Breaking News:

Fikrah

Upaya Menggapai Takwa

Jalan untuk mencapai takwa setelah seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat adalah mendirikan salat sebagai rukun Islam yang kedua

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALLAH Swt berfirman dalam surah Ali Imran ayat 102 yang berbunyi: ‘Yaa ayyuhalladziina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi, walaa tamuu tunna illa wa antom muslimun. Artinya wahai orang orang yang beriman bertakwalah kepada Allah Swt dengan sebenar-benar takwa. Dan janganlah kamu meninggal melainkan dalam keadaan Islam.”

Setelah ayat ini turun dan didengar serta diresapi oleh ummat Islam pada masa Nabi Muhammad Saw, para sahabat banyak yang menangis karena merasa tidak mampu bertakwa dengan sebenar-benarnya. Kemudian beberapa waktu turun lagi ayat yang berbunyi: ‘Fattaqullaha mastata’tum. Artinya bertakwalah kamu semaksimal mungkin.” ( Surah Al Jasiah ).

Jadi dua ayat ini, kita sebagai orang muslim harus berusaha mencapai takwa sepenuhnya atau semaksimal mungkin. Namun sesuai kemampuan kita masing-masing sebagai seorang muslim dan mukmin. Pada zaman dahulu ada beberapa sahabat yang merasa bahwa dengan masuknya mereka kedalam Islam merupakan jasa besar mereka kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini dijelaskan bahwa bukan mereka yang berjasa kepada Nabi Muhammad Saw, tetapi yang berjasa adalah Allah Swt dengan menunjuki mereka kedalam Islam.

Jalan untuk mencapai takwa setelah seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat adalah mendirikan salat sebagai rukun Islam yang kedua. Sudah kita maklumi bahwa salat fardhu yang diwajibkan oleh Allah Swt kepada umat Islam adalah lima waktu. Pada mulanya perintah ini diterima oleh Nabi Muhammad Saw di hadirat Allah Swt sebanyak lima puluh waktu yaitu pada waktu Nabi Muhammad Saw dipanggil oleh Allah Swt dalam peristiwa Isra dan mi’raj nya beliau. Namun demikian salat yang lima puluh waktu ini dikerjakan hanya lima waktu saja, karena seorang muslim dalam ketaatannya kepada Allah Swt bernilai sepuluh. Allah Swt berfirman, “Al hasanatu bi ‘asyri amtsaliha. Artinya satu kebaikan bagi seorag muslim bernilai sepuluh.”

Mencapai takwa adalah zikir. Zikir yang purna ialah salat. Allah Swt berfirman, “Wa aqimisshalata lidzikri. Artinya dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” Sarana lainnya adalah bertasbih dengan ungkapan subhanallah, walhamdulillah, walaailaha illallah, wallahu akbar, walahaula wala kuwwata illa billah al aliyil adzim.
Tasbih ini adalah tanam tanaman surga, surga akan dianugerahkan oleh Allah Swt kepada mereka yang berhak memasukinya, setiap orang seluas langit dan bumi. Inilah yang dipesankan oleh Nabi Iberahim As kepada Nabi Muhammad Saw ketika beliau mi’raj dan bertemu dengan Nabi Ibrahim As yang bertemu di langit ke tujuh. Nabi Iberahim As berkata kepada Nabi Muhammad, “ya Muhammad, ablig ummataka minniassalam, wa akhbirhum annaljannata tayyibatutturbah, azbatul maa wagira suha subhanallah (Tasbih), walhamdulillah (Tahmid), walaa ilaha illallah (Tahlil), wallahu akbar (Takbir), walahaula walakuwata illa billahil aliyyil adzim (Haukalah).”

Tetapi sebenarnya zikir adalah ketaatan kepada Allah. Ibnu mas’ut ar berkata, “zikrullahi huwa tha’atuhu, waman lam yuti’hu lam yazkurillaha walau kasirattasbih. Artinya seseorang yang berzikir kepada Allah Swt adalah orang yang ta’at kepadaNya. Barangsiapa yang tidak taat kepadaNya maka orang itu bukan lah orang yang berzikir kepada Allah walaupun mulutnya banyak mengucapkan tasbih.

Dalam rangka memperbanyak tasbih kepada Allah SWT kepada umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat sunat tasbih yaitu shalat empat rakaat dua kali salam, bisa dikerjakan di waktu siang. Salat ini disampaikan oleh Nabi AS kepada paman beliau Abas RA. Wahai paman ku Abas salatlah empat rakaat setiap rakaat paman bertasbih tujuh puluh lima kali, sehingga dalam empat rakaat berjumlah tiga ratus kali tasbih yaitu lima belas kali sewaktu berdiri usai membaca surah Al Fatihah dan ayat, kemudian masing-masing sepuluh kali yaitu dalam rukuk, dalam iktidal, dalam sujud pertama, dalam duduk antara dua sujud, dalam tahyat sebelum salam, sehingga semuanya berjumlah tiga ratus kali. Dengan shalat tasbih ini akan mengampunkan sepuluh macam dosa yaitu dosa yang sengaja dan dosa tidak sengaja, dosa sekarang dan dosa yang akan datang, dosa yang nampak maupun yang tersembunyi, dosa yang sedikit ataupun yang banyak dan dosa yang kecil maupun dosa besar.

Semoga dapat kita resapi bersama sehingga dapat melaksanakannya salat tasbih ini. Dikerjakan minimal sekali dalam seminggu atau sekali dalam sebulan atau sekali dalam setahun. Kalau tidak mampu juga sekali dalam seumur hidup. Ini lah biasanya yang dikerjakan oleh umat islam pada malam nisfu sya’ban, karena dikatakan malam nisfu sya’ban adalah malam penghapusan dosa dan diangkatnya amal kehadiran Allah Swt. Nabi Saw bersabda: “iza kanat lailatun nisfi min sya’bana fakumu lailaha wasumu naharaha. Artinya apabila malam mispu sya’ban tiba maka dirikanlah shalat pada malamnya dan puasa lah di siang harinya. Syekh Ahmad Sarbasi berkata bahwa seminimal mungkin mendirikan shalat pada malamnya ialah shalat berjemah di masjid; magrib, isya dan subuh dan puasa sehari pada pertengahan atau nisfu sya’ban. Wallau ‘alam. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved