Breaking News:

Fikrah

Aku Sudah Melihat Tuhan Kendati Buta

Wahai manusia berbahagialah kita yang diciptakan Allah SWT, diberikannya penglihatan, pendengaran dan akal

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG penduduk Jakarta bernama Abu Abdillah. Ia ingin pulang ke desanya di Jawa Timur dalam rangka berlebaran. Ia menggunakan kendaraan pribadinya dan ia setir sendiri. Dalam perjalanan itu ia singgah di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, karena hari sudah senja dan sebentar lagi malam akan tiba. Dia pun singgah di sebuah penginapan kecil dan memesan sebuah kamar. Badannya terasa capai sekali, ia pun mencari tempat pijat di hotel itu. Ternyata ada tempat pijat dengan tukang pijatnya seorang pemuda tunanetra. Abu Abdillah minta dipijat oleh tunanetra itu.

Sewaktu ia mulai memijat, Abu Abdillah bertanya, “Nama kamu siapa?” Tunanetra itu menjawab, “Tamam”. Abu Abdillah bertanya lagi, “Sudah berapa lama kamu bekerja di penginapan ini sebagai tukang pijat?” Tamam menjawab, “Sudah 4 sampai 5 tahun”. “Sebelumnya bekerja dimana?” tanya Abu Abdillah. Tamam menjawab “Di bengkel las.” Mendengar hal itu, Abu Abdillah berkata, “Kalau begitu dahulu kamu tidak buta?” Tamam menjawab; “Ya, betul dulu saya tidak buta.”

Abu Abdillah bertanya lagi, “Kenapa kamu sampai buta? Bagaimana ceritanya? Boleh saya tahu?” Tamam pun memulai ceritanya. Katanya, “Sewaktu saya masih SMP, ayah saya meninggal dunia. Ibu saya tidak bisa mencari uang seperti orang, sehingga kami kekurangan makan. Saya punya adik 2 orang yang masih sekolah SD. Aku memutuskan berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Ketemulah pekerjaan dibengkel las, karena aku juga tidak mempunyai keahlian apa-apa. Aku bekerja setiap hari dan setiap bulan mendapatkan uang untuk kami makan 4 orang kendati dicukup cukupkan.”

Taman melanjutkan ceritanya. “Pada suatu hari aku bekerja seperti biasa. Rupanya aku lengah, ketika aku mengelas tutup mataku terbuka. Api las itu memercik ke kedua mataku. Pedih sekali mataku tertutup. Aku dibawa ke dokter mata. Setelah mataku diperiksa, dokter mata mengatakan kedua mataku harus dioprasi, dan ternyata biayanya mahal sekali diluar kemampuanku untuk membayarnya.”

Aku bertanya: “Bisakah mataku diobati saja.” Dokter menjawab, “Ya boleh kita coba.” Kedua mataku diperban dan aku dibawa pulang ke rumah. Tetapi setelah hari malam aku tidak bisa tertidur. Rupanya kelopak mataku bengkak. Aku tidak bisa tidur. Besoknya aku minta bawa lagi kedokter mata yang kemarin. Dengan jaminan pemilik bengkel, aku bisa dioprasi, nanti biaya oprasi bisa aku bayar setelah aku bekerja kembali. Mataku pun dioprasi, keduanya diperban, dikatakan beberapa hari lamanya.

Setelah sampai waktunya aku ke dokter lagi dan perban mataku dibuka, aku gembira sekali karena aku akan melihat lagi. Tetapi setelah perban mata habis dilepas, aku membuka mata. Ternyata aku tidak melihat apa-apa. Aku berteriak, aku buta aku buta. Aku menangis sejadi-jadinya, dan ibuku pun ikut menangis beserta adik-adik ku. Kami tidak tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku berteriak di dalam hati, “Tuhan, mengapa kau timpakan musibah ini kepada ku yang miskin. Kau kan tahu wahai Tuhan aku harus bekerja mencari uang, siapa yang akan mencari uang untuk kami makan dan membayar sewa rumah.”

Selama beberapa bulan kami tidak bisa membayar sewa rumah, pemilik rumah mengancam bahwa apabila tidak membayar juga kami akan diusir. Atas saran seorang keluarga, aku dibawa ke Surabaya untuk belajar memijat. Akupun belajar memijat dengan sabar dan setelah selesai, oleh guruku aku dinyatakan lulus. Guruku yang bernama Ahmad itu berkata, “Wahai Tamam, bagaimana pendapatmu tentang Tuhan?” Tamam menjawab, “Tuhan itu kejam.” Guruku Ahmad berkata lagi, “Kau jangan berkata begitu. Wahai Tamam dalam cobaan yang ditimpakannya kepada kita, terdapat kasih sayangnya asal kita bisa merasakannya, kau Tamam adalah orang beruntung. Setidak-tidaknya lebih beruntung dari pada aku. Kau sudah pernah meliat wajah ibuku. Sedangkan aku tidak pernah. Kau sudah pernah menikmati keindahan bunga, sedang aku indahnya bunga hanya aku cium lewat harum baunya. Kau sudah pernah melihat matahari, sedang aku tahu matahari hanya lewat rasa panas yang menerpa wajah ku, aku tahu indahnya rembulan lewat angin sepoi-sepoi basah di malam hari.”

Mendengar hal itu Tamam bertanya, “Kenapa wahai guruku?” Tahukah wahai Tamam, “Aku sejak dilahirkan sudah tidak bisa melihat, karena aku buta sejak dilahirkan.” Mendengar hal itu Tamam lalu beristighfar. Lalu ia mencari pekerjaan dan mendapatkan dan mendapatkan pekerjaan di penginapan itu tadi. Ia mendapatkan uang yang cukup banyak lebih banyak dari pada ia bekerja sebagai tukang las, ia sudah bisa membuatkan rumah untuk ibu dan adik-adiknya sehingga tidak menyewa lagi dan adik-adiknya bisa bersekolah dengan baik. Inilah dia si Tamam yang merasa dapat melihat Tuhan dan merasakan Rahmat nya kendati ia buta.

Wahai manusia berbahagialah kita yang diciptakan Allah SWT, diberikannya penglihatan, pendengaran dan akal. Banyak manusia yang tidak bersyukur kepada Allah SWT. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved