Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Harga Gabah Kering di Tingkat Petani Kalsel Turun 0,27 Persen

BPS Kalsel mencatat gabah kering panen petani pada Juli 2021 harganya Rp 4.967,25 per kg, pada Agustus ini menjadi Rp 4.954,00 per kg.

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/RENI KURNIAWATI
Petani panen padi di Desa Sungai Baring, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (1/9/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID,  BANJARBARU - Rata-rata Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani di  Kalimantan Selatan (Kalsel) turun 0,27 persen.

Pada Juli 2021 harganya Rp 4.967,25 per kg, pada Agustus ini menjadi Rp 4.954,00 per kg.

Kepala BPS Kalsel Yos Rusdiansyah, menjelaskan, harga gabah di tingkat penggilingan turun 0,22 persen dari Rp 5.056,10 per kg pada Juli 2021 menjadi Rp 5.045,16 per kg saat Agustus 2021.

Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) di Kalsel pada Agustus 2021 sebesar 106,35. 

Baca juga: Kejar Peningkatan Produksi Sawit Kalsel, Disbunak Targetkan Peremajaan 10.700 hektar

Baca juga: UMKM Kalsel Terdampak Pandemi Akan Dapat Rp 20 Juta dari BAZNAS dan ACT

"Angka ini menunjukkan bahwa petani mengalami kenaikan dalam hal perdagangan, ketika tingkat rata-rata harga yang diterima mengalami kenaikan yang lebih cepat daripada tingkat rata-rata harga yang dibayar untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi terhadap tahun dasar atau NTP di atas 100," urainya.

Pada Agustus 2021 terjadi penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Kalsel sebesar 0,21 persen dari 107,57 menjadi 107,34 pada Agustus 2021.

Disebabkan, turunnya indeks di beberapa kelompok penyusunan IKRT, terutama kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau.

"Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian atau NTUP Kalimantan Selatan pada Agustus 2021 tumbuh sebesar 107,09. Nah, nilai ini dapat diartikan bahwa untuk kegiatan usaha pertanian yang dilakukan petani mengalami kenaikan, ketika tingkat rata-rata harga yang diterima mengalami kenaikan yang lebih cepat daripada tingkat rata-rata harga yang dibayar untuk biaya produksi," ulasnya.

Baca juga: BPS Kalsel Mencatat Inflasi Tertinggi terjadi di Kotabaru, Terendah di Tanjung

Baca juga: Kepala BI Kalsel Tekankan Hilirisasi Batu Bara untuk Memaksimalkan Nilai Ekonomis

Berarti, lanjut dia, kegiatan usaha yang dilakukan petani memberikan keuntungan.

Sementara itu, petani lokal, Adi, mengaku, memang pada bulan itu lagi turun harga gabah lokal.

"Padahal saat itu masih PPKM level 4 lagi giat-giatnya. Tapi sekarang di bulan September awal ini sudah mulai ada keinaikan harga gabah," sebut Adi.

(Banjarmasinpost /Nurholis Huda)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved