Breaking News:

Opini Publik

Mitigasi Demografi Menyikapi Childfree

Fenomena tidak mau memiliki keturunan konon sudah ada pada awal 1800-an, meskipun belum menggunakan istilah childfree

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Ribut Lupiyanto, Deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA)

BANJARMASINPOST.CO.ID - REGENERASI adalah fitrah makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Kebutuhan regenerasi seusia dengan hadirnya manusia itu sendiri di muka bumi. Regenerasi tidak sekadar lahir dari hasrat biologis semata, namun menyatu dengan kebutuhan psikologis, ketaatan teologis dan pembuktian kemanusiaan.

Negeri ini sontak heboh belakangan ini, tatkala seorang pesohor mengumumkan pilihannya untuk tidak akan memiliki keturunan atau childfree. Fenomena childfree sesungguhnya sudah lama menggejala di dunia barat. Di Indonesia sendiri hal itu dinilai tabu dan menyalahi norma budaya sekaligus mayoritas agama.
Kacamata Hak Asasi Manusia (HAM) memandang childfree sebagai hak privasi siapapun. Permasalahan dan keresahan publik muncul ketika fenomena tersebut menggejala dan terkesan dikampanyekan. Sama halnya dengan analogi golput pemilu, kampanye childfree mestinya dilarang di negeri ini.

Childfree bukanlah solusi dan lemah kaitannya dengan hadirnya overpopulasi dan bonus demografi. Bonus demografi yang datangnya alami, membutuhkan antisipasi berupa perencanaan dan pembatasan. Manajemen yang optimal dan mitigasi yang efektif justru akan mengantarkan bonus demografi sebagai berkah peradaban.

Pilihan Childfree
Fenomena tidak mau memiliki keturunan konon sudah ada pada awal 1800-an, meskipun belum menggunakan istilah childfree. Banyak alasan bagi pasangan atau seseorang memilih jalan childfree (Tunggono, 2021).

Pertama, alasan biologis, seperti ada cacat atau DNA, genetik dan lainnya, sehingga dia tidak mau punya anak. Kedua, alasan psikologis. Misalnya, seseorang memiliki ketidakmampuan mental untuk menjadi orangtua. Karena ketidakmampuan psikologis itu, mereka tidak ingin anaknya menjadi korban amarah orangtuanya.

Ketiga, alasan finansial atau keuangan. Misalnya, mereka yang sejak kecil tumbuh di dalam lingkungan yang tidak berada. Keempat, alasan lingkungan hidup. Mereka mungkin secara keuangan, fisik, psikologis tidak bermasalah, tapi dia melihat dunia ini semakin hancur. Salah satu faktor yang merusak lingkungan hidup adalah manusia.

Semua alasan di atas sebenarnya mudah dipatahkan dengan solusi lain yang produktif dan manusiawi.
“Bukan jumlah orang di planet ini yang jadi masalah tapi jumlah konsumen dan skala serta sifat konsumsi mereka”. Demikian diungkapkan David Satterthwaite, peneliti dari International Institute for Environment and Development yang berkedudukan di London.

Penelitiannya menyimpulkan bahwa kota dengan penduduk berpenghasilan tinggi justru memberikan dampak besar terhadap masalah lingkungan, berbeda dengan penduduk di perkotaan berpenghasilan rendah, konsumsinya sangat rendah, bahkan hampir tidak memberikan efek apapun pada emisi gas rumah kaca (BBC, 2016).

Bonus Demografi
Masa depan bangsa berada di pundak generasi sekarang. Tahun 2020-2030 diprediksikan akan ada Bonus Demografi. Jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada periode itu akan mencapai 70 persen atau sekitar 180 juta. BKKBN (2013) memproyeksikan dari 100 penduduk produktif tersebut, 44 orang diantaranya adalah usia muda. Bonus demografi menjadi potensi bagi sektor sumberdya manusia dengan bertambahnya energi generasi muda.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved