Breaking News:

Wabah Corona

Biaya Vaksin Sudah Mencapai Rp 11,72 Triliun, Total 65,79 Juta Dosis Vaksin Sudah Disalurkan

Realisasi belanja vaksin sampai 31 Juli 2021 telah mencapai Rp 11,72 triliun untuk 65,79 juta dosis vaksin.

Editor: M.Risman Noor
banjarmasinpost.co.id / faturahman
Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap kedua di Mendawai Palangkaraya yang digelar oleh Polda Kalteng, Selasa (3/8/2021). 

Namun apabila dicoba dengan E-KTP milik orang lain (belum dimasukkan dalam database simulasi) maka indikator lampu berubah menjadi merah dan di bagian layar tertulis tidak dikenal, yang juga bisa diartikan bahwa pemilik E-KTP belum bervaksin.

Tentunya apabila diaplikasikan dengan database warga Banjarmasin yang sudah divaksin Covid-19 yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin, maka Smart Checker ini pun akan bisa mendeteksi warga yang sudah maupun belum divaksin.

"Jadi dengan Smart Checker ini akan lebih memudahkan. Tinggal diisinkronkan saja misalnya dengan database dari Dinas Kesehatan Banjarmasin, maka akan diketahui secara cepat apakah seseorang sudah divaksin atau belum. Apalagi di dalam sebuah E-KTP sudah ada chipnya, sehingga fungsinya sebagai E-KTP bisa benar-benar dimaksimalkan," ujar Habib Fathurrachman, Sabtu (31/7/2021).

Baca juga: Kalsel Dapat Tambahan Vaksin, Stok Vaksin Covid-19 Kalsel 66 Ribu Dosis Disebut Tak Cukupi Kebutuhan

Diterangkan juga oleh Habib Fathurrachman, dirinya membuat Smart Checker tersebut hanya kurang lebih tiga hari.

"Dari ide awal sampai menuangkan membuatnya hingga pembuatan casing sekitar tiga hari," katanya.

Disinggung mengenai awal mulanya membuat Smart Checker ini, Habib Fathurrahman pun menerangkan untuk membantu pemerintah juga dalam menyukseskan program vaksinasi Covid-19.

"Kita ikut prihatin dengan kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Lalu terpikir apa yang bisa dilakukan untuk membantu negara dan masyarakat, akhirnya membuat alat ini untuk memudahkan masyarakat juga," kata pria berusia sekitar 48 tahun ini.

Tak kalah penting, Habib Fathurrahman juga menerangkan bahwa ke depannya alat ini tentunya tidak hanya bisa digunakan untuk memeriksa data terkait vaksin saja.

"Bisa dikembangkan untuk keperluan lain, misalnya Disdukcapil, Dinas Sosial dan sebagainya," kata pria yang juga mengaku pernah mengenyam pendidikan IT di salah satu perguruan tinggi di Surabaya ini.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved