Breaking News:

Opini

Fenomena Praktik Eksploitasi Anak “Berkelanjutan”

HAMPIR di setiap titik lampu lalu (merah) lintas, kita dapat menemui anak usia sekolah, sedang melakukan aktivitas “meminta-minta”, dengan beragam car

Editor: Edi Nugroho
Zayanti Mandasari
Zayanti Mandasari 

Editor: Edi Nugroho

Oleh: Zayanti Mandasari
Asisten Penerimaan dan Verifikasi Laporan Ombudsman RI Kalsel

HAMPIR di setiap titik lampu lalu (merah) lintas, kita dapat menemui anak usia sekolah, sedang melakukan aktivitas “meminta-minta”, dengan beragam cara, ada yang membawa kaleng kecil sembari menggunakan kostum karakter kartun, ada yang dengan cara membersihkan kendaraan (baik mobil/motor) dengan kain lap, ataupun dengan membagikan amplop kosong kepada pengendara di waktu lampu lalu lintas berwarna merah.

Fenomena aktivitas anak di jalanan ini semakin marak terlihat.

Dalam satu kesempatan Penulis pernah menghampiri tiga orang anak yang menggunakan kostum kartun/badut, yang menurut Penulis lumayan berat, dan panas jika dikenakan, khususnya di siang hari. Penulis bertanya “pian (kamu) kelas berapa?

Kada (tidak) sekolah kah? Kenapa dijalaan memakai kostum kemos (kartun), ada yang meyuruh kah)”.

Serentak ketiga anak menjawab ulun (saya) kelas 4, ulun (saya) kelas 3 dan ulun (saya) kelas 3. Selain itu, dari ketiga anak tersebut, semuanya menjawab sekolahnya libur, dari hp saja sekolahnya.

Baca juga: Opini yang Memenjarakan

Dan mereka memakai kostum dan turun kejalan, diajak oleh orang tuanya. Bahkan dengan polosnya salah satu anak menjawab, nyaman ka ai banyak duit ulun dibari orang (banyak diberi orang uang), tapi panas pang di dalam kostum ni amun siang (tapi panas didalam kostum kalau siang hari)”.

Melihat fenomena tersebut, Penulis menarik beberapa kesimpulan. Pertama, keterbatasan ekonomi orangtua, menyebabkan tidak ada pilihan, selain melibatkan anak untuk bekerja, karena seluruh kebutuhan hidup termasuk sekolah, membutuhkan biaya.

Sementara orangtua tidak mendapatkan bantuan/jaring pengaman sosial. Kedua, bisa jadi merebaknya fenomena anak “berkeliaran” di jalan dan meminta-minta dengan menggunakan kostum kartun/badut tersebut, adalah salah satu imbas dari pembelajaran daring.

Dimana anak tidak harus ke sekolah, cukup belajar dari rumah menggunakan handphone, dan orangtua kurang mengontrol pembelajaran, sehingga si anak menganggap sekolah sedang libur.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved