Breaking News:

Berita HST

Ba’aruh Babuat, Tradisi Memindah Padi dari Karung ke Lulung Masyarakat Adat Papagaran

Warga adat Dayak Meratus di Kampung Papagaran, Desa Patikalain, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, sangat menghormati padi. Hasil panen

Penulis: Hanani | Editor: Edi Nugroho
banjarmasinpost.co.id/hanani
Rumah Lampau, atau tempat untuk lumbug padi warga Adat Meratus di Kampung Papagaran Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Warga adat Dayak Meratus di Kampung Papagaran, Desa Patikalain, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, sangat menghormati padi. Hasil panen yang mereka tanam susah payah di ladang.

Saking hormatnya, padi yang baru dipanen diperlakukan istimewa sebelum dikonsumsi melalui tradisi Ba’aruh Babuat.

Baaruh babuat adalah proses pemindahan hasil panen padi dari karung ke tempat khusus yang disebut lulung. Lulung diletakkan di lumbung padi atau lampau. Lulung terbuat dari kayu meranti hitam. Sedangkan lumbung dari paring atau bambu.

Satu lulung menampung 1000 gantang. Semua warga setempat menyimpan padi mereka di lampau.

Baca juga: Warga Dayak Deah di Desa Liyu Halong Balangan Kembali Gelar Mesiwah Pare Gumboh

Baca juga: Diundang di Malam Anugrah Pemenang Lida 2021, Kesenian Kotabaru Tampilkan Tari Dayak-Pesisir MelayU

Baca juga: Hidden of Tapin, Kisah Sekelompok Anak Muda Selamatkan Hutan Adat dan Kearifan Lokal Dayak Meratus

Baca juga: Hidden of Tapin, Kisah Sekelompok Anak Muda Selamatkan Hutan Adat dan Kearifan Lokal Dayak Meratus

Sebelum disimpan, berdoa dulu menurut keyakinan mereka. Menurut Madin, pemilik salah satu lulung di dalam lampau yang ada d rumah Balai tersebut, penyimpakan hasil panen tersebut baru boleh diambil untuk dimakan setelah tiga hari.

Proses memindah padi dari karung ke Lulung, yang diletakan dalam lampau disertai Baaruh,
Proses memindah padi dari karung ke Lulung, yang diletakan dalam lampau disertai Baaruh, (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Adapun jenis padi mereka adalah sebuyung da arjuna. “Boleh juga menjual padi atau berasnya, asalkan sudah diaruhi (syukuran) melalui tradisi Aruh Adat. Kalau tidak pamali (pantanga) bagi kami,”katanya.

Meski boleh dijual, jelas Madin, jarang sekali masyarakat adat menjual hasil panen mereka, krena lebih baik disiman untuk persediaaan pangan setahun.

Pada tradisi Baaruh Babuat, mereka juga memuat riringgitan terbuat dari daun aren, daun risi dan jubung-jubung (tanaman yang ada di hutan Meratus HST) serta daun sirih.

Madin menyatakan, tradisi tersebut sudah dilakukan oleh leluhur mereka. Adapun hasil panen tahun ini, menurutnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama satu tahun. Jarang sekali mereka gagal panen, meski tetap mengandalkan pertanian organic.

Adapun cara mereka menyimpanberas hasil panen untuk tahun berikutnya di dalam lumbung dikenal dengan istilah beras usang. Beras usang merupakan cadagan, sebagai antisipasi jika terjadi gagal panen, sehingga tak sampai terjadi krisis pangan di kalangan warga Adat. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved