Breaking News:

Tajuk

Dari Peduli Jadi Dicueki

Kesadaran, edukasi dan membiasakan masyarakat untuk peduli kesehatan terlihat menurun, Vaksinasi jauh dari harapan diinginkan.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - AWAL pandemi masuk ke tanah air dan baru ditemukan satu orang, begitu hebohnya dan perhatian cukup serius dilakukan orang. Mencuci tangan menjadi sebuah keharusan. Berbagai tendon tempat cuci bermunculan. Begitu pula kreasi diciptakan untuk tempat cuci tangan. Menggunakan hand sanitizer menjadi keharusan. Bahkan tak sedikit terjadi kekosongan stok dan harganya melambung.

Namun kini bisa dilihat. Tak jarang tempat cuci tangan tak ada lagi airnya. Kerannya rusak. Tempat pembuangannya airnya juga tak diperhatikan. Bukan tidak mungkin tendon yang sudah jalan dua tahun menjadi berlumut dan tak pernah dibersihkan.

Beda sekali dengan awal kemunculan wabah Covid-19 melanda dan memasuki banua. Kini orang pun banyak cuek, dari peduli kini menuju dicueki. Razia masker hanya menjadi rutinitas semata. Pembagian sembako menjadi seremonial. Bantuan subsidi listrik, gaji hingga kuota seakan menjadi penghibur sesaat di kala pandemi belum juga berhenti.

Kesadaran, edukasi dan membiasakan masyarakat untuk peduli kesehatan terlihat menurun. Vaksinasi juga masih jauh dari harapan diinginkan. Tak sedikit orang hendak vaksin menjadi dipersulit karena keterbatasan kuota vaksin. Daftar sudah namun belum juga dipanggil. Belum lagi yang sudah vaksin di suatu daerah harus kembali ke tempat vaksin awal.

Aturan di atas kertas yang mestinya dipermudah membuat orang malas melakukan vaksin. Belum lagi kabar hoaks yang tak kunjung berhenti seputar vaksin menambah parah menuju imunitas warga hingga 70 persen secara nasional.

Vaksinasi siswa pun hingga kini masih hanya sebagian kecil. Sudah mestinya secepatnya siswa dilakukan vaksinasi di sekolah-sekolah. Bukan siswa disuruh berjubel dengan orang dewasa untuk mendapatkan vaksinasi massal.

Perpanjangan PPKM pun bukan hal luar biasa lagi. Masyarakat beranggapan mau level 1 atau 4 sama. Penting bagaimana bisa usaha menghidupi keluarga setiap hari. Bantuan hanya sesaat, mestinya pekerjaan didapat.

Sejumlah sektor usaha mati dan pengusaha tak bisa berbuat apa. Di sini kebijakan pemerintah ditunggu. Bagaimana memberikan subsidi juga untuk pengusaha dengan meringankan berbagai pungutan seperti pajak.

Bagaimana dunia usaha bisa bangkit kalau pengusahanya tetap dibebani dan layaknya tak ada perubahan pungutan. Bagaimana cara pengusaha bisa bangkit tentunya harus didorong dari adanya kebijakan kongkrit.

Tidak sembarang tutup tempat usaha. Bila ditutup apa alternatif usaha diberikan bagi pengusaha. Bukan harap maklum kondisinya seperti sekarang. Tunggu nanti ada saatnya bangkit. Tak ada jaminan pandemi mereda dalam jangka waktu dekat.

Bahkan sejumlah akademisi menyebutkan bukan tidak mungkin akan sampai 10 tahun. Singapura saja sudah mempersiapkan langkah untuk hidup damai dengan pandemi. Semoga ini bisa didengar penguasa yang mempunyai kebijakan dan mengajak pengusaha duduk bersama. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved