Breaking News:

Opini Publik

Memerdekakan Investor Domestik

Agenda edukasi publik itu ditujukan untuk meningkatkan literasi keuangan kepada generasi muda agar lebih ‘melek’ finansial.

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Haryo Kuncoro, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIDAKNYA ada dua momen penting di bidang keuangan yang bisa dicatat selama bulan kemerdekaan kemarin. Pertama, BI (Bank Indonesia), Kementerian Keuangan, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) meluncurkan program ‘Like It’ (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan).

Agenda edukasi publik itu ditujukan untuk meningkatkan literasi keuangan kepada generasi muda agar lebih ‘melek’ finansial. Tingkat ‘melek’ finansial (financial literacy) generasi muda, dalam pandangan keempat otoritas finansial tersebut, sangat penting untuk mengembangkan sektor keuangan di Indonesia.

Kedua, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2021. Beleid yang mulai berlaku per 30 Agustus 2021 itu secara resmi memangkas tarif pajak penghasilan (PPh) atas bunga obligasi yang diperoleh investor domestik dari sebelumnya 15 persen menjadi sebesar 10 persen.

Benang merah yang bisa ditarik dari kedua peristiwa di atas adalah ikhtiar konkret untuk memperkuat investor domestik, terutama generasi muda dan kaum milenial. Dengan porsi 54 persen dari total penduduk, keterlibatan generasi muda dalam bidang investasi niscaya akan memperkukuh basis investor domestik.

Alokasi SBN (surat berharga negara) ritel yang diperuntukkan khusus bagi investor domestik kian melambungkan optimisme. Dengan nominal Rp 1 juta hingga Rp 3 miliar, investor ritel bisa berpartisipasi langsung dalam pembangunan. Pendalaman pasar keuangan adalah manfaat lain yang bisa dipetik dari penerbitan SBN ritel.

Instrumen SBN ritel yang dijamin penuh oleh pemerintah itu juga menawarkan imbal hasil yang kompetitif. Imbal hasil SBN ritel berpendapatan tetap (fixed income), misalnya, dipatok sebesar suku bunga acuan plus 160 basis poin. Alhasil, SBN ritel menjadi wahana taktis dalam upaya pemerataan pendapatan.

Dalam skala yang lebih luas, tekad untuk memperkuat basis investor domestik juga dipandang tepat waktu. Porsi kepemilikan asing atas SBN non ritel tengah dalam tren penurunan. Pembelian investor domestik atas SBN ritel di saat defisit APBN tinggi niscaya menjadi perwujudan nyata spirit nasionalisme.

Hasrat besar mengembangkan investor ritel tentu menghadapi tantangan yang tidak ringan. Preferensi segmen masyarakat menengah itu masih terus mengakumulasi simpanan tunai di perbankan.
Penghimpunan dana perbankan yang tumbuh dua dijit memasuki triwulan ketiga seakan menjadi bukti yang valid.

Kelompok masyarakat kelas menengah itu juga merasa nyaman berada dalam zona ‘investor pasif’. Mereka menaruh dananya pada rekening simpanan yang praktis bisa tarik-setor setiap saat. Rekening jenis ini tipikal transisional. Tenaga beli nasabah ‘diparkir’ sementara dan akan berbalik lagi menjadi konsumsi.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved