Breaking News:

Fikrah

Masalah Utang dalam Islam

Seorang muslim mukmin yang berutang tetapi tidak ada pembayarnya atau penyelesaiannya akan terhalang masuk surga

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIRIWAYATKAN, pada suatu pagi Rasulullah Saw masuk masjid Nabawi di Kota Almadinah Munawarah. Di dalam masjid Rasulullah Saw menemukan seorang sahabat yang dikenal dengan nama Abu Umamah.

Setelah mengucapkan salam, Rasulullah Saw menyapa Abu Umahmah. “Ya Abu Umamah, ma li araka jalisan fil masjidi fi ghairi wakti salatin (mengapa aku lihat kamu duduk di masjid padahal sekarang bukan waktu salat).”

Memang, waktu itu matahari sedang terang benderang naik sepanggalah. Orang-orang sedang bekerja, baik di pasar maupun di kebunnya dan di tempat-tempat pekerjaan lainnya. Abu Umamah menjawab, “Humumun lazimat ni ya rassulllah. Tawalat aniyad- dun-. (kegundahan yang meliputi aku dan utang yang melilit aku).”

Rasulullah Saw berkata: “afala u allimuka kalaman idza kultahu adz haballahu anka hamaaka wa qada anka dainaka (apabila engkau baca doa ini, Allah akan menghilangkan kegundahanmu dan utangmu akan terbayar).” Kul idza asbahta wa idza amsaita (baca oleh mu doa ini pagi dan petang, pagi sesudah salat Subuh dan petang sesudah salat Maghrib).”

Abu Umamah bertanya lagi: “wama dzaka ya rasulullah (bagaimana doa itu wahai Rasul).” Lalu Rasulullah Saw mengajarkan doa itu yang berbunyi: “Allahumma inni a udzubika minnalhammi wal hazan, (ya alllah aku berlindung kepada engkau dari pada kegundahan, kesedihan) wa a udzubika minnal jubni wal buhli (aku berlindung kepada engkau dari pada pengecut dan bahil). Wa a udzubika min ghalabatid daini wa fahrirrijal (aku berlindung kepada engkau dari pada lilitan hutang dan paksaan orang lain).”

Demikianlah, ketika Rasulullah Saw mikraj dipanggil Allah Swt, beliau melihat surga. Ternyata di depan pintu surga tertulis alhasanasatu bil asri amsaliha wad dainu samaniat asarata hasantan (kebaikan atau pemberian 10 kali lipat pahalanya), wad dainu samaniata asara amsaliha (sedang pemberian utang 18 kali lipat).”

Mengapa memberi utang kepada orang lain lebih besar pahalanya daripada pemberian 10 kali lipat? Karena pemberian yang diberikan kepada orang lain belum tentu orang perlu, sedangkan orang berutang memerlukan apa yang ingin dipinjamkan itu.

Namun demikian janganlah suka berutang dalam kehidupan ini. Karena bisa jadi ketika berutang rasa mendapat, ketika ditagih utangnya dia akan merasa kehilangan. Seorang muslim mukmin yang berutang tetapi tidak ada pembayarnya atau penyelesaiannya akan terhalang masuk surga.

Diriwayatkan pada suatu hari Rasulullah Saw dipanggil oleh sahabat untuk menyalatkan seseorang. Rasulullah bertanya, “Apakah orang ini punya utang?” Dijawab, “Banyak Rasulullah.”

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved