masih kurang dalam pembelajaran daring ini. Mungkin karena terbentur dengan pekerjaan dan lainnya sehingga tidak fokus memperhatikan pembelajaran anak.

Saran untuk dinas pendidikan, masalah anak kelas I SD cenderung tidak bisa membaca selama belajar daring ini perlu segera diatasi. Seperti dinas pendidikan bisa mengimbau kepada semua sekolah agar para guru melakukan kunjungan ke kelompok siswa. Utamanya guru kelas I, supaya siswa mendapatkan pembelajaran secara maksimal.
Dengan begitu, meski di tengah pandemi kualitas pendidikan masih bisa stabil dan tidak mengalami penurunan. Sejumlah kepala sekolah juga mengeluh kalau anak-anak SD kelas I terlambat kemampuan membaca tentu, siswa juga kesulitan menerima pelajaran-pelajaran yang diajarkan di Kalsel. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved