Breaking News:

Berita Banjarmasin

 Pancaran Sinyal Marabahaya Palsu di Kalsel Terbanyak di Indonesia, Batulicin Tertinggi

Kalimantan Selatan masih menjadi daerah tertinggi kasus false alert atau pancaran sinyal marabahaya palsu

Penulis: Milna Sari | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/milna sari
Sosialisasi Sistem Deteksi Dini, Kamis (7/10/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kalimantan Selatan masih menjadi daerah tertinggi kasus false alert atau pancaran sinyal marabahaya palsu dari alat Emergency Position-Indicating Radio Beacon (EPIRB) atau suar pemancar sinyal marabahaya yang sering juga disebut radio beacon.

Hingga September 2021 ini berdasarkan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan, atau search and rescues SAR secara nasional terhadap kecelakaan kapal khususnya pada tahun 2018 sebanyak 580 kasus.

Jumlah ini, mengalami kenaikan pada tahun 2019 sebanyak 627 kasus, dan meningkat lagi menjadi 870 kasus di 2020, serta sebanyak 499 kasus data Januari sampai Agustus 2021.

Memprihatinkan, dari ratusan kasus yang terjadi tersebut, jumlah real distress atau pemancar marabahaya asli yang terdeteksi oleh stasiun bumi Basarnas yaitu Locator User Terminal/ LUT, rata-rata hanya 5 hingga 8 kasus setiap tahunnya.

Baca juga: 9 Jam Proses Evakuasi, Truk Tercebur di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Terangkat

Baca juga: Dua Jenazah Penumpang Kapal Tenggelam di Perairan Kumai Kalteng Ditemukan

"Bahkan jumlah pancaran sinyal marabahaya palsu yang terdeteksi di wilayah kerja Kantor Basarnas Banjarmasin ini terbanyak di Indonesia.  Pada 2019 ada 29 kasus, dan di 2021 ini hingga September sudah ada 26 kasus," jelas Kasubdit Penyiapan Dukungan Komunikasi dan Sertifikasi  Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Anggit Mulyo Satoto usai membuka acara sosialisasi sistem deteksi dini Basarnas di Kindai Hotel Banjarmasin Kamis (7/10/2021).

Pancaran sinyal marabahaya palsu itu, terbanyak terjadi daerah Batulicin Tanahbumbu dimana transportasi lautnya cukup padat.

Miris lagi, 75 persen pancaran palsu itu berasal dari perangkat radio beacon yang belum teregistrasikan ke Basarnas.

"Perangkat itu baik berupa radio beacon maupun PLN, dan Emergency Locator Trasmitter (ELT). Padahal kita sudah menyiapkan aplikasi daring untuk mempermudah pendaftaran dan bahkan kini kami siap melayani registrasi selesai dalam satu hari," ujar Anggit.

Saat ini jumlah pada database registrasi beacon Basarnas, sampai dengan akhir September 2021 tercatat data ELT sebanyak 3175 data, PLB sebanyak 303 data, untuk data EPIRB yang terdata sebanyak 2026 data, sebagian diantaranya merupakan unit yang dimiliki oleh sekitar 19 perusahaan perkapalan yang beralamat di Banjarmasin.

Namun sejak akhir tahun 2020 jelas Anggit terdapat kenaikan cukup signifikan atas data EPIRB terdaftar. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh penerbitan Surat Edaran Direktur Jendral Perhubungan Laut tentang Pengawasan dan Kewajiban Kapal untuk menggunakan Satelit EPIRB.

Surat dimaksud selanjutnya ditindaklanjuti oleh SE Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kumai 2021 Mengenai Kewajiban Kapal Untuk Mendaftarkan Satelit EPIRB Kepada BASARNAS, dan Surat Keputusan Kepala Kantor Utama Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok 2021 tentang Kewajiban Kapal Untuk Mendaftarkan Satelit EPIRB Kepada BASARNAS.

"Basarnas terus mendorong dan berharap para Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan lainnya, termasuk yang ada di wilayah kerja Provinsi Kalimantan Selatan, dapat juga mengeluarkan Surat edaran serupa, sehingga meningkatkan kesadaran kepemilikan, operasional EPIRB dan upaya peningkatan keselamatan jiwa di lautan," paparnya.

Baca juga: Kapal Nelayan Tenggelam di Perairan Kumai Kalteng, Basarnas Terima Laporan Sehari Setelah Kejadian

Dalam sosialisasi yang menghadirkan KSOP sebagai narasumber,  Anggit juga meminta agar menggunakan perangkat radio beacon hanya pada saat emergensi, terus mengupdate bila terdapat perubahan data, mengecek kondisi baterai, memastikan nomor kontak darurat, atau melakukan penggantian HEXA-ID pada perangkat yang dimiliki dan atau dioperasikan. 

"Terpenting, kami mengingatkan digunakan untuk agar perangkat beacon yang tidak lagi digunakan untuk disimpan dengan baik dengan mencabut konektornya dulu, sehingga tidak dibuang atau ditaruh sembarangan," tambahnya.(Banjarmasinpost.co.id/Milna Sari)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved