Breaking News:

Atasi Rasa Takut Cuci Darah

Tips Atasi Rasa Takut Cuci Darah Alami Gagal Ginjal, Jangan Khawatir Kini Sudah Canggih

Inilah tips mengatasi rasa takut atau phobia untuk lakukan cuci darah.Cuci darah atau hemodialisis adalah prosedur untuk menggantikan fungsi ginjal.

Penulis: Mariana | Editor: M.Risman Noor
BANJARMASINPOST.CO.ID/AYA SUGIANTO
Bincang tentang cuci darah di Program BTalk hadirkan narasumber Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB, dipandu jurnalis Banjarmasin Post, M Risman Noor, Selasa (31/8/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Inilah tips mengatasi rasa takut atau phobia untuk lakukan cuci darah.

Cuci darah atau hemodialisis adalah prosedur untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak bisa bekerja dengan baik akibat kerusakan pada organ tersebut.

Prosedur cuci darah juga membantu mengontrol tekanan darah dan menyeimbangkan kadar mineral dalam darah, seperti kalium, natrium, dan kalsium.

Cuci darah menjadi salah satu solusi untuk bisa tetap sehat dan menjalani hidup bagi orang yang sudah mengalami kerusakan ginjal.

Baca juga: Konsumsi Rutin Setiap Hari, Khasiat Temulawak Bisa Mencegah Diabetes dan Obesitas

Baca juga: Cara Pengobatan Vitiligo, Melalui Terapi Maupun Obat Herbal & Ingat Ini Tak Menular

Namun mendengar cuci darah, banyak bayangan menakutkan menghantui seseorang yang sudah divonis gagal ginjal.

Terjadi phobia sehingga membuat lebih dulu trauma.

Dipaparkan narasumber BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB,Paling sering phobia itu adalah setelah cuci darah akhirnya meninggal, seolah cuci darah tak ada gunanya.

Padahal ini bentuk ikhtiar dan umur itu rahasia Allah SWT. Bisa saja karena merasa sudah cuci darah kemudian gaya hidup dan pola makan tak terjaga, sementara metabolisme tubuhnya terganggu karena gagal ginjal. Akibatnya terjadi hal tak diinginkan.

Teknologi medis sekarang sudah canggih, jadi tak tak perlu fobia. Prosesnya aman dan banyak tenaga medis yang ahli di bidangnya.

Hemodialisa dilakukan jika fungsi regular ginjal sudah minimal atau tidak berfungsi lagi. Jadi dengan alat cuci darah itu fungsi ginjal digantikan.

Fase Cuci Darah ada metode temporer atau sementara yang tak perlu operasi langsung untuk akses, melainkan penusukan langsung pada arteri atau vena.

Baca juga: BTalk, Plus Minus Tato Alis Menurut Dokter Kulit Dwiana Savitri dari Banjarmasin

Posisinya antara lain di pangkal paha dan di antara antara siku.

Kedua, metode permanen karena Cuci Darah harus dilakukan terus-menerus. Metode permanen ini ada dua cara, yaitu arteveri dan vena disambung dalam tubuh.

cuci darah bisa di sana. Memang ada plus minus, karena itu benda asing maka bisa saja terjadi infeksi dan iritasi.

Jalur Cuci Darah atau akses ini, sebelum dilakukan pembedahan, maka dicek dulu, metode mana yang mana paling tepat.

Mengenai interval Cuci Darah, seminggu dilakukan satu, dua, tiga kali, kemudian durasinya 3-4 jam, bahkan 5 jam. Tergantung kondisi sampah metabolisme.

Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB, hadir dalam acara BTalk yang membahas tentang cuci bersama jurnalis Banjarmasin Post sebagai host, M Risman Noor, Selasa (31/8/2021).
Dekan Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Banjarmasin, Solikin Ns MKep SpKep MB, hadir dalam acara BTalk yang membahas tentang cuci bersama jurnalis Banjarmasin Post sebagai host, M Risman Noor, Selasa (31/8/2021). (BANJARMASINPOST.CO.ID/AYA SUGIANTO)

Ada perhitungan atau rumusnya. Jadi berapa kali seminggu dan berapa jam per Cuci Darah adalah berdasar perhitungan secara medis.

Bagi orang yang harus Cuci Darah, maka harus rutin. Jangan sampai terputus. Misal, saat jadwal Cuci Darah, malah mengabaikan.

Kemudian, bagi yang bekerja, silakan tetap bekerja, tapi jaga pola makan dan gaya hidup.

Cara lain selain Cuci Darah, disebutkannya, tentang cangkok ginjal. Namun secara medis, donor atau transplantasi itu tidak mudah.

"Setiap orang punya spesifikasi organ tubuh, transplantasi bisa dilakukan jika ada kecocokan baik itu sel maupun DNA.

Sehingga yang paling sesuai itu pendonornya dari kalangan keluarga sendiri karena ada hubungan darah.

Namun tetap perlu waktu lama untuk memastikan kecocokan.

Baca juga: Khasiat Madu bagi Ibu Menyusui, Dicampur Jahe Dapat Melancarkan Aliran ASI

Ketika diagnosis mengalami penyakit ginjal, seseorang sangat mungkin merasa akan khawatir jika harus menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis.

Bagaimana tidak, terapi cuci darah bukan hanya menyita tenaga, tapi juga bisa menyita waktu, pikiran, dan keuangan.

Padahal sebenarnya penderita penyakit ginjal tidak selalu membutuhkan perawatan hemodialisis.

Lantas, kapan penderita penyakit ginjal harus cuci darah?

Ilustrasi
Ilustrasi (Shutterstock)

Melansir National Kidney Foundation, penderita penyakit ginjal pada umumnya baru memerlukan perawatan cuci darah ketika didiagnosis sudah mengalami gagal ginjal stadium akhir atau stadium 5.

Gagal ginjal stadium akhir adalah kondisi ketika penderita penyakit ginjal mengalami kehilangan sekitar 85-90 persen fungsi ginjal dan memiliki perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR) kurang dari 15 ml/menit/1,73 m2.

eGFR adalah tes terbaik untuk mengukur tingkat fungsi ginjal dan menentukan stadium penyakit ginjal seseorang.

Dokter dapat menghitung eGFR dari hasil tes kreatinin darah pasien, usia pasien, ukuran tubuh pasien, dan jenis kelamin pasien.

GFR dapat memberi tahu dokter stadium penyakit ginjal yang dialami pasien dan membantu dokter merencanakan perawatan terbaik.

Baca juga: BTalk - Pilih Cemilan Bergizi Menurut Nany Suryani dari Stikes Husada Borneo Kalsel

Jika angka GFR pasien rendah, ginjalnya berarti sudah tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.

Dilansir dari American Kidney Fund, pada penyakit ginjal kronis stadium 5, ketika ginjal bekerja pada kapasitas kurang dari 15 persen, limbah dan racun akan menumpuk dalam darah.

Kondisi ini bisa mengancam jiwa. Berikut ini adalah beberapa gejala penyakit ginjal stadium akhir atau gagal ginjal yang bisa terjadi:

1. Sakit punggung dan dada

2. Masalah pernapasan

3. Ketajaman mental menurun

4. Kelelahan

5. Sedikit atau tidak ada nafsu makan

10 Tanda Ginjalmu Tidak Sehat, Perhatikan Sebelum Terlambat!
10 Tanda Ginjalmu Tidak Sehat, Perhatikan Sebelum Terlambat! (bestlifeonline.com)

6. Otot berkedut atau kram

7. Mual atau muntah

8. Gatal terus menerus

9. Susah tidur

10. Kelemahan parah

11. Pembengkakan pada tangan dan kaki

12. Buang air kecil lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya

Dilansir kompas.com, Siapa saja yang mengalami gejala di atas atau mencurigai diri mengalami gejala penyakit ginjal penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Ketahuilah bahwa semakin dini penyakit ginjal terdeteksi, maka kian baik untuk memperlambat atau menghentikan perkembangannya.

Pada penderita penyakit ginjal stadium akhir, risiko untuk mengalami penyakit jantung dan stroke bisa semakin meningkat.

eGFR di bawah 60 selama tiga bulan atau lebih atau eGFR di atas 60 dengan kerusakan ginjal (ditandai dengan tingginya kadar albumin dalam urine) dapat menunjukkan penyakit ginjal kronis.

Dokter biasanya ingin menyelidiki penyebab penyakit ginjal pasien dan terus memeriksa fungsi ginjalnya untuk membantu merencanakan perawatan terbaik.

Biasanya, tes urine sederhana juga akan dilakukan untuk memeriksa darah atau albumin (sejenis protein) dalam urine.

Ketika seseorang memiliki albumin dalam urine, itu disebut albuminuria. Darah atau protein dalam urine bisa menjadi tanda awal penyakit ginjal.

Orang dengan jumlah albumin yang tinggi dalam urine berada pada peningkatan risiko penyakit ginjal kronis berkembang menjadi gagal ginjal.

Dokter mungkin juga akan menyarankan pengujian lebih lanjut, jika perlu, seperti:

1. Tes pencitraan seperti USG atau CT-scan untuk mendapatkan gambaran kondisi ginjal dan saluran kemih

2. Biopsi ginjal yang dilakukan dalam beberapa kasus untuk memeriksa jenis penyakit ginjal tertentu, melihat seberapa banyak kerusakan ginjal yang terjadi dan membantu merencanakan pengobatan. Untuk melakukan biopsi, dokter mengambil potongan kecil jaringan ginjal dan melihatnya di bawah mikroskop.

(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved