Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Cuaca Tak Bersahabat, Tangkapan Ikan Laut Nelayan Kalsel Turun 15 hingga 20 persen. 

Cuaca di Kalsel sepekan terakhir tidak bersahabat. Kondisi ini, membuat nelayan kalsel tidak bisa melaut yang berpengaruh turunnya produksi ikan laut

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
BANJARMASINPOST.CO.ID/MAN HIDAYAT
Nelayan saat berada di Pelabuhan Perikanan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINBPOST, BANJARBARU - Kadang hujan kada terang. Cuaca tidak menentu. Bahkan gelombang laut pun kadang tinggi.

Imbasnya, para nelayan tidak bisa melaut.  Karena itu, produksi ikan laut saat ini turun.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel, Rusdi Hartono mengatakan, pihaknya telah menerima informasi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin bahwa cuaca saat ini sedang tidak bersahabat. Sehingga bisa memicu tingginya gelombang laut.

"Sehingga, kami harus selektif mengeluarkan surat persetujuan berlayar. Kalau cuaca buruk, nelayan tidak kami izinkan berlayar," katanya.

Baca juga: Dikabarkan Hilang saat Melaut, Nelayan Desa Alle-alle Kotabaru Ini Ditemukan Meninggal

Baca juga: Konversi BBM ke Gas Telah Didapat, Nelayan Tala ini Optimistis Biaya Melaut Lebih Irit

Dia mengungkapkan, karena ada sejumlah nelayan tidak diperbolehkan melaut, kini produksi ikan laut Kalsel menurun.

"Ikan laut produksinya turun  sekitar 15 sampai 20 persen," kata dia.

Penurunan produksi ikan sendiri menurut Rusdi dapat dilihat dari jumlah kapal nelayan yang tiba di pelabuhan perikanan. 

"Biasanya di  pelabuhan Banjarmasin misalnya, biasanya sehari ada 5 sampai 10 kapal nelayan tiba membawa ikan. Sekarang cuma dua sampai tiga kapal," kata Rusdi Hartono.

Kapal nelayan yang tiba sendiri kata dia, biasanya masing-masing membawa 10 hingga 15 ton ikan laut. "Jadi sehari produksi ikan kita turun puluhan ton," katanya.

Namun, Rusdi memastikan, turunnya produksi ikan laut tidak mengganggu ketersediaan di pasaran. "Bahkan masih ada yang dikirim ke Kalteng dan lain-lain," runutnya.

Secara terpisah, Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Rianita Sekar Utami menyampaikan, untum gelombang di Laut Jawa dan perairan Kotabaru juga masih tinggi: antara 1,25 - 2,5 meter.

"Ini masih perlu diwaspadai bagi kapal-kapal berukuran kecil," tuturnya.

Cuaca saat ini sendiri menurut Rianita, dipengaruhi oleh adanya Madden Julian Oscillation (MJO). Di mana 26 Agustus 2021 tadi berada pada kuadran 2 (Indian Ocean).

Baca juga: Kondisi Gelombang Berangsur Normal, Nelayan Kotim Kembali Melaut, Tangkapan Ikan pun Makin Banyak

"Ini menunjukkan  MJO  cukup  berkontribusi terhadap  proses pembentukan awan hujan di   wilayah Indonesia," lontarnya.

Di samping itu, dijelaskannya bahwa model filter spasial MJO menunjukkan adanya gangguan fenomena MJO di wilayah Laut Jawa, Selat Makassar bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, Teluk Bone dan Kalimantan Selatan bagian Selatan yang mampu meningkatkan aktivitas konvektif  di   wilayah  tersebut. (banjarmasinpost /nurholis huda) 
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved