Breaking News:

Opini Publik

Memerdekakan Investor Domestik

Agenda edukasi publik itu ditujukan untuk meningkatkan literasi keuangan kepada generasi muda agar lebih ‘melek’ finansial.

Editor: Eka Dinayanti

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika simpanan sampai limit tertentu tidak diberikan suku bunga. Bahkan nasabah harus menanggung biaya pemeliharaan rekening. Artinya, nasabah ritel menderita dua kerugian sekaligus, yakni kehilangan bunga yang bisa diraih dan potensi penerimaan imbal hasil yang lebih besar.

Alhasil, tabungan di bank sejatinya tidak berada dalam ranah investasi Lain halnya, jika rekening berbentuk deposito berjangka, misalnya. Selama jangka waktu tertentu, pemilik dana tidak bisa mencairkan dananya. Selama tenor itu pula, bank bisa mentransformasi menjadi pinjaman produktif kepada pihak lain.

Dua kasus di atas tegas memisahkan antara aktivitas menabung dengan investasi. Pengertian tabungan yang jauh lebih luas mencakup pembelian polis asuransi, kepemilikan saham, obligasi korporasi, dan obligasi negara, termasuk SBN ritel. Konsekuensinya, penabung dan investor menjadi kian berhimpit.

Mengharapkan perpindahan dana nasabah ritel dari perbankan ke SBN ritel tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pemilik dana juga diiming-imingi imbal hasil yang ditawarkan aset finansial lain. Memegang valuta asing atau emas adalah pilihan logis di kala persepsi terhadap perekonomian ke depan belum kuat.

Sudah menjadi hukum alam, imbal hasil yang tinggi senantiasa berkorelasi kuat dengan risiko yang tinggi pula. Berangkat dari sini, penabung aktif kemudian bermetamorfosis menjadi investor sejati dan spekulator. Motif awal yang dicanangkan pemilik dana menjadi ciri pembeda keduanya.

Kalaupun generasi muda konsisten mengenakan atribut investor sejati, persoalan tidak berhenti sampai di sini. Porsi SBN ritel dari total SBN yang diterbitkan pemerintah pada kenyataannya masih kecil. Artinya, dampak fiskal dari penjualan SBN ritel yang masif pun untuk jangka pendek belum bisa segera dirasakan.

Sampai di sini, investor domestik sejatinya memiliki dua pilihan investasi, SBN ritel dan SBN non ritel. Kalau mereka memilih opsi SBN non ritel, persoalan tidak terlalu serius. Mereka toh tetap masuk dalam kualifikasi investor domestik. Artinya, sebaran SBN non ritel masih berada dalam koridor penguatan investor domestik.

Persoalan jauh berbeda jika SBN non ritel diposisikan sebagai ‘investasi tertunda’ yang akan dijual kembali saat imbal hasil aset finansial lain lebih atraktif. Persoalan semakin kompleks jika penjualan SBN non ritel di pasar sekunder justru dibeli oleh pihak asing. Alhasil, misi awal penguatan investor domestik tidak kesampaian.

Dengan konfigurasi problematika di atas, penambahan alokasi SBN ritel tampaknya diperlukan untuk membangun dasar konfidensi bagi investor ritel. Mengambil contoh tahun ini, pagu indikatif SBN ritel yang maksimum ‘hanya’ Rp 80 triliun, agaknya sangat timpang jika dibanding dengan target penyerapan SBN non ritel.

Sinergi antarlembaga terkait juga menjadi poin krusial. Peran OJK diharapkan bisa mengondisikan lembaga keuangan bank/non bank lebih banyak memegang SBN dalam portofolio institusinya. Senada dengan itu, LPS pun memainkan peranannya agar nasabah lebih mengunggulkan SBN dalam portofilio individu.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved