Breaking News:

Jendela

In Memoriam Guru Kapuh

Sebagai ulama tradisional kharismatik di masyarakat Banjar, Guru Kapuh menjalani pendidikan dasar hingga menengah yang tergolong modern.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - PAGI itu, Rabu, 11 Agustus 2021, bertepatan dengan 2 Muharram 1443, saya menghadiri pengukuhan Pengurus MUI Kalimantan Selatan periode 2021-2026. Acara dilaksanakan di Gedung Mahligai Pancasila dengan protokol kesehatan yang ketat dan tes antigen. Pada saat acara berjalan, tiba-tiba beredar informasi melalui media daring bahwa Tuan Guru Haji Muhammad Ridwan atau yang dikenal dengan sebutan ‘Guru Kapuh’ baru saja meninggal dunia.

Entah mengapa, ada rasa kehilangan tak terperi dan pedih di hati. Padahal, saya tidak pernah berguru langsung dengan beliau, dan hanya pernah sekali bertemu, yaitu pada 3 Maret 2018 silam. Ketika itu, saya diundang Dr. Mukhsin Aseri, M.Ag, MH, Ketua STAI Darul Ulum Kandangan, untuk menyampaikan kuliah umum, sedangkan Guru Kapuh hadir menyampaikan sambutan mewakili unsur Yayasan. Dalam sambutannya, Guru Kapuh menekankan pentingnya perintah ‘membaca’ (iqra’) sebagai wahyu Alqur’an yang pertama. Guru juga mengingatkan agar para mahasiswa rajin belajar menuntut ilmu, bukan demi mengejar gelar, melainkan karena kewajiban dan kebutuhan.

Setelah itu, saya hanya ‘bertemu’ dengan Guru Kapuh di dunia maya, melalui rekaman-rekaman ceramah beliau yang tersedia di You Tube. Saya sungguh menikmati cara beliau menguraikan masalah-masalah agama, dengan bahasa yang sederhana sekaligus dalil-dalil yang meyakinkan. Humor-humornya juga segar dan kadangkala sedikit menyerempet tetapi tetap santun. Guru Kapuh bukan sekadar tukang ceramah yang hanya menghafal sejumlah ayat dan hadis, melainkan seorang ulama yang menguasai ilmu-ilmu keislaman dengan baik. Ketika orang ribut soal vaksin misalnya, beliau dapat menunjukkan dalil-dalil fiqh yang kuat untuk mendukung vaksinasi.

Sosok Guru Kapuh memang unik. Sebagai ulama tradisional kharismatik di masyarakat Banjar, ia justru menjalani pendidikan dasar hingga menengah yang tergolong modern. Setamat Sekolah Dasar pada 1979, pria kelahiran Kandangan, 7 Januari 1965 ini melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri Amawang dan lulus pada 1982. Setelah itu, dia melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam, Gontor, dan selesai pada 1986. Ia seolah melanjutkan jejak dua tokoh asal Kandangan terdahulu yang juga belajar di Pondok Modern Gontor yaitu Hasan Basry (1923-1984), pemimpin perang revolusi dan pahlawan nasional, dan Zafry Zamzam (1918-1972), rektor pertama IAIN Antasari.

Baca Selanjutnya: Merdeka lahir batin

Kandangan memang cukup dini bersentuhan dengan modernitas. Di masa penjajahan, Kandangan merupakan pusat kekuasaan Belanda untuk wilayah Hulu Sungai. Di daerah ini tekanan penjajahan sangat terasa, tetapi dorongan untuk bersikap modern juga kuat. Pada 1931 berdiri organisasi Islam lokal, Musyawaratutthalibin. Pada Kongres 1934, mereka bertengkar soal usul Cabang Alabio untuk mendirikan organisasi sayap khusus perempuan. Akibat pertengkaran ini, Sekretariat Pengurus Besar Musyawaratutthalibin pindah dari Banjarmasin ke Kandangan. Pada Kongres 1936 di Kandangan, Musyawaratuthalibin akhirnya mendirikan sayap perempuan dengan nama Jam’iyatun Nisa.

Namun latar sosial modern tersebut tidak membuat Guru Kapuh tercerabut dari akar tradisi. Setelah meninggalkan Gontor, dia sempat merantau dan bekerja di Sampit Kalimantan Tengah selama tiga tahun. Namun, dia akhirnya pulang kampung dan menuntut ilmu agama kepada para ulama tradisional seperti Tuan Guru H. Saberi dan Tuan Guru Haji Muhammad Aini. Pada 1992-1998, Guru Kapuh secara intensif mengikuti pengajian Guru Sekumpul di Martapura. Inilah masa pembentukan dirinya sebagai Sufi tradisional. Pada saat itu pula, dia mengajar di SMIH dan MAPK Martapura dengan gaji ala kadarnya, yang dapat membantunya bertahan hidup bersama keluarga.

Setelah mengaji dengan Guru Sekumpul, atas izin dan restu beliau, Guru Kapuh pulang kampung dan membuka pengajian di Masjid al-Hidayah. Lama kelamaan pengajiannya semakin ramai, lebih-lebih setelah Guru Sekumpul wafat pada 2005. Orang menemukan jejak-jejak warisan Guru Sekumpul pada diri Guru Kapuh. Apalagi dari jalur ibunya, Guru Kapuh adalah keturunan Muhammad Arsyad al-Banjari, sementara ayahnya, Hasan Baseri, juga seorang ulama. Pengajian Guru Kapuh tidak hanya di Masjid al-Hidayah, tetapi juga di Masjid Agung Attaqwa, Masjid As-Sa’adah dan Masjid Humasa, Rantau. Dia membacakan berbagai kitab, baik bidang tauhid, fiqh ataupun tasawuf.

Baca Selanjutnya: Hijrah rasional dan spiritual

Kecenderungan sufistik pada Guru Kapuh memang terasa sekali. Selain mengajarkan akhlak dan keruhanian kaum Sufi, dia juga mendirikan dua lembaga pendidikan yang diberi nama bernuansa tasawuf. Pada 1998, dia mendirikan sebuah pesantren tradisional dengan nama ‘Minhajul Abidin’ di Desa Telaga Bidadari dengan mengikuti kurikulum Pesantren Darussalam Martapura. Pada 2014, dia juga mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dengan nama ‘Ibnu Athaillah’ di sekitar lokasi pengajiannya di Kapuh. Kita maklum bahwa Minhâjul ‘Âbidîn adalah salah satu kitab tasawuf karangan al-Ghazali (1058-1111), sedangkan Ibnu Athaillah (1259-1310) adalah Sufi terkenal pengarang kitab al-Hikam.

Di sisi lain, Guru Kapuh tetaplah modern. Pada 2009, atas dorongan Bupati Hulu Sungai Selatan (HSS), Muhammad Syafi’i, Guru Kapuh juga terlibat pendirian Pesantren Modern al-Balad al-Amin di Telaga Langsat berupa pendidikan SMP dan SMA ditambah pelajaran-pelajaran agama. Guru Kapuh juga terpilih menjadi Ketua MUI HSS (2017-2022) sehingga dia dapat menjadi jembatan antara umat dan pemerintah. Selama masa pandemi, Guru Kapuh sangat aktif mendukung kebijakan protokol kesehatan dari pemerintah. Pengajian beliau pun dilaksanakan secara daring. Terakhir, rekaman pengajiannya yang banyak ditonton orang adalah tentang Manakib Guru Sekumpul.

Demikianlah, Guru Kapuh adalah ulama Banjar kharismatik tradisional sekaligus modern. Dia tidak hanya menjadi pendidik, tetapi juga mewariskan lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai ulama, dia juga mampu menjadi jembatan antara umat dan pemerintah. Selamat jalan Guru Kapuh. Murid-muridmu akan selalu merindukanmu. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved