Breaking News:

Jendela

Hijrah Rasional dan Spiritual

Nabi hijrah menggunakan strategi rasional sambil terus mengharap pertolongan Allah, perjalanan panjang melelahkan itu akhirnya berbuah manis.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - ORANG baik biasanya disukai banyak orang. Namun, orang baik yang ingin memperbaiki masyarakat harus siap-siap menghadapi permusuhan. Rumus ini berlaku sepanjang masa, termasuk kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika muda, dia dihormati dan dibanggakan sebagai anak yang jujur, al-amîn. Dia juga dikenal sebagai pria bijaksana. Ketika tokoh-tokoh Quraisy bertengkar soal siapa yang berhak mengembalikan hajar Aswad ke tempatnya, Muhammad meletakkan batu sakral itu di atas serbannya, dan meminta masing-masing tokoh memegang satu sisi serban itu dan mengangkatnya.

Namun, ketika dia mengajak mereka untuk beriman kepada Allah yang Esa, menegaskan kesetaraan manusia di hadapan-Nya, membela yang lemah dan mencintai sesama, banyak orang memusuhinya. Mereka menuduhnya pembohong, penyihir bahkan gila. Mereka lupa bahwa orang ini adalah pria yang diakui kejujuran dan kebijaksanaannya sejak muda. Mengapa? Karena ajaran yang disampaikannya itu membuat keistimewaan kaum elit Quraisy terganggu. Jika semua manusia setara, monopoli elit terhadap perdagangan dan bisnis ziarah di Kota Mekkah akan terancam.

Pada saat Muhammad menerima tugas sebagai Utusan Allah di usia 40 tahun, dia sebenarnya telah hidup mapan, bersama isterinya, Khadijah, pedagang kaya yang sangat mencintainya. Namun, ini adalah perintah Allah, yang pada awal mula diterimanya dengan gemetar. Dia sadar, banyak kesulitan yang akan dihadapinya. Dia memang sudah terbiasa hidup sulit, sejak kecil yatim piatu, menjadi pengembala hingga pedagang muda. Namun kali ini, dia mengemban misi suci untuk orang banyak, yang membuatnya dan pengikutnya harus menerima caci maki, boikut, hingga kekerasan.

Apalah kiranya yang lebih menyakitkan dibanding permusuhan yang datang dari keluarga sendiri? Apalah kiranya perasaan yang lebih menyakitkan dibanding terusir dari kampung halaman sendiri? Meninggalkan kampung halaman berarti mencabut diri dari akar-akar sosial dan membuat diri rentan. Namun, apa mau dikata, semua yang melekat dalam diri dan hati, di kota Mekkah yang dicintai Muhammad dan pengikutnya itu, harus ditinggalkan. Mereka harus hijrah ke Madinah demi cita-cita yang lebih besar dari ikatan-ikatan kota Mekkah. Inilah jalan sulit yang harus mereka lalui.

Namun, selain karena alasan iman, hijrah bukanlah tindakan nekat tanpa perhitungan. Tiga tahun sebelumnya, 6 orang Yatsrib (Madinah) bertemu Nabi, dan tahun berikutnya 12 orang, dan disusul lagi tahun berikutnya oleh 72 orang. Mereka meminta Nabi ke Madinah, menjadi penengah antara suku Aus dan Khazraj yang terus bertikai. Nabi setuju dengan syarat, para pengikutnya juga diterima di sana. Demikianlah, ketika Mekkah menjadi jalan buntu, Madinah membukakan pintu untuknya. Sepanjang musim panas 622M, lelaki, perempuan dan anak-anak, meninggalkan rumah dan keluarga mereka menuju Madinah. Pada awal September, jumlah mereka sudah mencapai ratusan.

Nabi sendiri belum berangkat. Kaum Quraisy merundingkan tindakan yang tepat. Keputusan yang diambil adalah membunuh Muhammad secara bersama-sama oleh perwakilan masing-masing kabilah agar keluarga Muhammad tidak bisa membalas dendam. Mengetahui akan hal ini, Nabi dan Abu Bakar keluar rumahnya di malam hari, berjalan lima mil ke arah yang berlawanan dengan arah ke Madinah dan bersembunyi di Gua Tsur. Namun, para pencari Nabi pun akhirnya sampai ke Gua Tsur. Ketika itulah pertolongan ajaib Allah datang. Mulut gua ditutup oleh sarang laba-laba yang tebal. Para pencari itu akhirnya mundur, karena berpikir tak mungkin ada orang di dalamnya.

Setelah keadaan terasa aman, Nabi dan Abu Bakar, dibantu seorang pemandu jalan, berangkat. Untuk menghindari para pengejar yang ingin membunuh Nabi, mereka mengambil jalan memutar, pertama ke arah selatan, lalu ke barat menuju pantai Laut Merah, kemudian ke utara. Perjalanan ini menjadi lama, konon hingga sepuluh hari. Ini menunjukkan, Nabi hijrah menggunakan strategi rasional sambil terus mengharap pertolongan Allah. Perjalanan panjang melelahkan itu akhirnya berbuah manis. Mereka tiba di Madinah pada 22 September 622M, disambut meriah penuh suka cita oleh para migran Mekkah (al-Muhâjirûn) dan orang-orang Madinah, para penolong (al-Anshâr).

Demikianlah, kisah hijrah mengajarkan kepada kita tentang watak kehidupan dunia ini, di mana kebaikan dan keburukan terus bertempur, sebagai akibat pilihan-pilihan moral manusia. Inilah dunia di mana kebenaran dan keadilan tidak bisa ditegakkan dengan gampang, melainkan harus melewati jalan terjal dan berliku, meskipun oleh seorang Rasulullah, sang Kekasih Allah. Inilah dunia di mana keajaiban pertolongan Allah biasanya baru datang setelah segala macam usaha dikerahkan secara maksimal. Singkat kata, hijrah itu rasional sekaligus spiritual. Selamat Tahun Baru 1443 H. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved