Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Haruan Pengaruhi Inflasi di Kalsel, BPAT Mandiangin Masih Terus Hasilkan Bibit Ikan Ini

Berdasarkan sistem produksi dengan metode alami terkontrol, sepasang induk ikan haruan di BPBAT Mandiangin Kalsel bisa menghasilkan 30–35 ribu benih.

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
DOK BANJARMASIN POST GROUP
ILUSTRASI - Ikan haruan di Desa Pabaungan Pantai RT 3, Kecamatan Candi Laras Selatan (CLS), Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Potensi ekspor Ikan Haruan masih terus digarap pemangku kebijakan ekonomi.

Pasalnya, Ikan Haruan atau ikan gabus ini sering menjadi indikator inflasi di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Harganya sekarang per kilogram Rp 60 ribu. Kalau tak lagi musimnya, maka bisa sampai tembus Rp 100 ribu.

Karena pembudidayaan atau pengolahannya terus dilakukan. Salah satunya dilakukan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalsel.

Pihak balai mulai melakukan penelitian terkait budi daya Ikan Haruan sejak 2011 dan sudah berhasil melakukan domestikasi pada 2015.

Menurut Kepala BPBAT Mandiangin, Andy Artha Donny Oktopura, Minggu (29/8/2021), keberhasilan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam mengembangkan budi daya jenis ikan tersebut di Indonesia.

Baca juga: Pasokan Ikan Haruan untuk Lokal Masih Kurang, Pemprov Kalsel Kembangkan Kampung Haruan

Baca juga: Menjanjikan, Ekspor Albumin Ikan Haruan dan Sarang Walet dari Kalsel

"Komoditas yang dikembangkan di BPBAT Mandiangin tidak hanya Ikan Haruan, namun juga ikan lokal air tawar serta ikan introduksi lainnya yang lain, yaitu papuyu, jelawat, belida, arwana banjar, patin, gurami, mas, nila dan lele," sebutnya.

Ada 4 lokasi budi daya yang berpusat di Mandiangin, dengan luas 8,3 hektare.

Didukung 3 instalasi, yaitu di Bincau seluas 4 hektare dan Awang Bangkal, sama-sama di Kabupaten Banjar,  Kalsel. Satu lagi di Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, luasnya 26 hektare. 

Untuk pengembangan Ikan Haruan ini dilakukan di 2 lokasi, yaitu di Mandiangin Kalsel seluas kurang lebih 0, 5 hektare  dan Pulang Pisau Kalteng dengan luas kurang lebih 1 hektare.

Berdasarkan sistem produksi yang sudah dilakukan dengan metode alami terkontrol, maka sepasang induk bisa menghasilkan larva/benih sebanyak 30–35 ribu ekor per tahun. 

Kolam tempat budi daya ikan haruan (gabus) dikunjungi Bupati Drs H Achmad Fikry di Desa Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, Rabu (7/7/2021).
Kolam tempat budi daya ikan haruan (gabus) dikunjungi Bupati Drs H Achmad Fikry di Desa Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, Rabu (7/7/2021). (DISKOMINFO KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN)

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved