Berita HST

Air Sungai di HST Sering Keruh Jika Hujan Deras, Dinas PU Sebut Butuh Dana Besar untuk Penyiringan

Sejak banjir bandang Januari 2021 lalu, kondisi air sungai baik di bagian hulu Sungai Hantakan dan Sungai Benawa hingga Sungai Barabai selalu keruh

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
Dok BPost
Kondisi sungai yang selalu keruh jika terjadi hujan deras di wilayah hulu Pegungan Meratus di Kecamatan Hantakan, HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sejak banjir bandang Januari 2021 lalu, kondisi air sungai baik di bagian hulu Sungai Hantakan dan Sungai Benawa hingga Sungai Barabai selalu keruh jika terjadi hujan deras.

Kondisi itupun sering memengaruhi kualitas produksi air bersih PDAM.

Hal tersebut menjadi pertanyaan tokoh masyarakat Barabai, H. Tatam saat rapat dengan pendapat dengan Komisi III DPRD HST, Rabu lalu.

Rapat yang dihadiri Kepala Dinas PU, Kepala Dinas Pertanian dan dari Bappelitbangda tersebut, juga dihadiri sejumlah tokoh adat dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel.

Baca juga: VIDEO Penjelasan PDAM Barabai Kabupaten HST tentang AIr Keruh Dikeluhkan Pelanggan

Baca juga: Uniknya Wisata Kalsel Gua Limbuhang HST, Tetap Jernih Saat Sungai Benawa Keruh, Begini Penampakannya

Baca juga: Sungai Loksado HSS Keruh, Tak Pengaruhi Kunjungan Wisatawan, Bamboo Rafting Tetap Ramai

“Kami ingin mengetahu sejauh mana pemerintah mengatasi masalah tersebut, agar air sungai kita kembali bersih seperti sebelum banjir bandang,”kata H Tatam.

Menjawab pertanyaan tersebut, Kepala Dinas PUPR HST Muhammda Zaid menjelaskan, saat ini di wilayah atas pegunungan Meratus masih terjadi longsor.

Fakta di wilayah atas kata Zaid, sebagian pegunungan tersebut terlihat sudah terbuka atau gundul.

“Saya tak mengatakan terjadi pembalakan liar hutan. Sebab, itu bukan ramah kami menjelaskan. Yang pasti bisa dilihat emang ada lahan bagian pegunungan yang sudah terbuka,”katanya.

Dijelaskan, daerah atas pegunungan yang masih longsor, membuat sungai keruh sampai ke sungai Barabai.

Salah satu solusi, longsor di dinding sungai menurutnya harus ditanami pohon-pohon pehanan air.

Selain itu, bisa diatas dengan melakukan penyiringan di wilayah atas tersebut. Sebab, daerah atas tebing sungai yang longsor berbatasan langsung dengan sungai.

“Tapi ini memerlukan biaya yang sangat besar. Berat bagi APBD HST menyelesaikannya dan hanya bisa dilakukan bertahap. Kami akan sampaikan ke Balai Sungai di Banjarmasin. Sepanjang tak tertangani, endapan lumpur akan terus terjadi,”kata Zaid.

DIsebutkan, selama ini yang mampu dlakukan Dinas PU hanya menangani jalan yang longsor di beberapa titik pasca banjir.

Sementara itu, Ketua AMAN HST Rubi menyatakan, selama ini warga adat sering dituduh biang rusaknya hutan. Padahal mereka suah memperlakukan alam dengan segala kearifan lokalnya.

Tiap tahun warga berladang, dengan ketentuan hukum adat.

“Kami tahu mana pohon yang tak boleh ditebang, mana yang boleh digunakan sebatas konsumsi,”kata Rubi.

Menurut Rubi, memang ada pihak lain yang memanfaatkan tradisi warga adat membuka lahan.

Baca juga: Diguyur Hujan Deras, Sungai di HST Kembali Keruh, Wilayah Hulu Meratus Dilaporkan Masih Aman

Mereka menyusup, berdalih membuka lahan dengan menebangi pohon yang tak boleh ditebang berdalih urusan perut. Namun tak sesuai dengan aturan adat.

“Untuk menjaga hutan, sebenarnya kami AMAN HST sudah 8 tahun berjuang agar Kawasan hutan Kelola dan hutan lindung Pemkab dan DPRD HST melalui Perda. Ini akan memperkuat kami dalam mempertahankan kearifan local dan menjaga kelerstarian Meratus,”kata Rubi. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved