Berita Ekonomi dan Bisnis

Petani Desa Amawang Kabupaten HSS Dilanda Kerisauan, Harga Gabah Rendah dan Sulit Laku

Warga Desa Amawang Kanan Kecamatan Kandangan Kabupaten HSS, sebagian besar hidup sebagai petani padi. Sayangnya saat ini harga gabah justru turun.

Penulis: Salmah | Editor: Syaiful Akhyar
banjarmasinpost.co.id/dok
Petani saat mengikuti gelar tekhnologi di BPP kecamatan Kandangan 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Warga Desa Amawang Kanan Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), sebagian besar hidup sebagai petani padi.

Sekitar 75 persen warga bekerja sebagai petani padi, selebihnya 25 persen petani tanaman holtikultura. Namun ironisnya, saat ini hasil panen padi berupa gabah sulit terjual, bahkan harganya pun turun.

Tanaman padi ada 100 hektare yang digarap lima kelompok tani yang tergabung dalam satu Gapoktan (gabungan kelompok tani).

Dikatakan Yuniarti, Penyuluh Swadaya Desa Amawang Kanan, pihaknya terus melakukan pengembangan benih untuk tanam 100 hari panen yakni benih Cihirang, Mikungga dan Inpari.

Baca juga: Proper PKN II SMS Dara Meengaca Melampaui Target, Dispersip Kembali Dapat Dukungan

Baca juga: Kalimantan Timur Jadi Wilayah Tertinggi Positif Covid-19 di Kalimantan, Begini Kata Kapolri

Baca juga: PPKM Diberlakukan, Pemerintah Perpanjang Subsidi Listrik Hingga Desember 2021

"Namun karena daerah kami masih berharap tadah hujan, maka saat ini paling banyak dua kali panen. Tetapi seringnya hanya sekali saja. Kecuali proyek irigasi cepat selesai. Setahun bisa tanam panen sampai tiga kali  paparnya.

Selain soal bercocoktanam tadi, sekarang yang juga menjadi keluhan adalah masalah harga gabah yang menurun dalam setahun terakhir.

"Sekarang harga gabah di antaranya Cihirang, Mikungga, Inpari, hanya dihargai oleh pembeli seharga Rp4.200/kg. Sedangkan saat harga bagus, mencapai Rp 5000/kg," ungkap Yuniarti.

Sedangkan jenis padi Siam, panen tahunan hanya dihargai Rp4800-5000/Kg, padahal sebelumnya sampai Rp 6000/Kg.

"Gabah banyak, harga turun, tapi anehnya pembelinya kurang. Membuat bingung para petani adalah kebutuhan masyarakat terhadap beras selalu ada setiap hari, lantas kenapa gabah kami malah tak laku?" seloroh Yuniarti.

Masalah lain, pupuk juga susah didapat petani secara perorangan, kecuali melalui kelompok baru bisa dapat pupuk.

Muliadi, penggarap sawah di desa tersebut menyatakan, kelompok mereka sebenarnya ada peralatan pertanian yang relatif lengkap dan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil pertanian, hanya saja kini gabah menumpuk karena tidak laku, sehingga jadi dilema.

"Padahal di desa kami warganya mayoritas petani padi. Penghasilannya didapat jika gabah hasil panen terjual. Ibarat kata untuk beli garam saja harus jual gabah baru bisa mendapatkan uang," tukasnya.

Lebih mirisnya lagi adalah petani yang tidak memilik peralatan dan mengandalkan mengupah orang untuk membantu menggarap sawah. Dengan kondisi harga gabah yang rendah, bagaimana mengupah mereka.

Satu borong sawah, upah mentraktor lahan Rp40 ribu, tanam Rp 50 ribu, memanen Rp10 ribu per blek. Karena harga gabah murah tentu tidak sesuai dengan hasil yang dikerjakan, maka rugi jika bayar upah.

"Makanya saya pergi ke Banjarmasin untuk kerja yang lain. Kami hanya berharap agar harga gabah kembali membaik untuk mengembalikan kesejahteraan para petani," harapnya.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved