Breaking News:

Dispersip Kalsel

Hunting Bibliografi, Kadispersip Kalsel Dapat Kesempatan Sentuh Benda Pusaka dari Ahli Waris

Kepala Dispersip Kalsel kembali berkesempatan mengunjungi Masjid Pusaka Banua Lawas di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong.

Penulis: Siti Bulkis | Editor: Alpri Widianjono
DISPERSIP KALSEL
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispersip) Provinsi Kalimantan Selatan, Dra Hj Nurliani Dardie, MAP, bersama ahli waris, memegang benda pusaka yang disimpan di Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispersip) Provinsi Kalimantan Selatan, Dra Hj Nurliani Dardie, MAP, tengah berburu bibliografi keliling. 

Di sela-sela hunting tersebut, Kepala Dispersip Kalsel kembali berkesempatan mengunjungi Masjid Pusaka Banua Lawas yang berada di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalsel.

"Alhamdulillah, Bunda bisa kembali berkunjung ke salah satu masjid tertua dan bersejarah yang ada di Tabalong,"  ucapnya, Rabu (11/8/2021). 

Masjid Pusaka Banua Lawas ini dibangun pada 16 Rajab 1406 H atau 1625 Masehi atas prakarsa Khatib Dayan bersama Sultan Abdurrahman, dibantu masyarakat sekitar. 

Dari kunjungan tersebut, Kepala Dispersip Kalsel Dra Hj Nurliani mendapatkan kesempatan dan kehormatan memegang, menggendong, serta memandikan satu d iantara empat benda pusaka songkol pucuk tiang guru Datu Muning yang usianya hampir empat abad. 

"Kami berkesempatan bertemu dengan ahli waris dan bahkan diberikan kesempatan memegang, menggendong serta ikut memandikan benda pusaka tersebut," ujarnya. 

Benda tersebut, sebelumnya berada dirawat dan disimpan ahli waris di kediamannya.

Kemudian, pada 2019, benda tersebut oleh ahli waris diletakkan dalam lemari kaca yang ada di halaman Masjid Pusaka Banua Lawas

Tidak hanya sekadar memegang, menggendong serta ikut memandikan, Kepala Dispersip Kalsel Dra Hj Nurliani juga mengatakan, kain pembungkus songkol tersebut diberikan kepadanya. 

Benda-benda memiliki nilai sejarah seperti songkol pucuk tiang guru maupun benda bersejarah lainnya harus dijaga dan dirawat.

"Sebab, merupakan warisan dari leluhur yang menjadi bukti sejarah diterimanya Islam bagi suku Dayak Maanyan di Kabupaten Tabalong," ungkapnya. (AOL/*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved