Breaking News:

Berita Banjarmasin

Sawah Petani di Benawa Tertutup Lumpur, Pemkab HST Tolak Alat Berat Pemprov Kalsel

Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyatakan, Pemerintah Kabupaten telah membuat kebijakan terkait solusi mengatasi sawah tertutup lumpur

Penulis: Hanani | Editor: Edi Nugroho
Kades Bakti
Sawah milik petani di Desa Aluan Bakti Kecamatan Batubenawa, Kaupaten Hulu Sugai Tengah yang tertutup lumpur saat banjir bandang Januar 2021 lalu. Petani berharap pengerukan dilakukan sebelum musi tanam, November 2021 mendatang agar kembali bisa bercocok tanam. 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyatakan, Pemerintah Kabupaten telah membuat kebijakan terkait solusi mengatasi sawah tertutup lumpur pasca bajir bandang Januari 2021 lalu.

Banjir tersebut membuat petani di Kecamatan Batubenawa tak bisa bercocok tanam. Kebijakan tersebut adalah pengerukan dan normalisasi yang dianggarkan tahun 2021 dan 2022 mendatang.

Kepala Dinas Pertanian HST Budi Satrya Tanjung, kepada banjarmasinpost.co.id,Sabtu (11/9/2021) menjelaskan, luas lahan pertanian yang tertutup lumpur di Desa Aluan sekitar 28 hektare, dengan Panjang saluran air yang tertutup sekitar 538 meter.

Sedangkan luas lahan tertutup lumpur di Desa Benawa Tengah sekitar 102 hektare dengan Panjang saluran air tertutup lumpur sekitar 2.500 meter.

Baca juga: Sawah di HST Tertutup Lumpur Pasca Banjir Bandang, Komisi 2 DPRD Desak Pemkab Bantu Petani

Baca juga: Petani di Benawa HST Berharap Pengerukan Lumpur yang Menutup Sawah Dilakukan Sebelum Musim Tanam

Baca juga: Banjir Kalsel di Tanbu :  Air Mulai Surut, Warga Terdampak Mulai Bersihkan Rumah dari Lumpur

Baca juga: Berniat ke Balangan, Satu Keluarga Asal Tapin Tersesat Masuk Hutan, Mobil Amblas di Kubangan Lumpur

dapun estimasi biaya yang dibutuhkan untuk pengerukan dan normalisasi sungai, menurut Budi lebih dari Rp 3 miliar.

Sedangkan APBD HST 2021 tidak mampu membiayai pengerukan dan normalisasi secara keseluruhan di tahun ini.

“Akhirnya Bupati HST mengambil kebijakan tahun ini dilaksanakan di Desa Aluan dulu 28 hektare dengan Panjang saluran 538 meter,”katanya.

Untuk sisanya, di Desa Benawa Tengah, dianggarkan ada APBD HST 2022 mendatang. “Untuk realiasi tahun ini, sudah dilaksanakan refokusing sehingga sudah tersedia anggaran untuk pelaksanaan pengerukan lahan sawah dan saluran air di Desa Aluan,”jelasnya.

Mengenai kritik komisi II DPRD HST atas sikap Pemkab HST yang tak merespons tawaran bantuan alat berat dan operator dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH Pemprov Kalsel, Budi menyatakan tidak menerima tawaran tersebut lantaran spesifiksi alat yang ditawarkan tidak sesuai dengan kondisi medan yang dikeruk.

“Alat yang kami butuhkan adalah excavator PC 45. Sedangkan Pemprov menawarkan PC 200 yang kemungkinan pergerakannya akan sulit dan terbatas serta memerlukan jalan yang cukup luas untuk masuk ke areal persawahan,”katanya.

Pelaksanaan pengerukan dan normalisasi sungai di Aluan, sesuai permintaan Bupati, kata Budi, dikerjakan dengan system Karya Bakti yang akan melibatkan TNI.

“Solusi yang kami ambil dan telah disepakati bersama dengan petani pemilik sawah yang terendam lumpur adalah pengerukan lumpur dan menjadikan Surjan, sehingga lahan menjadi dua fungsi. Yaitu Lahan sawah yang kembali ditanami padi, sedangkan Surjan BS ditanami tanaman hortikultura.

Dijelaskan system surjan adalah system pertanaman campuran dengan perbedaan tinggi permukaan bidang tanam. (banjarminpost.co.id/hanani).

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved