Breaking News:

Jendela

Hubungan Hangat Guru-Murid

Tujuan menuntut ilmu bukanlah pekerjaan. Pekerjaan hanyalah sarana untuk membuat ilmu bermanfaat bagi kehidupan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG santri yang telah lama mengkaji berbagai cabang ilmu kepada Imam al-Ghazali, suatu hari merenung serius. Apa sebenarnya manfaat ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya? Dalam galau dan bingung, dia akhirnya menulis surat kepada gurunya, meminta doa dan nasihat. “Meskipun kitab-kitab karya Guru seperti Ihyâ’ dan lain-lain mengandung berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya ini, saya ingin menerima lembaran-lembaran khusus dari Guru, yang dapat saya simpan sepanjang hayat dan saya amalkan seumur hidup, insya Allah,” tulisnya.

Sebagai guru yang baik dan sayang kepada muridnya, al-Ghazali bersedia menulis surat, yang isinya merangkum ajaran-ajaran Islam tentang fungsi ilmu dalam kehidupan manusia. Surat ini kelak dikenal sebagai sebuah risalah tasawuf dengan judul Ayyuhal Walad. Di bagian penutup suratnya, al-Ghazali menulis, “Aku telah menulis apa yang kau minta, maka selayaknya kau mengamalkannya, dan jangan lupa menyertakan aku dalam doamu yang baik.” Al-Ghazali kemudian menulis sebuah doa yang cukup panjang, untuk diamalkan sang murid setiap selesai salat.

Cerita di atas menunjukkan betapa dekat hubungan guru-murid di zaman itu, tidak sekadar formal, melainkan juga moral-spiritual. Al-Ghazali berperan sebagai guru Sufi, yang disebut ‘syeikh’ atau ‘mursyid’, sang penunjuk jalan ruhani. Hubungan guru-murid semacam ini tidak berakhir dengan selembar ijazah dan wisuda. Keduanya terus terpaut dalam perjalanan ruhani meskipun sang guru sudah wafat. Di zaman sekarang, hubungan hangat guru-murid tersebut dapat pula kita temukan, khususnya di pesantren-pesantren tradisional, yang memang sangat dipengaruhi pola pikir sufistik.

Yang lebih mengesankan lagi adalah pertanyaan yang dipikirkan oleh murid al-Ghazali itu. Dia tidak bertanya soal pekerjaan apa yang bisa didapatkannya dan seberapa besar penghasilan yang akan diperolehnya, melainkan apa manfaat ilmu yang telah dipelajarinya. Tujuan menuntut ilmu bukanlah pekerjaan. Pekerjaan hanyalah sarana untuk membuat ilmu bermanfaat bagi kehidupan. Bermanfaat artinya mendatangkan kebaikan. Kebaikan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Kebaikan di dunia dan di akhirat. Kebaikan itulah yang menjadi fondasi utama bagi kebahagiaan manusia.

Dalam cerita di atas tampak pula bahwa si murid meminta al-Ghazali mendoakannya, dan al-Ghazali juga meminta muridnya mendoakannya. Seorang murid meminta guru mendoakannya adalah hal biasa, tetapi bagaimana dengan sebaliknya? Inilah pelajaran tentang kerendahan hati, bahwa kita tak pernah tahu doa siapakah yang akan dikabulkan Tuhan. Selain itu, menurut kaum Sufi, doa yang seringkali manjur adalah doa kita untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Karena itu, kita tak perlu sungkan meminta orang lain mendoakan kita, dan jangan pula enggan mendoakan orang lain.

Pada masa al-Ghazali, otoritas guru memang kuat. Madrasah Nizhamiyyah (setingkat universitas di zaman sekarang) pada saat itu tidak mengeluarkan ijazah. Ijazah diberikan langsung oleh tiap guru kepada murid yang belajar cabang ilmu tertentu kepadanya. Budaya seperti ini masih bertahan di dunia pendidikan tradisional yang mengajarkan kitab-kitab bersanad, yakni silsilah guru-murid sampai kepada pengarang kitab. Selain bernilai ruhani, sanad keilmuan ini berfungsi menjaga kesinambungan tradisi lisan yang menjelaskan hal-hal sulit atau tersurat dalam teks sebuah kitab.

Bagaimana dengan pendidikan di universitas modern? Ternyata ada kemiripan. Ketika saya kuliah di Belanda, saya dibimbing oleh Martin van Bruinessen dan Karel A Steenbrink dalam menulis disertasi. Ketika saya tamat, ijazah saya yang ukurannya cukup besar, menyebutkan judul disertasi dan di bawahnya ditandatangani oleh rektor dan dua pembimbing saya. Jadi yang mendoktorkan saya adalah dua guru saya itu! Mungkin itu sebabnya, untuk keperluan satu lamaran akademis, seorang sarjana Perancis meminta saya menyebutkan nama kedua pembimbing saya itu dalam CV.

Alhasil, yang kuno dari abad pertengahan, tidak selamanya barang usang yang harus dicampakkan. Kita tidak perlu dan tidak mungkin kembali ke masa lalu, tetapi kita dapat menjaga spiritnya yang mulia seperti hubungan guru-murid yang hangat, orientasi pada ilmu yang bermanfaat, pengakuan atas otoritas keilmuan guru, dan kerendahan hati untuk saling mendoakan. Spirit ini sebaiknya tetap bertahan, tak peduli apakah kita belajar daring atau luring, di pesantren atau sekolah, di halaqah atau perguruan tinggi.

Selamat Hari Santri Nasional 2021. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved