Berita HST

VIDEO Tas Eksklusif Dian Rianawati dari Barabai yang Diminati Istri Pejabat Hingga Sosialita

Dian Rianawati (31), memproduksi berbagai model dan ukuran tas elegan di rumahnya, Jalan Pasar III, Kota Barabai, Kabupaten HST, Provinsi Kalsel.

Penulis: Hanani | Editor: Alpri Widianjono

Awal mencoba mengaplikasikan tumbuhan alam tadi gagal. Motif terlihat hangus karena suhu terlalu panas, sehingga pewarnaan tak sempurna.

Baca juga: KalselPedia - TPA Telang HST Ditanami Pohon Buah-buahan Langka, Bisa Jadi Objek Wisata

Baca juga: Wabup HST Antar Langsung Bantuan Logistik Korban Banjir Kalteng ke Katingan

“Jadi, tiap kali membuat motif di bahan kulit, selalu surprise. Kadang lebih bagus dari apa yang saya bayangkan. Tapi jika ada pembeli request warna motifnya, saya selalu bilang tak bisa memenuhi. Kecuali request warna dasar, bisa saja,” tuturnya.

Mulai proses mengaplikasikan daun dan motif ke bahan, mendesain tas, hingga menjahit sampai finishing dan menghasilkan tas yang cantik, Dian melakukannya sendiri.

“Saya cuma punya satu karyawan. Tapi baru saya percayakan menjahit desain yang simple,” katanya.

Berapa harga tas ecoprint buatan Dian yang diberi nama brand Dhia ini? Dian berupaya membanderol dengan harga terjangkau.

Di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 850 ribu untuk bahan full kulit kambing atau kombinasi kulit sapi dengan inner cordura.

Beberapa produk tas di Toko Dhia Gift Shop, Jalan Pasar III, Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST),  Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (19/9/2021).
Produk tas di Toko Dhia Gift Shop, Jalan Pasar III, Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (19/9/2021). (BANJARMASINPOST.CO.ID/HANANI)

Tergantung pula dari desain dan bahan yang dihabiskan, serta tingkat kesulitan menjahitanya.

Untuk kualitas bahan dan jahitan, diapun mengaku sangat komitmen memberikan produk berkualitas. Jika ada jahitan tak sempurna, tak bakal dijual.

Alhamdulillah ,kualitas produk saya diakui konsumen, baik yang membeli secara online maupun offline. Pembeli online, dari seluruh Indonesia, biasanya kalangan sosialita. Mereka tertarik karena desain dan motif tidak pasaran,” ungkap Dian.

Sejak bergabung kelompok UMKM HST, Dian makin memahami strategi pemasaran. Selain menjual lewat Facebook, juga melalui Instagram @dhia_handmade serta shopee Dian Rianawati.

Tas-tas handmadenya pun kian disukai. Bahkan saat mengikuti pameran produk UMKM di Novotel Banjarbaru bersama perajin lainnya, Dian mengaku senang hasil karyanya dibeli ibu-ibu dan istri pejabat di Kalsel. Termasuk istri Bupati HST Cheri Bayuni Budjang, pernah membeli tas buatannya.

Baca juga: Warga Meratus di Batangalai Timur HST Minta Kolam Pengendali Banjir Juga di Wilayah Atas

Baca juga: Atasi Banjir HST, Kolam Regulasi Pengendali Senilai Rp 230 Miliar Segera Dibangun 

Meski kini produksi masih terbatas karena baru memiliki satu karyawan dan satu mesin jahit listrik, Dian berharap suatu saat bisa mengembangkan produknya dan memiliki banyak reseller.

"Sebelumnya, punya reseller di Palangkaraya dan Banjarmasin yang memasarkan tas bahan linen. Selama pandemik, resellernya berhenti karena daya beli masyarakat kian rendah,” katanya.

Tas merek Dhia juga tersedia di Bandara Internasional Syamsudin Noor.

Menurut Dian, dalam membuat karya untuk dijual, penting untuk menjaga kualitas dan selalu meningkatkan kualitas.

(Banjarmasinpost.co.id/Hanani)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved