Breaking News:

Opini Publik

Kuda-kuda Menghadapi Taper Tantrum

Pidato Presiden AS Joe Biden pada kemerdekaan 4 Juli 2021 kembali mencuatkan keyakinan taper tantrum akan diluncurkan lebih cepat

Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id
Haryo Kuncoro 

Oleh: Haryo Kuncoro, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, Direktur Riset SEEBI
(The Socio-Economic & Educational Business Institute) Jakarta, Doktor Ilmu Ekonomi Alumnus UGM Yogyakarta

BANJARMASINPOST.CO.ID - TEKA-TEKI kapan kebijakan taper tantrum akan dimulai bank sentral Amerika Serikat (AS) sedikit demi sedikit mulai terkuak. Isu taper tantrum memang sudah mengemuka sejak akhir tahun lalu. Namun kemudian ia seakan timbul-tenggelam mengikuti pergerakan positivity rate dari pandemi Covid-19.

Pidato Presiden AS Joe Biden pada hari kemerdekaan 4 Juli 2021 kembali mencuatkan keyakinan taper tantrum akan diluncurkan lebih cepat dari perkiraan semula. Angka inflasi yang menembus 5 persen, tingkat pengangguran yang menurun, serta pertumbuhan ekonomi yang positif seolah mengonfirmasinya.

Akan tetapi, munculnya varian baru Covid-19, alpha, beta, gamma, delta, dan kappa dan seterusnya, lagi-lagi, menurunkan probabilitas taper tantrum. Hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka the Fed (FOMC) akhir Juli 2021 pun masih ‘ngambang’. Artinya, taper tantrum AS seakan sengaja dibiarkan menjadi misteri.

Gonjang-ganjing taper tantrum mencapai titik terang saat gubernur bank sentral AS, Jerome Powell, memberikan pernyataan di Jackson Hole Economic Policy Symposium akhir pekan lalu (27/8). Meski tidak spesifik menjawab kapan, taper tantrum bisa dilakukan di tahun ini seiring pengawasan atas risiko Covid-19 yang terus berkembang.

Taper tantrum ditandai, pertama, dengan pengurangan pembelian the Fed atas surat utang yang diterbitkan pemerintah AS. Pembiayaan stimulus fiskal mengandalkan surat utang dalam jumlah besar. Kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) bank sentral AS diarahkan menyerap surat utang tadi.

Kedua, surat utang pemerintah yang dipegang bank sentral AS kemudian mulai dilepas ke pasar global. Penyeimbangan kembali neraca keuangan internal the Fed menjadi argumen yang paling logis. Optimalitas portofolio finansial adalah sasaran jangka pendek yang hendak dikejar bank sentral AS.

Ketiga, agar sasaran di atas berjalan mulus, the Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebagai iming-iming ekstra. Status surat berharga pemerintah AS sebagai aset keuangan yang bebas risiko (risk free) plus kenaikan imbal hasil akan menarik masuknya pemain pasar keuangan global.

Pemodal asing di pasar negara berkembang akan bergegas menukarkan aset finansialnya dengan dolar untuk dibawa ke AS. Konsekuensinya, permintaan dolar AS akan naik tajam dan cadangan devisa menyusut drastis. Intinya, fenomena ‘dolar pulang kampung’ akan menekan nilai tukar mata uang domestik.

Bagaimana dengan Indonesia? Indikator makroekonomi utama cadangan devisa berada di posisi 137,34 miliar dolar AS per Juli 2021. Komparasi cadangan devisa saat tapering off 2013, ketika itu ‘hanya’ 80-90 miliar dolar AS. Hal ini mempertebal konfidensi Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter dalam menghadapi risiko taper tantrum.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved