Berita Banjarmasin

Kekerasan Anak Naik Dua Kali Lipat Selama Pandemi,  Begini Penjelasan PPA Kalsel

Selama Pandemi, kekerasan terhadap anak di Kalsel meningkat. Bahkan, saat ini telah melampau dari tahun 2021

Penulis: Milna Sari | Editor: Hari Widodo
Diskominfo Kalsel untuk BPost.
Kepala UPTD PPA Riko Ijami mengungkapkan angka kekerasan anak selama pandemi meningkat dua kali lipat, Jumat (13/8/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Selama Pandemi Covid-9 kekerasan terhadap anak di Kalsel meningkat. Bahkan hingga pertengahan 2021 ini jumlah kekerasan telah melampaui kasus di 2020 lalu.

Pada 2020, Kalsel telah masuk masa Pandemi Covid 19 namun jumlah kekerasan yang dialami anak usia di bawah 18 tahun masih lebih sedikit.

Berdasarkan data UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalsel jumlah kasus kekerasan pada perempuan di 2020 ada 14 kasus, sementara pada anak 33 kasus.

Sementara di 2021 hingga Juli tercatat ada 34 kasus pada anak dan 5 kasus pada perempuan.

Baca juga: Tren Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kalsel 2021, Didominasi Perkosaan

Baca juga: Hingga Juni 2021, DP3A Banjarmasin Terima 55 Laporan Terkait Kekerasan Perempuan dan Anak

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalsel Riko Ijami Jumat (13/8/2021) mengakui, selama Pandemi memang terjadi peningkatan kasus kekerasan pada perempuan dan anak yang signifikan.

Kekerasan terutama berupa KDRT, penelantaran dan pelecehan seksual.

Naiknya kasus kekerasan pada anak, tak lepas dari dampak Pandemi Covid 19 yang membuat terjadinya krisis ekonomi.

Akibat krisis ekonomi ini membuat sering terjadi perselisihan suami istri yang berujung pada penelantaran anak sehingga anak tidak terpelihara hingga terjadi pergaulan bebas dan anak mendapatkan pelecehan seksual.

Kasus kekerasan anak jelasnya bak efek domino yang tidak pernah selesai. Jumlah kasus pada dasarnya jauh lebih banyak. Namun, datanya ada di kabupaten kota.

"Kami dari UPTD hanya menerima kasus rujukan dan yang menjadi kewenangan kami misalnya kasus lintas kabupaten kota atau provinsi," tambahnya.

Total keseluruhan kasus yang terlapor diinstansinya itu diketahui mencapai 39 kasus di 2021 ini, baik kasus kekerasan pada perempuan maupun pada anak.

"Jadi terdiri dari 5 kasus itu perempuan dan 34 kasus pada anak dibawah umur, data ini merupakan hasil laporan korban yang tercatat sampai dengan Juli 2021, secara umum di 2021 ini kasus yang banyak perebutan hak asuh anak, tapi untuk Juli dan Agustus ini yang paling banyak kasus KDRT dan pelecehan terhadap anak," ujarnya

Dari data yang dilampirkan, Riko menyebutkan kasus yang paling banyak mengalami kekerasan hingga saat ini adalah anak.

"Hingga Juli 2021, jumlah korban pada anak paling banyak," ungkapnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved