Breaking News:

Opini Publik

Mendidik Anak Aman dan Cakap Literasi Digital (Refleksi Hari Aksara Internasional)

Anak-anak yang kini hidup di era literasi digital sebagian besar memiliki ketergantungan yang luar biasa terhadap gadget

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Ahmad Syawqi, Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENARIK ketika kita cermati tema yang diangkat di Hari Aksara Internasional 8 September 2021 yaitu Literacy for a human-centered recovery: Narrowing the digital divide (Literasi untuk pemulihan yang berpusat pada manusia : Mempersempit kesenjangan digital). Tema ini diangkat di tengah krisis pandemi Covid-19 yang telah mengganggu pembelajaran anak-anak, remaja, dan orang dewasa dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Satu hal yang saat ini menjadi kekhawatiran di kalangan orangtua dan juga pendidik adalah terkait penggunaan literasi digital anak yang kini menjadi sebuah kebutuhan pokok. Anak-anak yang kini hidup di era literasi digital sebagian besar memiliki ketergantungan yang luar biasa terhadap gadget. Hal ini ditulis pada kolom Tajuk tentang Kecanduan Kronis Gadget yang dimuat melalui media Banjarmasin Post edisi Kamis 2 September 2021 halaman 4. Yang perlu dicermati dan wajib menjadi perhatian kita semua adalah bahwa kondisi anak kecanduan gadget di Kalimantan Selatan sebagai dampak dari pembelajaran daring yang tak diawasi dengan baik oleh sekolah dan orangtua cukup banyak. Bahkan lembaga-lembaga terapi dan psikologi juga sibuk mengobati anak kecanduan gadget selama pembelajaran daring ini.

Semua kita tahu bahwa gadget merupakan pintu kita masuk ke dunia digital melalui sebuah perangkat elektronik kecil dengan berbagai macam fungsi dapat berupa komputer atau laptop, tablet, Personal Computer (PC), dan juga telepon seluler atau smartphone. Sebenarnya, banyak informasi yang bisa dipelajari oleh anak melalui gadget, mulai dari bagaimana cara membaca, menulis sampai cara membuat macam-macam prakarya. Selain itu, gadget juga bisa menjadi sarana hiburan bagi anak karena terdapat beragam games yang bisa dimainkan.
Selain memberikan hal positif, gadget pun memberikan dampak negatif. Jika terlalu sering main gadget, apalagi tanpa pengawasan, anak bisa kecanduan gadget.

Ini karena gadget dapat membuat seseorang tak terkecuali anak-anak merasa kecanduan seperti obat-obatan terlarang. Salah satu ciri anak mulai kecanduan gadget adalah saat ditegur agar berhenti bermain smartphone maka anak-anak akan marah dan menangis saat gadgetnya diambil. Ciri lainnya, anak-anak kecanduan gadget juga lupa makan, malas pergi ke sekolah dan pekerjaan utamanya seperti halnya belajar. Kondisi ini tentu tidak boleh dianggap sepele oleh kita semua, sehingga perlu mengatasinya dengan cara yang tepat.

Upaya Mengatasi Kecanduan
Banyak upaya yang bisa kita lakukan dalam mengatasi kecanduan gadget pada anak, diantara hal yang sangat penting adalah pertama, orangtua yang harus menjadi contoh taulan yang baik bagi anak. Anak-anak sering mengambil pelajaran dari lingkungan sekitarnya, tak terkecuali mengenai kebiasaan menggunakan gadget orang tuanya. Jika orangtua masih sering bermain gadget di depannya, anak juga akan meniru kebiasaan tersebut. Jadi usahakan untuk tidak sibuk dengan gadget saat sedang bersama anak.

Kedua adalah disiplin dalam penggunaan gadget. Batasi dan awasi penggunaan gadget pada anak. Untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak, waktu mengakses gadget harus dibatasi. Orang tua bisa memberi waktu 1-2 jam dalam sehari untuk anak menggunakan gadget. Selain itu, awasi juga anak saat bermain gadget, supaya ia tidak mengakses konten pornografi atau kekerasan. Dalam menerapkan batasan ini, para orang tua perlu bersikap tegas. Latih anak untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum bermain gadget dan mengembalikannya dengan baik setelah selesai digunakan. Simpan gadget di tempat yang tidak diketahui oleh anak sehingga ia tidak bisa menggunakannya tanpa seizin orangtua.

Ketiga adalah membuat aktivitas menyenangkan bersama anak. Orangtua sangat disarankan membuat aktivitas yang menyenangkan anak agar pikirannya teralihkan dari gadget. Orangtua bisa mengajak anak untuk bersepeda atau lari pagi, memasak bersama, menggambar atau mewarnai bersama, atau berkebun di pekarangan rumah. Selain itu, ajaklah anak ke taman dekat rumah supaya ia bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Bila perlu, orangtua bisa mengundang anak-anak di lingkungan sekitar untuk berkunjung ke rumah dan bermain bersama anak. Selain membuatnya lupa dengan gadget, cara ini bisa meningkatkan interaksi sosial anak.

Keempat adalah tetapkan wilayah bebas gadget di rumah. Orangtua harus bisa menetapkan tempat-tempat bebas gadget di dalam rumah, misalnya ruang makan, ruang keluarga, atau kamar tidur. Artinya ketika berada di dalam ruangan ini, siapa pun tidak boleh menggunakan gadget. Pastikan orangtua juga menaati aturan tersebut.

Kelima adalah memberi tahu anak terhadap bahaya menggunakan gadget terlalu lama. Orangtua bisa membahas mengenai risiko terjadinya obesitas atau sakit mata jika anak lebih sering duduk bermain gadget dan jarang bermain ke luar rumah. Selain itu, jelaskan pada anak dengan bahasa yang mudah bahwa gadget dan internet bisa menjadi tempat yang berbahaya untuknya, apalagi jika anak juga bermain di media sosial. Tidak masalah membahas mengenai orang jahat yang beraksi melalui media sosial, asalkan orang tua juga mendiskusikan bersama-sama bagaimana cara menghindari masalah tersebut, misalnya dengan menyepakati bahwa penggunaan gadget harus selalu diawasi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved