Breaking News:

Bulan Safar 1443 H

Apa Itu Rebo Wekasan atau Arba Mustakmir di Bulan Safar 1443 H, Simak Penjelasan UAS

Memasuki bulan Safar 1443 H, ada juga dikenal Rebo Wekasan atau Arba Mustakmir.

Editor: M.Risman Noor
istimewa
Bulan Safar 

“Ziarah kubur di hari Rabu terakhir bulan Safar, boleh tidak? Ziarah kuburnya boleh, bagus saja itu. Lalu berdoa memohon kepada Allah agar kita dihindarkan dari segala musibah, ini juga boleh,” jelas Ustadz Abdul Somad.

Sementara terkait keyakinan Allah menurunkan ribuan musibah di hari Rabu terakhir Safar atau Arba Musta’mir, menurutnya itu tak ada haditsnya.

Baca juga: Keutamaan Shalat Israq, Ibadah Sunah Senilai Ibadah Umrah dan Haji

“Itu menurut para ulama tasawuf, mereka dapat itu dari ilham bukan dari hadits Nabi Muhammad. Tapi, kalau mau berdoa meminta dihindarkan dari musibah, silakan saja. mau berdoa sambil bertawasul kepada wali-wali Allah juga boleh,” katanya.

Bertawasul adalah memakai atau menyebutkan nama para wali itu saat berdoa dengan harapan Allah akan mengabulkan doa kita berkat kemuliaan para wali Allah tersebut.

“Misalnya bertawasul dengan Wali Songo. Saat berdoa bilangnya begini: Ya Allah, berkat kemuliaan para wali-Mu ini, aku memohon kepada-Mu, dan seterusnya. Kalau ini boleh,” pungkasnya.

Tangkapan Layar Tanggapan Ustadz Abdul Somad
Tangkapan Layar Tanggapan Ustadz Abdul Somad (YouTube/Ustaz Abdul Somad Official via TribunSumsel.com)

Penjelasan Buya Yahya

Dilansir dari Youtube Al-Bahjah TV Rabu (8/9/2021), Buya Yahya menergaskan tidak ada hari atau bulan bencana.

"Tidak ada hari bala, hari bencana adalah hari kita bermaksiat. Jangan percaya hari rabu hari bencana atau jangan percaya bulan Safar adalah bulan celaka atau bulan Hapit bulan sengsara atau bulan miskin, enggak ada itu semuanya," jelas Buya Yahya.

"Hari Allah adalah hari baik semuanya, hari jelek itu adalah hari ketika kita bermaksiat," tegasnya lagi.

Kemudian pada bulan Safar ini, sebagian orang mempercayai tentang hari Rabu terakhir di bulan Safar atau yang sering disebut Rabu Wekasan atau rebo wekasan.

Baca juga: Panduan Shalat Tahajud dan Bacaan Niatnya Bagi Pemula, Dilengkapi 3 Surah Rutin Dibaca Rasulullah

Buya Yahya pun menegaskan bahwa hukumnya boleh percaya boleh tidak.

"Kemudian kisah tentang Rebu wakasan yang kami dengar adalah ada seorang orang sholeh menyampaikan bahwa hari ini akan ada bencana, kita tidak boleh bilang ini omongan Nabi, karena (Rabu Wekasan) bukan dari Nabi," tutur Buya Yahya.

Kemudian Buya Yahya pun menegaskan bahwa jika omongannya (orang sholeh) tidak bertentangan dengan syariat, makan kita boleh dengar boleh tidak.

Namun jika omongannya bertentangan dengan syariat Islam jelas tidak boleh didengarkan.

Kemudian untuk urusan rebo wekasan ini, kata dia, boleh percaya boleh tidak.

"Yang tidak mau ya tidak apa-apa, yang mau juga jangan mengatakan ini dari Rasulullah, karena kalau sudah Rasulullah berkata kita wajib patuh," tandasnya.

(TribunnewsBogor.com/Vivi)

Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved