Breaking News:

Tajuk

Banjir dan Banjir Lagi

banjir yang terjadi kali ini tidak berlangsung lama. Tidak sampai 24 jam, genangan air mulai surut

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - BANJIR, banjir, banjir dan banjir lagi. Ya, seperti langganan banjir saja. Tapi itulah faktanya. Setidaknya ini terjadi di Kabupaten Tanahlaut (Tala) dan Kabupatean Tanahbumbu (Tanbu) dalam beberapa tahun belakangan ini.

Dua kabupaten di Kalsel sudah sangat sensitif terhadap curah hujan. Kalau hujan turun cukup lama, banjir pun terjadi.

Di Tala misalnya, akibat hujan berkepanjangan yang terjadi pada Jumat (10/9) malam hingga pagi, empat kecamatan yakni Kintap, Jorong, Takisung dan Panyipatan terendam air. Tinggi air berbeda-beda, yang tertinggi setinggi dada orang dewasa.

Syukurnya, banjir yang terjadi kali ini tidak berlangsung lama. Tidak sampai 24 jam, genangan air mulai surut. Meski demikian dampaknya sangat luar biasa. Para korban stres melihat rumahnya berantakan. Mau tidak mau mereka harus membersihkan rumah dari lumpur yang dibawa oleh banjir, menjemur perabot rumah tangga yang basah, termasuk pakaian.

Tidak hanya stres, ada sebagian warga terpaksa harus mengeluarkan uang cukup banyak untuk mengganti perabot rumah tangga yang rusak, membeli bibit dan pupuk untuk mengganti tanaman mereka yang terendam, membeli obat untuk menghilangkan gatal-gatal di kaki akibat terlalu lama terendam air.

Tidak hanya warga, Pemda Tala juga terpaksa menyiapkan anggaran untuk memperbaiki jalan dan bendungan yang rusak diterjang banjir. Hujan kali ini menjebol waduk di Desa Gunungmakmur-Benuatengah, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).

Kalau diamati, banjir di Tala dan Tanbu serta daerah lainnya di Kalsel bukan semata-mata dipicu hujan ekstrem, tapi juga akibat ulah manusianya. Secara sadar atau tidak sadar, manusia sudah merusak daerah-daerah tangkapan air.

Daerah tangkapan air adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh titik tertinggi dari pembatas topografi berupa punggung-punggung bukit atau gunung yang menampung dan menyimpan air hujan yang jatuh di atasnya dan mengalirkannya melalui aliran permukaan, anak sungai, dan sungai ke danau dan/atau ke laut.

Saat ini sudah berapa haktare daerah tangkapan air diubah menjadi kawasan pertambangan dan perkebunan.
Dari catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, sejak beberapa tahun terakhir, Kalsel mengalami degradasi lingkungan. Di Kalsel terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara.
Sebagian lubang berstatus aktif, sebagian lain telah ditinggalkan tanpa reklamasi. Dari 3,7 juta hektare total luas lahan di Kalsel, hampir 50 persen di antaranya sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit.

Kita mengharapkan ke depannya pengrusakan terhadap daerah tangkapan air sudah tidak ada lagi. Lubang-lubang eks tambang batu bara yang belum direklamasi sudah sudah direklamasi. Hanya dengan cara ini banjir di Kalsel bisa diantisipasi.

Kita semua masih tidak lupa dengan banjir di Kalsel yang terjadi Januari 2021 lalu. Banjir yang melanda 11 dari 13 wilayah kabupaten dan kota di Kalsel. Banjir ini menimbulkan kerugian besar. Sedikitnya 21 orang meninggal dunia, lebih dari 342.000 jiwa terdampak, dan lebih dari 63.000 orang mengungsi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved