Breaking News:

Berita HST

Petani Cabe Tiung di Rantau Keminting HST Hadapi Hama Busuk Buah

Petani cabe tiung di Desa Rantau Keminting, Kecamatan Labuanamas Utara, HST kini menghadapi serangan penyakit busuk buah (antraksnosa)

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/hanani
Para petani memanen cabe tiung di kebun mereka, di Desa Rantau Keminting, Kecamatan Labuanamas Utara, Hulu Sungai Tengah, Jumat (10/10/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Petani cabe tiung di Desa Rantau Keminting, Kecamatan Labuanamas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) kini menghadapi serangan penyakit busuk buah (antraksnosa).

Sebagian buah cabe membusuk sehingga terpaksa dibuang setelah panen melalui proses sortir sebelum dijual ke pedagang pengumpul.  

Saibatul Hamdi, salah satu petani cabe tiung mengatakan, serangan penyakit tersebut terjadi disaat cabai mulai matang.

“Sudah disemprot tapi belum bisa hilang. Untungnya hanya sekitar 30 persenan yang rusak. Tapi ini cukup menimbulkan kerugian karena hasil panen tak maksimal,”ungkapnya ditemui banjarmasinpost.co.id,  Jumat 8 Oktober 2021 kemarin.

Baca juga: Harga Cabe Rawit di Pelaihari Masih Capai Rp 130 Ribu, Begini Ketersediaannya

Baca juga: Terdampak Banjir, Cabe Rawit Lokal di Batola Capai 130 Ribu per Kilo

Baca juga: Dapoer Everywhere : Resep Ikan Nila Bakar Cabe Ijo

Saibatul sendiri mengatakan bertani cabe sudah  beberapa tahun. Tetapi, Baru kali ini mengalami serangan penyakit ini. Pohon cabenya ditanam sebelum banjir bandang Januari 2021 lalu.

Diapun sempat merasakan ‘pedasnya’ harga cabe pasca banjir dengan harga tertinggi Ro 115 ribu per kilogram.

“Sekarang harga perkilogram cuma Rp 16 ribu, dengan hasil panen per minggu rata-rata 100 kilogram. Sebelumnya sempat anjlok Rp 13.000 per kilogram,”katanya.

Diakui, awal merintis usaha kebun cabe tiung, dia memberanikan diri meminjam modal senilai Rp 50 juta melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Meski sudah berhasil melunasi pinjalan tersebut, Saibatul mengatakan masih sulit mengembangkan usaha pertaniannya tersebut karena harga yang kembali menurun.

“Saya bisa melunasi utang KUR di saat harga cabe di atas Rp 100 ribu,”katanya.

Selain itu, usaha kebun cabe juga memberdayakan banyak warga desa yang mengambil  jasa memetik cabe dengan upah Rp 35 ribu per orang.

Pemetik diberi upah tersebut dengan jam kerja sejak pukul 07.00 pagi hingga berhenti saat waktu zuhur. Petani cabe setempat menjual hasil panen mereka melalui pedagang pengumpul.

Baca juga: VIDEO : Nugget Ayam Cabe Garam, Paktis dan Gurih, Ini Daftar Bahan Lengkap dengan Cara Membuat

Dijelaskan, saat ini cukup banyak petani di desa tersebut yang menanam cabe tiung ketimbang bercocok tanam padi karena harga per kilogramnya lebih baik ketimbang harga gabah yang sering anjlok.

Selain itu, perawatan kebun cabe tidak begitu sulit. “Sekarang harganya menurun karena informasi yang kami peroleh, ada cabe dari provinsi lain yang masuk ke Kalsel, yaitu dari Sulawesi,”kata Saibatul.  (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved