Breaking News:

Opini Publik

Pentingnya Memuliakan Nabi

Semua nabi dan rasul sangat dimuliakan oleh Allah swt, manusia jangan menghina dalam bentuk apa pun dan kepada nabi mana pun

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Ahmad Barjie B, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebuah berita media online yang cukup viral minggu ini adalah tewasnya Lars Vilksen, kartunis Swedia yang rajin menghina Nabi Muhammad saw lewat kartunnya. Ia tewas mengenaskan pada kecelakaan mobil di Markaryd Stockholm Swedia bersama dua polisi yang mengawalnya. Sejak 2007 Vilksen memang selalu dikawal polisi, sebab dikhawatirkan ada kalangan yang ingin mencelakainya. Akhirnya ia tewas juga, yang menurut polisi akibat kecelakaan lalulintas biasa.

Semua nabi dan rasul sangat dimuliakan oleh Allah swt, dan karenanya manusia jangan menghina dalam bentuk apa pun dan kepada nabi mana pun. Itu sebabnya umat Islam sangat memuliakan semua nabi dan tidak pernah menghina mereka. Dalam Alquran Allah saw sering menyampaikan salam kemuliaan kepada para nabinya, seperti Ibrahim, Musa, Harun, Ilyas, Yahya, Isa dll. Bahkan saking mulianya, Allah swt bersama malaikat berselawat kepada Nabi Muhammad saw, dan menyuruh orang-orang beriman bershalawat kepada beliau. Selawat sekali dibalas 10 kali kebaikan berupa rahmat dan ampunan. Kalau salat, puasa, zakat, haji dan lainnya ada yang diterima dan tertolak karena sembarangan, tidak khusyu, terlanggar larangan, riya, tidak mabrur dan sebagainya, shalawat satu-satunya ibadah yang selalu diterima Allah swt.

Hubungan Darah
Meski Nabi Muhammad saw sangat mulia dan terpuji akhlaknya, beliau tidak sepi dari celaan, cemoohan, hujatan dan permusuhan dari orang-orang yang menolak risalahnya. Tak sekadar gangguan lisan, beliau dan pengikutnya juga menghadapi tekanan, siksaan dan ancaman pembunuhan. Memang sejak diutusnya para nabi dan rasul, hampir semuanya menghadapi tantangan berat, baik dari orang-orang terdekat (keluarga), maupun yang jauh.

Di antara tantangan dakwah Nabi Muhammad saw datang dari keluarga dekatnya sendiri. Sebelum diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun, beliau berusaha menjalin hubungan kekeluargaan yang lebih erat dengan pamannya Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Dua putrinya, Ruqayah dan Ummi Qultsum, dikawinkan dengan dua anak Abu Lahab, yaitu Uthbah dan Uthaibah. Namun ketika beliau menjadi Rasul, hubungan kekeluargaan itu rusak.

Saat Rasulullah mengumpulkan sejumlah keluarga dekat (Bani Hasyim) di bukit Shafa guna membujuk mereka beriman, sebagian kecil menerima, sebagian besar abstein, dan ada yang menolak mentah-mentah disertai sikap permusuhan. Ali bin Abi Thalib yang masih kanak-kanak menerima tanpa ragu. Abu Thalib sebagai paman yang mengasuh Muhammad saw sejak kecil bersikap abstein, tidak menerima namun tetap mendukung dakwah Nabi.

Abu Lahab sebagai paman menolak dengan keras dan kasar. Ia sangat marah karena kemenakannya yang dibanggakan, justru membawa agama baru yang akan menghapus kepercayaan nenek moyang. Sikap Abu Lahab itu menjadi sababun-nuzul surah al-Lahab, yang menegaskan bahwa ia dan istrinya kelak masuk neraka, dan tidak ada gunanya kekayaan milikinya (ia kerabat nabi terkaya) yang selama ini diusahakannya.

Mendengar dirinya akan masuk neraka, Abu Lahab bukannya takut dan sadar, malah semakin memusuhi Nabi saw. Ia suruh kedua anaknya menceraikan putri-putri Muhammad. Seorang putranya bercerai secara baik-baik, namun seorang lagi menceraikan disertai kata-kata kasar.

Nabi meyakini akan ada hal buruk akibat sikap kasar tersebut, yaitu ada serigala atau singa yang akan memangsanya. Setengah percaya dan tidak, Abu Lahab terpaksa lebih proaktif menjaga keselamatan anaknya. Ketika kafilah dagangnya pergi ke Syam, putra Abu Lahab tersebut diterkam seekor singa, padahal para karyawan sudah berusaha melindungi. Anehnya yang diterkam singa hanya anak Abu Lahab, sedangkan yang lain hewan buas itu tidak berselera.

Saking memusuhi kemenakannya, Abu Lahab juga terlibat dan mendukung pasukan dan logistik pihak kufar Quraisy dalam Perang Badr, dan setelah kalah ia sakit dan mati karena stres berat.

Belakangan seorang putranya masuk Islam, namun tidak bisa rujuk kepada istrinya terdahulu, sebab kedua putri Nabi, Ruqayah dan Ummi Qultsum sudah diperistri oleh Utsman bin Affan secara turun ranjang.

Hancur Lebur
Di samping keluarga dekat, kalangan yang jauh juga banyak yang memusuhi Nabi. Saat Nabi saw mengirim surat-surat dakwah, sikap yang sama juga beliau alami seperti keluarganya. Ada yang menerima, ada yang abstein dan ada yang menolak keras. Yang menerima diantaranya Negus Najasi, Raja Habsyi. Yang abstain alias pikir-pikir adalah Kaisar Romawi Heraklius dan gubernurnya di Mesir, Mukaukis. Kedua penguasa ini, berdasarkan kajian dan nubuwah kitab-kitab suci terdahulu, yakin akan kebenaran kerasulan Muhammad sebagai nabi akhir zaman. Namun karena pertimbangan politik dan kekuasaan, mereka enggan masuk Islam, sambil tetap menaruh hormat dan simpati. Mukaukis mengirim sejumlah hadiah berharga dan dua wanita budak, salah satunya Mariah al-Qibtiyah kemudian diperistri Nabi dan sempat melahirkan anak, Ibrahim, yang wafat saat kecil.

Pihak yang menolak keras adalah Kisra Chusro II penguasa Persia dari Dinasti Sasanid. Tanpa pikir panjang ia langsung merobek surat dakwah dari Nabi Muhammad, seraya menugaskan gubernurnya di Yaman, Bazan, agar menyerang Madinah. Menyikapi penolakan dan permusuhan ini Nabi saw menyatakan, kelak Allah akan menghancurkan Kerajaan Persia, seperti sang raja merobek-robek surat beliau. Pernyataan Nabi saw ini terbukti kemudian, di masa Khalifah Umar bin Khattab, panglima tentara Islam Saad bin Abi Waqqash berhasil menaklukkan Persia.

Kisah di atas menunjukkan, siapa pun yang menentang dan memusuhi Rasulullah, keluarga dekat maupun pihak yang jauh, di masa lalu atau sekarang, cepat atau lambat pasti akan hancur dan celaka.

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dan dakwahnya yang tidak memaksa, mungkin saja ditolak karena tidak ada hidayah Allah. Namun yang penting Nabi saw dan para ulama sebagai pewarisnya, Islam dan Al-Qur'an sebagai ajarannya jangan dihina, direndahkan, dilecehkan dan dimusuhi. Kalau ini yang terjadi, semua akan berujung pada kehancuran. Bila datang kebenaran, akan hancur kebatilan, sesungguhnya kebatilan pasti akan sirna. Selain Lars Vilksen sudah banyak penghina nabi yang bernasib sama atau hidup dalam ketakutan. Wallahu A’lam. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved