Breaking News:

Berita Banjarbaru

Dinas PPPA Kalsel Catat Kenaikan Prostitusi Online Selama Pandemi Covid-19

Selama pandemi Covid-19 kekerasan seksual terhadap perempuan meningkat. Khususnya kekerasan seksual di media sosial.

Penulis: Milna Sari | Editor: Syaiful Akhyar
banjarmasinpost.co.id/Milna Sari
Satpol PP mengeluh prostitusi online ke Dinas PPPA Kalsel 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Selama pandemi Covid-19 kekerasan seksual terhadap perempuan meningkat. Khususnya kekerasan seksual di media sosial.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kalimantan Selatan (Kalsel), Husnul Hatimah Senin (11/10/2021) dalam sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak di ranah publik mengatakan pelecehan seksual di ranah publik semakin meningkat selama pandemi.

Ranah publik ini jelasnya mulai dari sekolah, tempat umum hingga media sosial yang menjadi konsumsi publik.

Selama pandemi, kasus prostitusi online terangnya juga ikut naik. Hal itu menurutnya perlu ditindak tegas dari satpol PP kabupaten Kota dan pelacakan dari kepolisian.

Baca juga: Dukung Wisata Susur Rawa Swargaloka, Dermaga Kapal di Desa Pulantani Direncanakan Diperluas

Baca juga: Kalsel Dipasok 97.110 Vaksin Pfizer, Hari Ini Tiba di Bandara Syamsudin Noor

Baca juga: Vaksin Bagi Jemah Umrah Masih Belum Ditentukan, KKP Tunggu Aturan dari Kemenkes RI

Pada poros Jalan A Yani dari Kabupaten Tapin hingga Tabalong ungkap Husnul sering terlihat warung jablai.

"Kami berharap UPTD perlindungan perempuan dan anak ini bisa segera dibentuk di semua kabupaten kota agar ada pendampingan baik bagi pelaku maupun korban pelecehan. Mereka harus dibina menjadi lebih baik," katanya.

Menurut data simfoni PPA tahun 2021, hingga Agustus 2021 terjadi 126 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalsel. Sedangkan, sampai bulan September 2021 terjadi peningkatan menjadi 186 kasus, yang didominasi kekerasan terhadap perempuan.

Naiknya kasus kekerasan tersebut mendorong pemerintah menjaring partisipasi aktif stakeholder untuk bersinergi melindungi perempuan dan anak.

Menurut Husnul, hingga kini perempuan masih dikategorikan sebagai kelompok rentan karena mengakarnya budaya patriarki, yang menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rendah dari laki-laki hampir di segala aspek kehidupan.

“Apalagi, dampak luar biasa pandemi COVID-19 memperparah kesenjangan gender antara perempuan dan laki-laki,” kata Husnul.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved