Breaking News:

Tajuk

Berakhirnya Kebosanan Mahasiswa?

Mereka tidak merasakan sebagai mahasiswa sempurna. Mereka tidak merasa aura belajar di ruangan dengan kursi yang menyatu dengan meja

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) sudah memberikan lampu hijau kepada semua perguruan tinggi untuk membuka kuliah/pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Bahkan Kemendikbudristek melalui Ditjen Dikti Ristek sudah mengeluarkan panduannya. Panduan tersebut dikeluarkan melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Akademik 2021/2022.

Dalam panduan tersebut ditegaskan bahwa PTM terbatas yang akan dibuka perguruan tinggi wajib menerapkan protokol kesehatan ketat. Selain itu, perguruan tinggi juga harus tetap menyediakan pembelajaran daring.

Bagi perguruan tinggi yang akan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, baik perkuliahan, praktikum, studio, praktik lapangan, maupun bentuk pembelajaran lainnya, harus memenuhi ketentuan, di antaranya perguruan tinggi dapat melaksanakan persiapan PTM terbatas dengan menyesuaikan level PPKM berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri.

Ketentuan lainnya, perguruan tinggi hanya diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan kurikuler melalui pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Perguruan tinggi membentuk satuan tugas penanganan Covid-19 di perguruan tinggi untuk menyusun dan menerapkan standar operasional prosedur protokol kesehatan. Tidak ada keberatan dari orangtua/wali bagi mahasiswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka.

Kita tentu saja sangat setuju dengan diizinkannya semua perguruan tinggi untuk membuka kuliah/pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Dengan dibolehkan perguruan tinggi membuka PMT terbatas ini secara tidak langsung mahasiswa terbebas dari jebakan kebosanan belajar online.

Bagaimana tidak bosan, dimasa pendemi Covid-19 mahasiswa (khususnya mahasiswa baru) hanya dipertemukan dalam dunia kotak-kotak.

Mereka tidak merasakan sebagai mahasiswa sempurna. Mereka tidak merasa aura belajar di ruangan dengan kursi yang menyatu dengan meja, tidak bertemu dan berdiskusi langsung dengan dosen atau teman kuliah, tidak bisa bercanda ria dengan teman kuliah.

Awalnya, belajar online memang sangat menyenangkan. Mahasiswa tidak capai ke kampus untuk mendapatkan ilmu dari dosennya. Belajarnya cukup dengan daring (dalam jaringan) yang memanfaatkan koneksi internet dan platform konferensi online seperti zoom dan google meet.

Selain itu belajar online bisa di mana saja, bisa di rumah, bisa di kafe, bisa di kamar tidur. Yang penting saat belajar online, sinyalnya kuat alias tidak lelet.

Namun lama kelamaan belajar online membosankan juga. Malah kebosanan ini sudah membuat mahasiswa tidak fokus belajar, malas mengerjakan tugas yang diberikan dosen dan stres akibat setiap hari dijejali dengan materi pembelajaran hanya dengan menatap gadgetnya atau laptop masing-masing.

Kalau dampak negatif dari belajar online ini tidak segera diantisipasi, bisa-bisa akan melahirkan mahasiswa ‘bertitel’ drop out (DO). Karena itu sangat tetap Kemendikbud Ristek sudah memberikan lampu hijau kepada semua perguruan tinggi untuk membuka pembelajaran tatap muka (PTM) walau hanya terbatas. Sekarang tinggal sikap dari masing-masing perguruan tinggi. Kebosanan mahasiswa harus kita akhirnya. (*)

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved