Tajuk

Jangan Senang Dulu

Selama vaksin masih jadi solusi utama, maka menjaga prokes adalah kunci agar terhindar dari pandemi ini

Editor: Eka Dinayanti

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kota Banjarmasin ditetapkan oleh pemerintah pusat masuk dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

Kota Seribu Sungai menjadi satu-satunya kota di Kalsel yang masih berada dalam situasi tersebut. Penetapan tersebut sempat memantik reaksi Wali Kota Ibnu Sina.

Ibnu ‘protes’ karena berdasarkan fakta dan data, menurutnya Kota Banjarmasin bukan berada di level 4.

Kementerian Koordinator Perekonomian (Kemenko Perekonomian) sebagai salah satu kementerian yang terlibat langsung dalam penanganan pandemic Covid-19 pun memberikan klarifikasi.

Disebutkan bahwa situasi Kota Banjarmasin hinggal tanggal 5 Okotber 2021 sebenarnya berada di level 3. Namun, untuk mendorong perbaikan situasi maka ditetapkan menjadi level 4.

Terlepas dari kontroversi penetapan status situasi dan kondisi Kota Banjarmasin tersebut, faktanya memang jumlah pasien Covid-19 di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin telah jauh menurun.

Sepekan terakhir, sudah tidak ada lagi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit milik Pemko Banjarmasin tersebut.

Kondisi serupa juga terjadi di fasilitas layanan khusus Covid-19 di Kabupaten Tanahlaut. Per Kamis 7 Oktober 2021, sudah tidak ada lagi pasien Covid-19 yang dirawat di sana.

Data terakhir, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di sana sebanyak 21 orang.

Lantas, indikasi kosongnya pusat layanan dan perawatan bagi pasien Covid-19 itu bisa menjadi acuan terjadi penurunan kasus Corona? Mungkin saja demikian.

Namun, patut diingat bahwa masih ada kemungkinan orang yang terpapar virus Covid-19 tidak melaporkan diri dan minta dirawat di sana atau memilih karantina mandiri di rumah.

Jumlahnya siapa yang tahu, karena tidak ada data yang pasti dan keengganan melapor.

Penurunan angka pasien dirawat di fasilitas kesehatan, bahkan cenderung nihil ini justru harus dijadikan pijakan karena ada beberapa hal yang kemungkinan besar kembali berulang.

Wabah Covid-19 sudah berjalan lebih satu tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Indonesia sudah mengalami dua kali gelombang serangan Covid-19.

Kedua gelombang serangan itu tampaknya sudah bisa dilalui dengan grafik angka penambahan kasus Covid-19 yang cenderung melandai.

Namun, patut digarisbawahi bahwa masih tiada jaminan tidak ada serangan gelombang ketiga. Bisa jadi, gelombang ketiga kasus Covid-19 adalah sebuah keniscayaan.

Sebab, jelang 2 tahun wabah ini, masih belum ditemukan obat untuk menangkal virus Corona.
Oleh karena itu, selama tidak ada obatnya, selama vaksin masih jadi solusi utama, maka menjaga prokes adalah kunci agar terhindar dari pandemi ini.

Angka data yang dibeberkan oleh pemerintah hanyalah di atas kertas. Secara realita, harus individu sendiri yang terlibat untuk menekan penyebaran Covid-19. Jangan senang dulu jika rumah sakit nihil pasien. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved