Breaking News:

Tajuk

Kembalikan Lost Learning

Bupati Tapin, HM Arifin Arpan menyebut banyak pelajar SD yang belum bisa membaca. Selain itu, beberapa dampak lain menyertai.

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - PEKAN tadi, hal memprihatinkan disampaikan dua kepala daerah di kawasan Banua Anam (meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong), Kalimantan Selatan, terkait pembelajaran secara online yang telah berjalan sekitar satu tahun enam bulan karena pendemi Covid-19.

Bupati Tapin, HM Arifin Arpan menyebut banyak pelajar SD yang belum bisa membaca. Selain itu, beberapa dampak lain menyertai. Merespons hal tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tapin bersama Dinas pendidikan Tapin dan Kantor kementerian Agama Kabupaten Tapin, berupaya meningkatkan sinergisitas melalui layanan konseling peserta didik untuk semua jenjang pendidikan.

Langkah serupa diambil Pemkab Hulu Sungai Selatan. Bupati Achmad Fikry segera menurunkan sejumlah psikolog untuk melakukan pendampingan kepada anak.

Sebelumnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Repubik Indonesia melaksanakan program Pendampingan Kerja Mutu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) selama satu bulan dan berakhir pada 8 September lalu. Kementerian bekerja sama dengan berbagai lembaga. Ada 25 kabupaten yang dilakukan assessment di luar Pulau Jawa dan Bali.

Hasilnya, ada banyak catatan, khususnya pada pendidikan sekolah dasar. Sebanyak 10 sekolah dasar menjadi sampel. Lima sekolah peringkat terbaik, lainnya sekolah yang perlu perhatian.

Ketua Program Pendampingan Kerja Mutu di Kabupaten HSS, Mufarrihul Hazin, menyebut, pelajar butuh atensi khusus. Terutama sekolah di daerah pinggiran. Dia mencatat, kemampuan murid menurun hingga di bawah 50 persen. Hal itu diklaim dampak dari pembelajaran daring selama 1,6 tahun terakhir.

Dia menyampaikan, masalah yang paling banyak muncul yakni murid tidak dapat melakukan penghitungan secara benar atau numerasi dan juga mereka memiliki permasalahan dalam literasi atau bacaan. Sering murid kesulitan dalam membaca.

Paling parah, persoalan psikologi murid dan juga sosial. Di antaranya yang paling bermasalah yakni terkait mundurnya kepercayaan diri siswa untuk mengemukakan pendapat ketika pembelajaran tatap muka diberlakukan. Murid sangat sulit disuruh maju ke depan kelas. Selain itu, kepekaan sosial dan interaksi antarteman juga bermasalah.

Atas persoalan ini kemudian dilakukan pendekatan. Dan berdasar assessment, Mufarrihul menyebut paling cocok menggunakan metode quantum teaching dan learning by doing. Hasilnya, ada kenaikan kemampuan murid.
Selanjutnya, pihak dinas pendidikan setempat bisa melanjutkan dan memantapkan pemakaian metode tersebut. Tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Sebab seperti disinggung di atas, ada perbedaan dari 10 sekolah yang dijadikan sampel dalam program pendampingan kerja mutu. Terkait, dinas dan psikolog yang diterjunkan pasti punya strategi khusus. Dan mereka harus segera turun, karena di Kabupetan HSS kembali diterapkan pembelajaran tetap muka pada 36 sekolah menengah pertama dan 239 sekolah dasar.

Lantas bagaimana, peran orangtua atau pun wali murid? Akan sangat baik dan efektif bila turut aktif dalam upaya mengembalikan atau menemukan learning loss atau hilangnya pengetahuan dan keterampilan, baik secara umum atau spesifik, karena suatu keadaan. Dalam hal ini pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Bagi orangtua dari kalangan berada, bisa konsultasi dengan psikolog anak atau pun pakar pendidikan. Sebaliknya, bisa mencari referensi dari sejumlah sumber terpercaya di dunia maya. Bisa pula melalui grup diskusi. Sharing dari pengalaman anggota grup. Insya Allah berdampak positif. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved